Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 19:1 Amsal 19:2 Amsal 19:3 Amsal 19:4 Amsal 19:5 Amsal 19:6 Amsal 19:7 Amsal 19:8 Amsal 19:9 Amsal 19:10 Amsal 19:11 Amsal 19:12 Amsal 19:13 Amsal 19:14 Amsal 19:15 Amsal 19:16 Amsal 19:17 Amsal 19:18 Amsal 19:19 Amsal 19:20 Amsal 19:21 Amsal 19:22 Amsal 19:23 Amsal 19:24 Amsal 19:25 Amsal 19:26 Amsal 19:27 Amsal 19:28 Amsal 19:29



Amsal 19:28 (IDN)
Ayat ini muncul dalam kumpulan nasihat Peteri, yang menegaskan pentingnya integritas lidah dan perilaku yang konsisten dengan kebenaran. Dalam konteks prosa kebijakan hikmat, pelaku fasik yang memberi kesaksian melanggar hukum dan menimbulkan kehancuran bagi diri sendiri serta komunitas. Ayat ini menyoroti bahaya mulut yang tidak sejalan dengan kebenaran dan dampak merusaknya pada pembentukan kepercayaan serta ketertiban sosial.
Makna utama
Inti ayat ini adalah bahwa seseorang yang fasik (berbuat jahat) memberikan kesaksian atau bersaksi, maka ia menistakan hukum dan merusak standar keadilan. Ketika mulut orang jahat menelan kejahatan, hal itu menunjukkan bahwa mereka menutupi kecurangan dengan kebohongan, sehingga hukum pun dipicu untuk dievaluasi melalui lensa keberegian mereka. Frasa “menghinakan hukum” menekankan bahwa kejahatan tidak hanya terjadi dalam tindakan, tetapi juga dalam pernyataan yang menyangkal kebenaran dan menolak keadilan.
Tiga tema utama
Rujukan terkait
Penjelasan singkat: Ketepatan perkataan adalah cerminan hati; ketika hati terlarut dalam kediktatoran kejahatan, kesaksian pun berubah menjadi alat menghancurkan keadilan.
Tafsir ringkas
Beberapa penafsir kebijakan kuno menekankan bahwa byword pada ayat ini adalah perlunya menjaga mulut agar tidak menjadi alat kejahatan. Matthew Henry menyoroti bahwa kesaksian fasik bukan sekadar bohong, melainkan menyeret hukum ke dalam kebusukan. Albert Barnes menambahkan bahwa pernyataan palsu merusak fondasi keadilan, dan Adam Clarke menekankan bahwa orang fasik tidak dapat menjaga integritas saat bersaksi karena hati mereka yang penuh kedurhakaan. Secara gabungan, ayat ini mendorong pembaruan hati yang tercermin dalam perkataan yang jujur dan adil.
Perenungan praktis
Ringkasan penutup
Ayat ini mengingatkan bahwa keadilan Allah tidak bisa ditegakkan jika saksi-saksi bertindak dengan kedurhakaan. Integritas lidah adalah bagian penting dari hidup saleh. Ketika kita memilih kebenaran meski bertentangan dengan kepentingan pribadi, kita diperdamaikan kembali dengan Tuhan dan menegakkan hukum-Nya di tengah komunitas.
Kutipan singkat yang relevan dari tafsiran historis: "Kesaksian palsu menghapuskan hukum, dan mulut yang jahat menelan kejahatan." (parafrase dari interpretasi para tokoh tua seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke secara umum dalam ajaran mereka; tidak ada kutipan verbatim panjang di ayat ini).