Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 19:1 Amsal 19:2 Amsal 19:3 Amsal 19:4 Amsal 19:5 Amsal 19:6 Amsal 19:7 Amsal 19:8 Amsal 19:9 Amsal 19:10 Amsal 19:11 Amsal 19:12 Amsal 19:13 Amsal 19:14 Amsal 19:15 Amsal 19:16 Amsal 19:17 Amsal 19:18 Amsal 19:19 Amsal 19:20 Amsal 19:21 Amsal 19:22 Amsal 19:23 Amsal 19:24 Amsal 19:25 Amsal 19:26 Amsal 19:27 Amsal 19:28 Amsal 19:29



Amsal 19:15 (IDN): “Malas mendatangkan tidur lelap; dan seorang yang lalai merasai lapar kelak.”
Inti interpretatif: Kemalasan menimbulkan konsekuensi nyata bagi hidup sehari-hari. Ketika ketekunan dicabut, kebutuhan fisik maupun rohani tidak terpenuhi, dan akibatnya menimbulkan kemalangan yang mengekspresikan diri melalui rasa kantuk yang terus-menerus dan kelaparan yang meresap. Ayat ini menegaskan hubungan antara disiplin diri, tanggung jawab, dan berkat yang mengikuti kerja keras yang bijak.
konteks sastra dan alih bahasa
Ayat ini berada dalam kumpulan nasihat di Amsal, bagian yang menekankan bagaimana kebiasaan dan pola hidup membentuk hasil akhir kehidupan. Perhatikan ritme klausa “malas mendatangkan tidur lelap” yang menyiratkan kedalaman kemalasan sebagai keadaan tertidur dari pekerjaan dan tujuan, bukan hanya kantuk biasa. Sementara itu, “lalai merasai lapar kelak” menekankan konsekuensi praktis—ketiadaan persiapan akan menimbulkan rasa lapar, baik secara fisik maupun kebutuhan rohani yang terabaikan.
pembacaan teologis dan praktis
Secara teologis, nasihat ini menyoroti tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang dipanggil untuk bekerja dengan itikad baik. Tuhan memberi kondisi dunia agar manusia mengelolanya dengan kebijaksanaan. Kemalasan adalah jawaban yang menyalahi panggilan tersebut; iman tidak cukup jika tidak disertai tindakan. Secara praktis, ayat ini menggariskan dua sisi hasil: kelelahan akibat kerja yang tidak selesai dan kelaparan karena kesempatan terlewat. Keduanya mengundang kita untuk mengevaluasi disiplin waktu, prioritas, dan komitmen terhadap tugas yang dipercayakan Tuhan.
pandangan para komentator klasik (ringkas)
Para komentator biblis klasik menekankan bahwa kemalasan tidak hanya mengakibatkan kekurangan bahan makanan, tetapi merenggut keamanan dan kedamaian. Mereka menyoroti bahwa kebiasaan menunda pekerjaan mengalirkan konsekuensi yang terasa jauh lebih keras daripada sekadar rasa lapar sesaat. Dalam bingkai ini, kemalasan dianggap sebagai dosa praktis yang menuntut perubahan pola hidup.
hubungan Alkitabiah
Berikut beberapa silang rujukan yang relevan: - Amsal 12:24: Kemauan yang tekun membawa kemajuan; kemalasan menghambat kerja keras. Penekanan pada hubungan antara kerja tekun dan kemajuan hidup. - Amsal 6:9-11: Peringatan tentang menunda-nunda dan kenyataan bahwa kelambanan membawa kekurangan dan penyesalan di kemudian hari. - 2 Thessalonian 3:10: Prinsip bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bukan hidup bergantung pada belas kasihan orang lain.
Penjelasan singkat tentang koneksi: Semua rujukan tersebut memperlihatkan pola bahwa tindakan nyata dan disiplin diri mengarah pada keberlanjutan hidup, sedangkan kelalaian menimbulkan konsekuensi yang dapat dirasakan secara praktis maupun rohaniah.
pertanyaan reflektif
kesimpulan singkat
Ayat ini menegaskan bahwa hidup yang bijak menuntut disiplin. Malas menghasilkan tidur lelap yang meredam tujuan, sementara kelalaian menimbulkan kelaparan di kemudian hari. Panggilan bagi pembaca adalah memilih kerja yang bertanggung jawab, membangun kebiasaan yang menumbuhkan kemakmuran rohani dan jasmani, dan mengandalkan hikmat Tuhan dalam mengatur waktu serta usaha.
Catatan kutipan para komentator klasik (singkat):
"Malas mendatangkan tidur lelap" dan "lalai merasai lapar kelak" merefleksikan prinsip praktis tentang akibat tindakan—atau kegagalan tindakan—yang berakar pada kebijaksanaan atau ketidaktaatan terhadap panggilan hidup dalam kitab Amsal. Kutipan lengkap Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke tidak disajikan di sini secara panjang, tetapi nuansa mereka tercermin dalam penekanan atas kerja keras sebagai bagian dari kebijakan hidup yang benar.