Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiHabakuk 3:6 Tafsiran ayat Alkitab
Habakuk 3:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Di tempat Ia berdiri gempalah bumi, ke mana Ia memandang dicerai-beraikannya segala bangsa, dan segala gunung yang kekalpun berbelah-belah dan segala bukit dari purbakalapun tenggelamlah; segala peredaran zamanpun Dia punya.
Habakuk 3:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Habakuk 3:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kejadian 49:26 (IDN) »
Adapun berkat bapamu itu melebihi segala berkat nenek moyangku sampai kepada segala kesedapan bukit yang kekal, ia itu akan turun kepada kepala Yusuf, kepada batu kepala dia, yang bermakota di antara segala kakak adiknya.

Nahum 1:5 (IDN) »
Bahwa segala gunung bergeraklah di hadapannya dan segala bukitpun goncanglah, dan gempalah bumi di hadapan hadirat-Nya, yaitu dunia dengan segala orang yang duduk dalamnya.

Ulangan 33:15 (IDN) »
Dan dengan barang yang terindah-indah dari dalam gunung yang tua-tua dan dengan barang yang terutama dari dalam bukit-bukit yang kekal.
Habakuk 3:6 – Mengguncang bumi dengan pandangan-Nya
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Allah adalah kekuatan yang melampaui perubahan dan kestabilan manusia. Ketika Habakuk berdoa untuk melihat keadilan Tuhan, ia mencatat bahwa ketika Allah berdiri, bumi gemetar, bangsa tercerai-berai, gunung-gunung berguncang, dan bukit-bukit runtuh. Ayat ini menguatkan keyakinan bahwa kedaulatan Allah meliputi seluruh ciptaan, termasuk struktur politik, geografi, dan zaman itu sendiri. Bagi pembaca masa kini, pesan ini menggeser fokus dari masalah manusia ke otoritas Ilahi yang tidak tergoyahkan, bahkan di tengah ketidakpastian sejarah.
Makna asli dan konteksnya
Habakuk hidup pada masa emosional antara ketidakadilan sosial dan keinginan membangun iman pada Tuhan. Dalam doa nyatakan keprihatinan mengenai kejahatan yang tampaknya tak terkendali, lalu ayat ini menegaskan bahwa kedudukan Allah di atas seluruh pakem manusia—pada saat-Nya, seluruh dunia merespons dengan dampak yang kuat. Frasa “Di tempat Ia berdiri” menekankan otoritas-Nya yang tetap, tidak tergoyahkan oleh pergolakan manusia. Gempalah bumi, pergeseran bangsa, pembelahan gunung dan tenggelamnya bukit menjorokkan kita pada gambaran kebesaran Allah yang berkuasa atas ruang dan waktu.
Pesan pokok
Inti ajaran ayat ini ialah kedaulatan Tuhan atas seluruh alam semesta. Meski umat-N Tuhan menghadapi kekacauan, Allah tetap berkuasa di atas segala perubahan; Dia memandang, mengadili, dan menegakkan kehendak-Nya. Ayat ini mengundang iman yang kokoh: percaya bahwa rencana-Nya tidak terbatas oleh keadaan duniawi, dan pada akhirnya, Dia akan mewujudkan keadilan-Nya pada waktunya.
Tema-teks pendukung dalam Alkitab
Referensi silang yang relevan
Penjelasan singkat: Ketiga referensi ini membantu pembaca melihat bagaimana kemuliaan Allah menata struktur duniawi—gunung, bangsa, dan periode—sebagai bagian dari rencana-Nya untuk menuntun umat kepada kebenaran dan pemulihan.
Refleksi rohani singkat
Ketika keadaan terasa tidak stabil, ayat ini menahan kita pada gambaran bahwa Tuhan tetap berdiri teguh. Bukan untuk menegaskan dominasi semata, melainkan untuk mengundang kita mempercayai hadir-Nya dalam setiap badai. Ketaatan bukanlah ketiadaan penderitaan, melainkan kesadaran bahwa Tuhan mengawasi jalannya sejarah. Seruan iman Habakuk mengajak kita merespons dengan puji-pujian dan keteguhan hati: meski segala sesuatu berguncang, Allah tetap menjadi pusat pengharapan kita.
Cuplikan pendapat tokoh komentar publik-domain
Iman-iman klasik menekankan bahwa Allah yang berkuasa atas gunung dan zaman adalah jaminan bagi umat-Nya. Sebagaimana Matthew Henry, meski konteks historis sangat berbeda, prinsip bahwa Allah berkuasa atas semua keadaan membawa pendalaman iman. Albert Barnes menekankan bahwa “Di tempat Ia berdiri” mengacu pada stabilitas moral dan keadilan-Nya, sedangkan Adam Clarke menonjolkan bahwa respon manusia terhadap otoritas Allah adalah ketaatan dan pengharapan.
Catatan: Kutipan singkat yang relevan dari tokoh-tokoh publik-domain yang ada antara lain menekankan bahwa Allah tetap berkuasa atas segala ciptaan dan tidak terbatas oleh keadaan dunia.