Imamat 10:19 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab

Maka ujar Harun kepada Musa: Bahwa sesungguhnya pada hari ini juga telah dipersembahkannya korbannya karena dosa dan korbannya bakaran di hadapan hadirat Tuhan, maka perkara yang demikian telah berlaku atasku, maka bolehkah pada hari ini aku makan korban karena dosa itu? Masakan ia itu baik kepada pemandangan Tuhan?

Ayat sebelumnya
« Imamat 10:18
Ayat berikutnya
Imamat 10:20 »

Imamat 10:19 Tafsiran ayat Alkitab

Mengapa Ayat ini penting

Imamat 10:19 menyoroti ketegangan antara ketaatan seremonial dan empati manusiawi Harun. Ketika Harun menyadari bahwa pada hari itu ia dan keluarganya telah mempersembahkan korban dosa dan bakaran di hadapan TUHAN, ia bertanya apakah boleh ia memakan korban karena dosa itu. Ayat ini menyajikan momen manusiawi seorang imam yang menghadapi konsekuensi ritual, sekaligus menyingkapkan bagaimana hukum korban dan tugas imam saling terkait dengan kasih dan tata tertib Tuhan.

Konteks asli

Peristiwa ini terjadi setelah kematian Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, yang melanggar tata cara penyembahan. Allah menegaskan perlunya ketetapan yang tegas bagi para imam dan umat dalam mempersembahkan korban. Pada saat itu, korban dosa dimakan hanya oleh orang yang mempersembahkannya menurut hukum tertentu; undang-undang itu bertujuan menjaga kemurnian ibadah dan menjaga jarak antara dosa dan persekutuan umat dengan Allah. Harun bertanya karena ia menganggap dirinya terikat pada konsekuensi ritual korban itu sendiri dan ingin menegaskan bagaimana perasaan manusiawi dalam menjalankan tugas suci.

Inti ajaran di sini adalah: pemahaman tentang batas antara peran imam dan kasih kepada sesama, serta ketaatan penuh terhadap tata cara ilahi. Allah menuntun umat-Nya dengan hukum yang tidak semata-mata menekan, melainkan mengarahkan agar ibadah tidak kehilangan kemanusiaan. Harun mengajarkan bahwa peristiwa yang menekankan perlunya kepatuhan tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan hati manusiawi—bahwa ada perasaan berat ketika hukum menantang bagaimana kita merasakan dosa dan tugas penitensi.

Beberapa tema relevan: pelaksanaan hukum Taurat dengan kedalaman kasih Allah; peran imam sebagai pengantar doa dan pemelihara suci-sehatnya ibadah; pentingnya menjaga hati saat melaksanakan upacara suci; dan arti korban sebagai lambang penebusan di bawah perjanjian Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa tindakan korban tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai hak atau kepuasan pribadi imam. Ada batasan regulasi yang menolong umat memahami bahwa ibadah tidak semata-mata soal ekspresi pribadi, melainkan ketaatan kepada tata ibadah yang telah Tuhan tetapkan. Respons Harun—menengahi pertanyaan tentang kehendak ilahi—menggarisbawahi bahwa Allah tetap mengutamakan kesetiaan kepada hukum-Nya sambil memperhatikan keadaan manusia yang hidup di bawahnya.

  • Kel. 29:28–29 — mekanisme pembagian bagian lezat korban bagi imam; menjelaskan hak imam dalam persembahan.
  • Imamat 7:6–7 — batasan di mana daging korban boleh dimakan dan siapa yang berhak memakan korban tertentu.
  • Luk. 18:9–14 — prinsip kerendahan hati di hadapan Allah; perbandingan antara percaya diri yang berlebihan dan ketundukan pada hukum-Nya.

Ayat ini mengajak pembaca untuk menimbang keseimbangan antara ketaatan ritual dan kepedulian terhadap kesejahteraan sesama. Dalam konteks kekristenan, kita bisa melihat bahwa ibadah yang benar memerlukan hati yang rendah, yakni ketaatan pada kehendak Allah, sambil tetap menjaga empati terhadap sesama yang juga terikat pada beban moral. Ketulusannya tidak mengurangi keagungan perintah Tuhan, melainkan memperdalam arti penyembahan.

Kutipan singkat dari sumber public-domain terkemuka yang relevan dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pemahaman, tanpa menggantikan tafsiran primer. (Catatan: kutipan lengkap dari Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke bisa disebutkan jika tersedia.)

Imamat 10:19 mengajarkan bahwa panggilan ke imam bukan hanya soal menjalankan ritual dengan tepat, tetapi juga soal menjaga kebajikan hati di dalam ketaatan. Allah menegaskan bahwa perintah-Nya mengarahkan umat kepada kehidupan yang benar, bahkan ketika manusia merasakan beban dan kebingungan terkait bagaimana melaksanakan korban yang telah dipersembahkan.

*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.

Imamat 10:19 Referensi silang ayat

Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Imamat 9:12 IDN Gambar ayat Alkitab yang berkaitan
Imamat 9:12 (IDN) »
Setelah itu maka disembelihkannya korban bakaran itu, maka darahnya dibawa oleh anak-anak Harun kepadanya, lalu dipercikkannya keliling kepada mezbah.

Imamat 9:8 IDN Gambar ayat Alkitab yang berkaitan
Imamat 9:8 (IDN) »
Maka Harunpun datanglah hampir kepada mezbah, lalu disembelihkannya lembu muda akan korban karena dosa dirinya sendiri.

Yeremia 6:20 IDN Gambar ayat Alkitab yang berkaitan
Yeremia 6:20 (IDN) »
Sebab itu apa guna dibawanya kepada-Ku kemenyan dari Syeba dan deringu yang terbaik dari negeri yang jauh? Bahwa akan korban bakaranmu tiada Aku berkenan dan korban sembelihanmu tiada sedap bagi-Ku.

IDN Pilih kitab dalam Alkitab