Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiZakharia 11:10 Tafsiran ayat Alkitab
Zakharia 11:10 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Lalu kuambil akan tongkatku Kasih itu, kupatahkan dia dan kurombak perjanjian yang telah kuadakan dengan segala bangsa.
Zakharia 11:10 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Zakharia 11:10 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Zakharia 11:7 (IDN) »
Lalu aku yang menggembalakan segala domba sembelihan ini, oleh karena mereka itu domba yang teraniaya adanya, maka sudah kuambil akan diriku tongkat gembala dua batang: sebatang Kunamai Kasih, dan sebatang Tambatan; lalu aku menggembalakan domba itu.

Mazmur 89:39 (IDN) »
(89-40) Bahwa Engkau telah jemu akan perjanjian dengan hamba-Mu itu, dan mahkotanyapun telah Kauhinakan sampai terbuang ke tanah.

Yeremia 14:21 (IDN) »
Jangan apalah kami Kaubuang, oleh karena nama-Mu; janganlah kiranya Kaucelakan takhta kemuliaan-Mu! Ingat apalah akan perjanjian-Mu dengan kami dan jangan Kautiadakan dia.
Zakharia 11:10 (IDN)
Setting seketika: Nabi Zakharia melaporkan tindakan simbolik Tuhan terhadap penggembalaan ilahi yang gagal. Dalam bagian ini, Tuhan menunjukkan konsekuensi pilihan manusia dan respons-Nya yang dinamis terhadap ketidaktaatan umat-Nya. Ayat ini menampilkan momen di mana Tuhan mengambil tongkat Kasih-Nya, menghancurkannya, dan membatalkan perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan segala bangsa.
Makna teologis utama
Ayat ini menyoroti realitas bahwa perjanjian Tuhan dengan bangsa-bangsa serta pemeliharaan-Nya atas umat-Nya tidak statis jika umat-Nya menolak arah-Nya. Gulir simbolik ini menegaskan bahwa Tuhan berhak merombak nolak aksen perjanjian ketika ketaatan dan kepercayaan tidak ada. Secara langit, ini menyingkap keadilan dan kesetiaan Tuhan: Dia mengoreksi umat-Nya, tetapi juga menjaga integritas rencana keselamatan-Nya melalui tindakan-Nya sendiri.
Penjelasan kata dan gambaran kunci
Perikop yang terkait
Beberapa bagian lain memberi konteks pada tema perjanjian, kasih, dan penataan ulang Allah terhadap umat-Nya:
Renungan teologis singkat
Ayat ini mengundang refleksi bagaimana iman kita bertemu dengan keadilan ilahi. Tuhan tidak membiarkan kasih-Nya dipakai sebagai pelindung dari konsekuensi dosa. Namun, narasi juga mengindikasikan bahwa pemurnian dan pembaharuan mungkin diperlukan untuk memulihkan keutuhan rencana-Nya di antara bangsa-bangsa. Respons manusia—pertobatan, kesetiaan, dan ketaatan—tetap menjadi bagian krusial dalam dialog dengan Tuhan.
Hubungan dengan ajaran para komentator (kutipan ringkas)
Kutipan singkat dari sumber berwawasan publik-domain untuk konteks historis: - Matthew Henry menyoroti bahwa tindakan Tuhan terhadap tongkat kasih menandakan keputusan-Nya terhadap penyimpangan umat dan dunia secara luas. - Albert Barnes menekankan bahwa “perjanjian” diucapkan sebagai ikatan yang bersifat dinamis antara Tuhan dengan manusia, yang bisa dibatalkan jika umat-Nya menolak kehendak-Nya. - Adam Clarke menafsirkan simbol tongkat sebagai alat penegak keadilan serta pemulihan di bawah bimbingan Allah yang benar.
Aplikasi praktis untuk masa kini
Rangkaian ayat seputar perjanjian dan pemulihan menegaskan bahwa Allah setia, meskipun manusia sering tidak. Dalam konteks Zakharia, pesan ini menggeser perhatian umat kepada ketekunan dalam kasih-Nya sambil siap menghadapi penataan yang diperlukan demi tujuan-Nya yang kekal.