Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 19:9 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 19:9 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Lalu katanya kepadaku, "Suratkanlah demikian ini: Berbahagialah segala orang yang dijemput kepada perjamuan kawin Anak domba itu." Maka katanya kepadaku, "Inilah yang sebenar-benar perkataan Allah."
Wahyu 19:9 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 19:9 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Wahyu 22:6 (IDN) »
Lalu kata-Nya kepadaku, "Segala perkataan inilah tetap dan benar. Adapun Allah, Tuhan segala roh nabi-nabi itu, sudah menyuruhkan malaekat-Nya akan menunjukkan kepada segala hamba-Nya barang yang tak dapat tiada akan jadi kelak dengan segeranya.

Wahyu 21:5 (IDN) »
Maka Ia yang duduk di atas arasy itu pun berfirman, "Tengoklah, Aku jadikan semuanya baharu." Dan lagi firman-Nya, "Suratkanlah, karena perkataan inilah tetap dan benar."

Wahyu 19:7 (IDN) »
Hendaklah kita bersukacita dan bersukaria, dan hendaklah kita memberi Dia hormat; karena ketika kawin Anak domba itu sudah tiba, dan isteri-Nya pun sudah bersedia.
Wahyu 19:9 (IDN) — Makna Inti Ayat Ini
Intinya: Berbahagialah orang yang diundang untuk mengikuti perjamuan kawin Anak Domba, yang menegaskan kesetiaan Allah dalam menyelenggarakan jemaat-Nya dan merayakan kemenangan Kristus.
Latar Belakang Kontekstual
Ayat ini muncul dalam bagian visiun Wahyu tentang persembahan pujian bagi Kristus sang Penguasa. Setelah kemenangan Kristus atas binasa, para jemaat Dia dipanggil untuk menghadiri perjamuan kawin Anak Domba, lambang keutuhan persekutuan dengan Kristus dan agama keselamatan yang telah dipenuhi. Frasa “perjamuan kawin Anak Domba” membangun gambaran perjanjian suci antara Kristus dan umat-Nya, memenuhi janji Allah kepada umat-Nya.
Observasi Interpretatif
Pemikiran Penting (Garis Besar)
Rujukan Terkait
1) Wahyu 3:20 – Injil menawarkan akses kepada Kristus bagi mereka yang membuka pintu hidup kepada-Nya; relevan karena perjamuan menuntut respons iman.
2) Efesus 5:25–27 – Hubungan Kristus dengan jemaat sebagai pengantin; menyoroti kesucian dan persatuan melalui pekerjaan Kristus di salib.
3) Wahyu 21:9–10 – Penggambaran kemuliaan kota suci sebagai bagian dari pesta pernikahan kekal dengan Kristus.
Wawasan Gema dari Tokoh-Tokoh Pendahulu
Para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa undangan ini bukan sekadar penghargaan naratif, melainkan pernyataan realitas keselamatan yang sudah mereka pahami melalui karya Kristus. Mereka menyoroti bahwa perjamuan kawin adalah puncak persekutuan antara Allah dan umat-Nya, menegaskan kepercayaan bahwa Allah memegang teguh janji-Nya dan memberi umat Allah pembaruan yang penuh kemuliaan.
Catatan singkat aliran teologi
Ayat ini menekankan kesinambungan antara pengundangan ilahi, iman manusia, dan realisasi kemuliaan dalam Kristus. Umat percaya diundang ke dalam perjamuan yang mengakhiri dan memvalidasi perjalanan iman mereka dalam sejarah, hingga puncak persekutuan dengan Tuhan.
Setitik Aplikasi Praktis
Penggalian ini mengundang kita untuk menilai respons iman kita: apakah kita hidup dengan harapan akan kebahagiaan kekal di dalam Kristus? Ketaatan, kesetiaan, dan kemurnian hidup menjadi bagian dari persiapan menghadapi perjamuan surgawi — bukan karena usaha kita sendiri, melainkan karena kasih Kristus yang memulihkan dan meneguhkan kita.