Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 16:3 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 16:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka malaekat yang kedua itu pun mencurahkan bokornya ke dalam laut; maka laut itu pun berubah menjadi darah, seperti darah orang mati, dan segala yang hidup bernyawa sudah mati, yaitu segala yang ada di laut.
Wahyu 16:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 16:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Keluaran 7:17 (IDN) »
Sebab itu firman Tuhan: Akan perkara ini dapat diketahui olehmu bahwa Akulah Tuhan: tengoklah, dengan tongkat ini, yang pada tanganku, akan kupalu air yang di dalam sungai ini, maka air itu akan berubah menjadi darah,

Wahyu 8:8 (IDN) »
Maka malaekat yang kedua itu pun meniup sangkakalanya, maka jadilah seolah-olah sebuah gunung besar menyala dengan api, dicampakkan ke laut; maka laut itu sepertiganya menjadi darah;

Wahyu 11:6 (IDN) »
Maka keduanya itu ada berkuasa mengunci langit, supaya jangan turun hujan selama keduanya bernubuat itu; dan keduanya itu berkuasa atas segala air menjadikan dia darah, dan menimpa bumi dengan segala jenis bala seberapa kali dikehendakinya.
Makna Ayat Wahyu 16:3 (IDN)
Pada ayat ini, malaikat kedua menuangkan belernya ke dalam laut, dan lautan berubah menjadi darah seperti darah orang mati; semua makhluk hidup di dalamnya mati. Ini menggambarkan dampak serius dari penghakiman terakhir atas sistem yang menolak Tuhan, menunjukkan kehancuran yang melanda semua benda hidup di laut sebagai bagian dari penghakiman Allah terhadap kejahatan manusia.
Latar konteks singkat
Wahyu pasal 16 menggambarkan tujuh malapetaka yang menandai kedatangan akhirnya. Secara simbolik, laut sering melambangkan kekacauan, bangsa-bangsa, dan kekuatan-kekuatan yang tidak sepenuhnya tunduk kepada kekuasaan Tuhan. Ketika isi cawan kedua dicurahkan, dampaknya luar biasa besar—laut menjadi darah dan semua makhluk hidup di dalamnya mati—menyiratkan bahwa kekuatan-kekuatan duniawi yang menentang Tuhan akhirnya tidak kebal terhadap penghakiman-Nya.
Observasi penafsiran utama
Catatan singkat tentang sumber renungan gerejawi (ringkas, tanpa kutipan panjang)
Beberapa komentator publik domain menekankan bahwa wahyu ini memakai bahasa simbolik untuk menggambarkan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan dan realitas rohani yang berperang melawan-Nya. Penghakiman ini tidak sekadar penderitaan fisik, melainkan juga penegasan bahwa kekuatan-kekuatan duniawi tidak dapat menanggung alur Tuhan dalam menegakkan keadilan.
Hubungan silang yang relevan
Beberapa bagian yang sering diperdengarkan dalam konteks ini:
Implikasi praktis yang relevan
Ayat ini mengingatkan pembaca untuk menjaga ketulusan iman di tengah gejolak dunia. Ketergantungan pada sistem manusiawi dan kekayaan materi tidak bisa memberikan perlindungan sejati. Allah tetap berdaulat; umat percaya didorong untuk hidup dalam ketaatan, mengakui kemerdekaan Tuhan atas seluruh ciptaan, dan menantikan pemulihan-Nya.
Catatan singkat tentang kutipan eksplisit dari tokoh-tokoh perumus sebelumnya (Matthew Henry, Albert Barnes, Adam Clarke):
Beberapa frasa umum yang sering dirujuk dalam karya mereka terkait tema penghakiman: “kekuatan duniawi menipis di hadapan keadilan Tuhan” atau penyebutan bahwa segala sesuatu di bawah mata Tuhan akan dihakimi menurut kehendak-Nya. (Kutipan utuh tidak tersedia untuk disalin di situs ini; ringkasannya ada dalam narasi penafsiran.)