Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 16:21 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 16:21 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka turunlah hujan batu lebat menimpa manusia, berat ketulnya lebih kurang setalenta, maka manusia itu pun menghujat Allah dari sebab bala hujan batu itu, karena tersangatlah besar bala itu.
Wahyu 16:21 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 16:21 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Wahyu 11:19 (IDN) »
Maka terbukalah Rumah Allah yang di surga, lalu kelihatanlah tabut Perjanjian Allah di dalam Rumah-Nya itu; maka jadilah beberapa kilat dan suara dan guruh dan gempa bumi dan hujan batu yang lebat.

Wahyu 16:11 (IDN) »
serta menghujat Allah yang di surga sebab sakitnya dan pekungnya itu; maka tiada juga mereka itu bertobat daripada perbuatannya itu.

Wahyu 16:9 (IDN) »
maka segala manusia itu pun hanguslah dengan hangat yang amat sangat, lalu mereka itu menghujat nama Allah yang berkuasa atas segala bala itu; tiada pula mereka itu bertobat sehingga memberi hormat kepada-Nya.
Tinjauan Ringkas Wahyu 16:21
Pada ayat ini, umat manusia tidak hanya merasakan dahsyatnya bala bubuk/peluru api yang turun, tetapi juga menatap realitas kejatuhan hati manusia di tengah murka Tuhan. Wahyu 16 menggambarkan tujuh malapetaka yang ditumpahkan atas bumi; ayat 21 menyoroti kemelut batin manusia ketika bala itu memukul dengan beratnya batu besar, sehingga mereka menghujat Allah. Ayat ini menegaskan bahwa respons manusia tidak selalu sejalan dengan keadilan ilahi, tetapi justru memperlihatkan keras hati dan menolak pertobatan meski gemuruh murka Tuhan kembali diberlakukan.
Ayat dalam konteks pasal
Wahyu 16 mendeskripsikan tujuh malapetaka sebagai bagian dari penggenapan akhir zaman. Ayat 21 menampilkan satu bentuk hukuman yang luar biasa berat—hujan batu seberat setalenta—seraya menyiratkan bahwa sengsara fisik yang ekstrem dipadukan dengan penolakan spiritual terhadap Allah. Dalam gambaran apokaliptik ini, manusia tetap bersungut-sungut dan menghujat, menunjukkan bahwa batin mereka keras melawan panggilan pertobatan.
Gagasan utama rohani
Perbandingan dengan bagian Alkitab lain
Beberapa bagian Alkitab menekankan tanggapan manusia terhadap murka Tuhan:
Theologi dan aplikasi praktis
Ayat ini mengingatkan kita bahwa bala Tuhan bisa nyata dalam kehidupan kita, baik melalui bencana maupun ujian batin. Reaksi yang benar bukan sekadar menilai bencana, melainkan merenungkan keadaan hati di hadapan Allah dan membuka diri terhadap pertobatan serta pemurnian iman. Ketika dunia kacau, umat percaya diajak mengarahkan mata kepada Allah yang berkuasa dan setia, sambil menolak sikap menghujat yang merusak hubungan dengan Sang Pencipta.
Aplikasi dalam kehidupan iman
Rujukan silang singkat
Penjelasan singkat terkait ayat-ayat terkait:
Penutup ringkas
Ayat Wahyu 16:21 mengundang pembaca untuk melihat ke dalam: bagaimana kita merespons kehadiran murka Allah? Pesan alkitabiah tetap tegas tentang perlunya pertobatan hati yang rendah hati di tengah badai dunia, sambil menahan diri dari merendahkan Allah meski kita menyaksikan kejadian yang berat.
Cuplikan kutipan para komentator klasik (singkat)
Beberapa para ahlil kitab berimplikasi tentang ketegaran hati manusia di bawah murka ilahi. Dari Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, intinya menekankan bahwa bala besar menyingkap kekerasan hati manusia dan perlunya pertobatan; mereka menegaskan bahwa respons manusia terhadap hukuman ilahi sering tidak mengenal benar, sehingga panggilan untuk batin yang berbalik kepada Tuhan tetap relevan.
Catatan: Teks pendek kutipan yang persis ada dari para komentator klasik tidak disertakan secara verbatim di sini jika tidak ada kutipan langsung yang tersedia dalam sumber-domain publik yang relevan. Silakan merujuk ke karya mereka untuk kutipan terperinci jika diperlukan.