Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiNahum 1:4 Tafsiran ayat Alkitab
Nahum 1:4 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Jikalau diamang-amang-Nya laut, maka kekeringanlah ia dan kekeringanlah segala sungai pun; dan lemahlah Bazan dan Karmel dan layulah segala bunga di Libanon!
Nahum 1:4 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Nahum 1:4 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yesaya 33:9 (IDN) »
Bahwa tanah itu muramlah dan lemahlah; Libanonpun malu dan layu, Saronpun seperti belukar adanya dan Bazan dan Karmelpun tiada lagi berdaun!

Mazmur 106:9 (IDN) »
Maka dihardik-Nya akan laut Kolzom itu sehingga kekeringanlah ia, maka dijalankan-Nya mereka itu terus dari pada tubir seperti di padang rata.

Mazmur 104:7 (IDN) »
Maka oleh hardik-Mu surutlah air itu, dan dari karena bunyi guruh-Mu undurlah ia itu dengan segeranya.
Nahum 1:4 (IDN) – Menenangkan badai murka Tuhan
Gambaran singkat: Nahum menegaskan bahwa Tuhan memiliki kendali penuh atas alam. Ketika Ia menahan angin laut, gelombang-dan badai tenang. Demikian pula sumber-sumber air dan kehijauan bumi dapat mereda. Ayat ini menekankan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas pada keadilan terhadap bangsanya, tetapi juga pada pemeliharaan ciptaan. Dalam konteks kitab Nahum, ayat ini menegaskan bahwa ancaman murka-Nya atas Niniweh adalah bagian dari rencana-Nya untuk mengembalikan keseimbangan dunia, bukan karena kelelahan manusia.
Ayat dalam konteks pasal
Nahum 1 berfokus pada kemarahan Tuhan terhadap kota Babel-Mesir modern pada zaman itu yang menindas umat-Nya. Namun, teks ini juga menyinggung bahwa Tuhan mengatur alam untuk menegakkan kehendak-Nya. Ayat 4 menegaskan kemampuan-Nya untuk meredam kekuatan alam jika itu diperlukan. Perubahan cuaca dan kedamaian di tanah liar menjadi simbol langsung dari kedaulatan-Nya terhadap segala sesuatu di bawah langit.
Pelajaran rohani utama
Pelajaran utama ayat ini ialah kepercayaan kepada Allah yang berkuasa penuh atas alam semesta. Ketika dunia tampak kacau, kita diajak mengingat bahwa Tuhan tidak kehilangan kendali. Ketetapan-Nya meliputi bukan hanya keadilan atas kejahatan, tetapi juga pemeliharaan bagi ciptaan-Nya. Dalam firman-Nya, kita diingatkan untuk menyerahkan kekhawatan kita kepada Dia yang dapat meredam badai dengan satu kata.
Hubungan dengan ayat-ayat lain
Hubungan-hubungan ini menggarisbawahi pemahaman bahwa pembalasan, penghakiman, dan pemeliharaan alam saling terkait dalam rencana Allah yang lebih besar.
Aplikasi praktis untuk kehidupan percaya
Cross-references dan arti singkatnya
Beberapa ayat saling menegaskan tema kendali ilahi atas alam dan damai yang datang dari kehadiran-Nya:
Inti pesan untuk pembaca
Ayat ini mengundang kita untuk mempercayai Tuhan sebagai penguasa yang tidak meninggalkan ciptaan-Nya. Saat badai datang—secara pribadi atau secara komunitas—kita diajak mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang telah membuktikan kuasa-Nya atas alam dan kasih-Nya yang memelihara. Damai-Nya dapat menenangkan setiap gelombang dalam hati kita.
Ringkasan
Nahum 1:4 menegaskan kendali mutlak Allah atas unsur-unsur alam dan bagaimana Ia dapat menenangkan apa pun yang mengguncang ciptaan-Nya. Dalam konteks hukuman atas ketidakadilan, ayat ini juga mengingatkan kita bahwa keadilan Allah berjalan seiring dengan pemeliharaan-Nya atas dunia. Ketaatan, doxa, dan iman kita pada-Nya menjadi landasan untuk menerima setiap tindakan-Nya dengan percaya dan beroleh damai di tengah badai.
Quotations from public-domain commentators included in this page are integrated to support the interpretation. If exact short quotations by Matthew Henry, Albert Barnes, or Adam Clarke are present, they are noted as such in context and are not reproduced in full beyond the brief reference.