Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiMikha 6:7 Tafsiran ayat Alkitab
Mikha 6:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Masakan Tuhan berkenan akan domba jantan beribu-ribu, atau akan sungai minyak berlaksa-laksa? Bolehkah aku mempersembahkan anak sulungku karena kesalahanku, atau buah perutku karena dosa jiwaku?
Mikha 6:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Mikha 6:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

2 Raja-raja 16:3 (IDN) »
karena berjalanlah ia pada jalan raja-raja orang Israel, bahkan, dijalankannya lagi anaknya terus dari pada api, seperti perbuatan kebencian orang kafir, yang sudah dihalaukan oleh Tuhan dari hadapan bani Israel.

Mazmur 51:16 (IDN) »
(51-18) Karena tiada Engkau kehendaki korban; jikalau kiranya Engkau menghendaki dia, niscaya ia itu kupersembahkan; maka akan korban bakaranpun tiada Engkau berkenan.

1 Samuel 15:22 (IDN) »
Maka kata Semuel: Berkenankah Tuhan akan persembahan bakaran dan akan korban sembelihan, seperti Iapun berkenan akan menurut firman Tuhan? Bahwasanya menurut itu baik dari pada korban dan memperhatikan itu baik dari pada lemak domba jantan!
Rangkuman Pembaca Mikha 6:7 (IDN)
Ayat Mikha 6:7 menyingkap pertanyaan batin umat Allah ketika mereka mempertanyakan bagaimana seharusnya merespons peringatan Tuhan tentang hidup saleh. Dialog ini menekankan bahwa ibadah lahir dari sikap hati yang benar, bukan sekadar ritual yang berlimpah. Mikha menyajikan pertanyaan retoris yang menunjukkan kecewa iman pada zaman nabi, lalu mengarahkan pembaca kepada makna sejati pengorbanan yang berkenan kepada Tuhan: taat, adil, dan rendah hati.
Ayat dalam konteks pasal 6
Di pasal ini Mikha menuntun umat kepada memahami bagaimana hidup benar di hadapan Tuhan. Setelah Tuhan menegur ketidaktaatan bangsa itu, Mikha mengingatkan bahwa Allah tidak butuh korban besar secara lahiriah jika hati mereka jauh dari kebenaran. Ujiannya adalah apakah persembahan manusia mencerminkan hidup sehari-hari yang adil dan penuh kasih kepada sesama.
Pelajaran utama yang spiritual
Perbandingan dengan bagian lain Alkitab
Perjanjian Lama sering menekankan bahwa korban tidak menggantikan ketaatan. Misalnya, Hosea mengingatkan bahwa Allah menginginkan kasih, bukan kurban; dan 1 Samuel menekankan bahwa Tuhan melihat hati lebih dulu. Dalam Perjanjian Baru, kasih kepada Allah dan sesama sebagai hukum utama menegaskan bahwa relasi manusia dengan Tuhan menyentuh tindakan nyata di dunia ini.
Penekanan praktis dan aplikasi
Bagaimana kita merespons panggilan Tuhan hari ini? Mulailah dengan menilai motif hati sebelum membawa persembahan. Hidup secara adil pada setiap hubungan—di rumah, tempat kerja, komunitas—adalah inti dari ibadah yang berkenan. Berdoa dan bertumbuh dalam ketaatan menumbuhkan kerendahan hati, sehingga segala bentuk pemberian lahir dari kasih kepada Tuhan dan sesama.
Hubungan silang (cross-references) dan penjelasan singkat
Ringkasan
Mikha 6:7 menegaskan bahwa Allah tidak hanya menilai jumlah korban atau nilai materi, tetapi kualitas hidup yang berada di balik persembahan. Pertanyaan retoris umat mengarahkan kita pada penghayatan iman yang lahir dari keadilan, kasih, dan kerendahan hati. Dengan demikian, ibadah sejati adalah hidup yang menjadikan Tuhan sebagai pusat, terlihat dalam tindakan nyata terhadap sesama.
Quotations (catatan): Jika mengutip secara singkat dari karya komentator publik domain, tidak ada kutipan panjang yang diperlukan di bagian ini. Namun, gambaran inti berikut dapat dipakai sebagai rujukan ringkas: "Allah menginginkan kasih, bukan ukuran kurban” (paraf dari ringkasan umum Matthew Henry, Albert Barnes, Adam Clarke). Kutipan lengkap dari sumber asli tidak dimasukkan untuk menjaga keabsahan hak cipta publik domain dan keselarasannya dengan gaya editorial kami.