Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiMikha 6:15 Tafsiran ayat Alkitab
Mikha 6:15 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa engkau akan menabur, tetapi tiada menuai; engkau akan mengirik buah zait, tetapi tiada mengurapi dirimu dengan minyaknya; engkau akan mengapit air anggur, tetapi tiada minum dari padanya.
Mikha 6:15 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Mikha 6:15 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Zefanya 1:13 (IDN) »
Sebab itu maka harta benda mereka itu akan jadi rampasan dan segala rumah mereka itu akan kebinasaan; bahwa dibangunkannya rumah, tetapi tiada mereka itu akan duduk dalamnya; ditanamnya pokok anggur, tetapi tiada mereka itu akan minum air anggurnya.

Amos 5:11 (IDN) »
Maka sebab kamu memijak-mijak orang miskin dan mengambil hadiah dari pada orang yang tiada bersalah, jikalau kamu membuat rumah dari pada batu pahat sekalipun, tiada juga kamu akan duduk di dalamnya; jikalau kamu sudah menanam pokok anggur yang amat indah-indah sekalipun, tiada juga kamu akan minum air anggurnya!

Yeremia 12:13 (IDN) »
Orang sudah menabur biji gandum, tetapi disabitnya duri; dipenatkannya dirinya, tetapi tiada juga berhasil; maka sebab itu hendaklah kamu malu dari karena hasil tanahmu dan dari karena kehangatan murka Tuhan.
Inti interpretatif pokok Mikha 6:15
Firman Tuhan pada Mikha 6:15 menegaskan bahwa keadilan Allah akan bekerja secara tepat: upah tidak sebanding dengan kerja. Ayat ini menyoroti sebuah paradoks yang muncul ketika umat menabur tanpa menuai, mengirik tanpa mengurapi, dan mengapit tanpa minum. Maksud profetik ini adalah mengungkap konsekuensi dari kemunafikan, pemborosan ritual tanpa kebenaran hidup, serta ketidaksetiaan dalam menjalankan perintah-Nya. Allah menuntut integritas penuh: pekerjaan yang sejalan dengan hikmat-Nya dan hati yang taat kepada hukum-Nya.
konteks sastra dan aliran makna
Bagian Mikha 6 secara keseluruhan berpusat pada dialog antara Allah dengan umat-Nya melalui nabi Mikha. Pengajaran di sini muncul setelah Mikha menegaskan bahwa Allah menginginkan perbuatan yang benar, bukan sekadar persembahan; bukan ritual kosong. Ayat 15 menggambarkan hasil aktivitas yang salah arah: tenaga kerja menghasilkan buah yang sia-sia karena landasan moralnya goyah. Secara kultural, gambar pertanian dan produksi minyak serta anggur menekankan kehidupan ekonomi umat pada zaman itu, sehingga ketidakmampuan untuk menuai, mengolah minyak, atau minum dari anggur menandakan kemarau keadilan ilahi.
makna teologis
Pengiriman pesan utama adalah bahwa hubungan antara Allah dan umat-Nya seharusnya diwujudkan dalam hidup yang saleh, bukan hanya ritualabi. Allah menilai bukan hanya apa yang dilakukan di tempat ibadah, melainkan bagaimana hidup sehari-hari dalam kejujuran, kasih, dan ketaatan. Ketidakmampuan menuai, mengurapi diri, atau minum dari anggur menunjukkan bahwa umat telah tercerai dari sumber berkat karena cara hidup yang tidak benar di hadapan Tuhan.
hubungkan dengan bagian lain Alkitab
Penautan ini menunjukkan tema konsistensi antara perbuatan dan karakter yang berlandaskan iman yang hidup.
pertanyaan refleksi
kesimpulan singkat
Mikha 6:15 mengajak kita melihat bahwa kelimpahan berkat Tuhan hanya diperoleh dalam ketaatan yang menyentuh seluruh aspek hidup. Tuhan menuntut integritas—bukan sekadar ritual—sebagai wujud hubungan yang benar dengan-Nya. Ketika kita hidup menurut perintah-Nya dengan kasih, karya kita pun akan menghasilkan buah yang sungguh berlimpah, bukannya kekosongan yang sia-sia.
kutipan pendek dari komentator terdahulu (atau para tokoh publik domain publik)
Anda akan menemukan wacana serupa dalam tradisi tafsiran klasik, yang menekankan bahwa Allah menilai kehidupan secara utuh—kata-kata, tindakan, dan niat—bukan sekadar upacara. (Catatan: kutipan langsung singkat dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke disertakan hanya bila tersedia secara singkat dalam sumber publik-domain.)
cross-references
Hubungkan dengan bagian berikut untuk memperluas pengertian: