Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
2 Raja-raja 1 2 Raja-raja 2 2 Raja-raja 3 2 Raja-raja 4 2 Raja-raja 5 2 Raja-raja 6 2 Raja-raja 7 2 Raja-raja 8 2 Raja-raja 9 2 Raja-raja 10 2 Raja-raja 11 2 Raja-raja 12 2 Raja-raja 13 2 Raja-raja 14 2 Raja-raja 15 2 Raja-raja 16 2 Raja-raja 17 2 Raja-raja 18 2 Raja-raja 19 2 Raja-raja 20 2 Raja-raja 21 2 Raja-raja 22 2 Raja-raja 23 2 Raja-raja 24 2 Raja-raja 25Verse
2 Raja-raja 16:1 2 Raja-raja 16:2 2 Raja-raja 16:3 2 Raja-raja 16:4 2 Raja-raja 16:5 2 Raja-raja 16:6 2 Raja-raja 16:7 2 Raja-raja 16:8 2 Raja-raja 16:9 2 Raja-raja 16:10 2 Raja-raja 16:11 2 Raja-raja 16:12 2 Raja-raja 16:13 2 Raja-raja 16:14 2 Raja-raja 16:15 2 Raja-raja 16:16 2 Raja-raja 16:17 2 Raja-raja 16:18 2 Raja-raja 16:19 2 Raja-raja 16:20



Rangkaian segera konteks dan makna 2 Raja-raja 16:3 (IDN)
Penuturannya berada dalam rangka pemerintahan Raja Ahab dan pengaruhnya di Kerajaan Israel. Ayat ini menyoroti seri tindakan olih raja-raja Israel yang meniru kebiasaan idolatria dan kekejian budaya kafir yang telah Tuhan larang bagi bani Israel. Peristiwa ini menggambarkan kedalaman kemerosotan rohani pada masa itu ketika kepemimpinan tidak lagi sejalan dengan firman Tuhan.
Yang diungkapkan teks tentang Allah dan iman
Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan membentuk standar kesetiaan bagi umat-Nya. Ketertarikan pada praktik kebiasian kafir—termasuk pengorbanan anak—menunjukkan penolakan terhadap perjanjian-Nya dan dampak korrupsi moral yang meresap lewat kepemimpinan. Ketidaktaatan ini jelas mengundang murka ilahi dan mengakhiri perlindungan rohani bagi umat yang menolak firman Allah.
Kata kunci dan gambaran penting
Rujukan silang yang relevan
Beberapa bagian Alkitab lain menguatkan tema ini:
Penjelasan singkat hubungan: Ulangan menuntut kesetiaan, 2 Tawarikh menunjukkan konsekuensi praktis dari ketidaksetiaan raja, dan Roma mengajak pembaca percaya untuk mengubah pola hidup yang sejalan dengan dunia, menuju pembaruan dalam iman.
Ikhtisar manfaat praktis bagi pembaca zaman sekarang
Ayah-ibu rumah tangga, pemimpin komunitas, dan orang percaya diajak menilai pola kepemimpinan dan budaya di sekelilingnya. Pesan ayat ini menegaskan bahwa setiap langkah kebijakan yang diambil oleh pemimpin berdampak pada iman dan teladan jemaat. Ketidaktaatan terhadap Tuhan membawa konsekuensi rohani yang luas, sementara kesetiaan berpusat pada ketaatan terhadap firman-Nya dan penolakan praksis-praksis yang menodai kemurnian iman.
Garis besar penafsiran dari tokoh-tokoh berbahasa Inggris (singkat, tanpa kutipan panjang)
Para penafsir abad ke-17–19 menekankan bahwa tindakan raja Israel yang menyerupai kafir menghilangkan pembeda rohani antara umat perjanjian dengan Tuhan. Mereka menamai pola ini sebagai contoh nyata kemerosotan moral karena figur otoritas menormalisasi praktik kafir. Dalam konteks gereja, penekanan pada loyalitas mutlak kepada Tuhan menjadi inti amanat: hidup tidak boleh meniru dunia yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Catatan kutipan singkat yang dapat dicantumkan jika diperlukan:{"dataset":"public-domain-commentaries","quotes":["Matthew Henry: 'Those that rebel against God and depart from his appointments may expect that God will leave them to themselves.'","Albert Barnes: 'This sin was the more provoking because it was committed by one who stood in the place of authority and duty to keep the people in the ways of God.'","Adam Clarke: 'They forsook the Lord’s ways and followed the abominations of the heathen; such was the corruption of the times.'"]}
Penutup: menghubungkan masa lalu dengan hidup beriman hari ini
Di dunia yang terus berubah, teladan kepemimpinan yang setia kepada Tuhan tetap menjadi standar. Ayat ini mengingatkan kita bahwa tindakan pemimpin memengaruhi iman komunitas. Tuhan menghargai ketaatan, membebaskan dari praktik-praktik yang membinasakan jiwa, dan memanggil umat-Nya untuk hidup dalam ketaatan yang murni terhadap-Nya.