Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Lukas 2:1 Lukas 2:2 Lukas 2:3 Lukas 2:4 Lukas 2:5 Lukas 2:6 Lukas 2:7 Lukas 2:8 Lukas 2:9 Lukas 2:10 Lukas 2:11 Lukas 2:12 Lukas 2:13 Lukas 2:14 Lukas 2:15 Lukas 2:16 Lukas 2:17 Lukas 2:18 Lukas 2:19 Lukas 2:20 Lukas 2:21 Lukas 2:22 Lukas 2:23 Lukas 2:24 Lukas 2:25 Lukas 2:26 Lukas 2:27 Lukas 2:28 Lukas 2:29 Lukas 2:30 Lukas 2:31 Lukas 2:32 Lukas 2:33 Lukas 2:34 Lukas 2:35 Lukas 2:36 Lukas 2:37 Lukas 2:38 Lukas 2:39 Lukas 2:40 Lukas 2:41 Lukas 2:42 Lukas 2:43 Lukas 2:44 Lukas 2:45 Lukas 2:46 Lukas 2:47 Lukas 2:48 Lukas 2:49 Lukas 2:50 Lukas 2:51 Lukas 2:52



Inti tafsiran: Ketaatan keluarga Yesus menapaki ritus ibadah
Inti interpretatif: Ayat Lukas 2:41 menegaskan bahwa dalam usia sekitar dua belas tahun, keluarga Yesus secara rutin mengikuti tradisi ibadah Yahudi dengan pergi ke Yerusalem pada perayaan Pasah. Pasal ini menyiapkan konteks naratif bagi peristiwa kehilangan dan penemuan Anak Allah di bait Allah, menekankan kepatuhan keluarga kepada tradisi rohani bangsa Israel dan persiapan hati untuk merenungkan karya Allah yang akan datang.
Contextual literary: latar naratif dan tata bahasa
Ayat ini berada dalam kisah awal kehidupan Yesus yang disusun Lukas dengan fokus pada kepedulian orang tua-Nya terhadap peribadatan. Perjalanan tahunan ke Yerusalem adalah kebiasaan religius yang merangkum identitas Israel: keluarga, kota suci, dan perayaan besar. Frasa “Maka tiap-tiap tahunlah ibu bapa-Nya pergi ke Yeruzalem pada masa raya Pasah” menegaskan pola hidup yang biasa, bukan kejadian tunggal, sehingga pembaca memahami bahwa keluarga Nazaret menumbuhkan iman melalui praktik rohani sejak dini.
Signifikansi teologis
Kepatuhan manusia pertama terhadap Allah dalam narasi ini menyoroti ketaatan Maria dan Yusuf sebagai teladan iman yang nyata, sekaligus menyiapkan latar bagi progres respons manusia terhadap karya keselamatan. Perayaan Pasah mengacu pada pembebasan dari perbudakan Mesir; di dalam konteks Lukas, direnungkan sebagai penantian akan karya penyelamatan yang lebih besar melalui Anak yang akan ditemukan di bait-Nya sebagai pusat perhatian iman umat Allah.
Hubungan lintas Kitab: referensi yang relevan
Pertanyaan reflektif
Kesimpulan singkat
Pasal ini menegaskan bahwa kepatuhan keluarga terhadap tradisi rohani adalah bagian penting dari pembentukan identitas iman. Kisah ini membangun fondasi bagi peristiwa penting di bait Allah, di mana Sang Anak menunjukkan pusat tujuan keselamatan Allah yang akan dinyatakan secara penuh. Perjalanan tahunan ke Yerusalem adalah simbol kedalaman komitmen kehadiran Allah dalam hidup umat-Nya.
Catatan editoriat (kutipan singkat)**
Beberapa bahan komentar klasik menyoroti bahwa kepatuhan keluarga terhadap perayaan adalah jalan untuk memelihara iman generasi mendatang, bukan sekadar ritual kosong. Adapun kutipan spesifik dari sumber kolom-kolom lama tidak dapat disertakan dalam bagian ini secara utuh; namun semangat kepatuhan dan penekanan pada maksud rohani perayaan Pasah serupa dengan pandangan para komentator kuno yang menekankan nilai menghadirkan Allah di tengah kehidupan sehari-hari.
Cross-reference singkat digunakan untuk menempatkan ayat ini dalam jaringan Perjisan Lama–Baru tanpa menyalin teks penuh; fokusnya pada bagaimana ritus, harapan nubuat, dan realisasi mesianik bersatu dalam peristiwa ini.