Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Lukas 2:1 Lukas 2:2 Lukas 2:3 Lukas 2:4 Lukas 2:5 Lukas 2:6 Lukas 2:7 Lukas 2:8 Lukas 2:9 Lukas 2:10 Lukas 2:11 Lukas 2:12 Lukas 2:13 Lukas 2:14 Lukas 2:15 Lukas 2:16 Lukas 2:17 Lukas 2:18 Lukas 2:19 Lukas 2:20 Lukas 2:21 Lukas 2:22 Lukas 2:23 Lukas 2:24 Lukas 2:25 Lukas 2:26 Lukas 2:27 Lukas 2:28 Lukas 2:29 Lukas 2:30 Lukas 2:31 Lukas 2:32 Lukas 2:33 Lukas 2:34 Lukas 2:35 Lukas 2:36 Lukas 2:37 Lukas 2:38 Lukas 2:39 Lukas 2:40 Lukas 2:41 Lukas 2:42 Lukas 2:43 Lukas 2:44 Lukas 2:45 Lukas 2:46 Lukas 2:47 Lukas 2:48 Lukas 2:49 Lukas 2:50 Lukas 2:51 Lukas 2:52



Lukas 2:19 (IDN): “Tetapi Maryam menyimpan sekalian perkataan ini, sambil berpikir di dalam hatinya.”
Dalam konteks kelahiran Yesus di kota Betlehem, Lukas menyoroti respons para gembala dan Maria. Setelah malaikat menyingkapkan berita tentang kelahiran Sang Mesias, para gembala kembali dengan memuliakan Allah. Sedangkan Maria, meskipun menerima wahyu-wahyu khusus tentang bayi yang akan lahir, menyimpan semua perkataan itu dalam ingatannya dan miruskan hati dengan refleksi yang tenang. Ayat ini menegaskan sebuah pola rohani: pengalaman ilahi bisa memicu kegembiraan dan kekaguman, tetapi juga membutuhkan momen merenung dan menyelaraskan firman Allah dengan hidup sehari-hari.
Gagasan utama
Frasa “menyimpan sekalian perkataan ini” menekankan tindakan Maria yang mengingat, memperhatikan, dan memproses pesan-pesan ilahi dalam batin. Bukan sekadar menyimpan informasi, melainkan membiarkan firman Allah bekerja secara mendalam di dalam hati, menyiapkan respons iman yang nyata di masa depan.
Tema-tema kunci
Cross-references yang relevan
Pemahaman praktis
Ayat ini mengundang pembaca untuk memiliki kebiasaan menyimak firman Tuhan, merefleksikan maknanya dalam hati, dan menunggu waktu yang tepat untuk tindakan. Ketika Tuhan membisikkan janji atau penuntun melalui firman, kita dipanggil menjadikannya pegangan batin—membagikan damai, mengatasi kebingungan, dan mempersiapkan diri untuk langkah iman berikutnya.
Inti penutup
Maria memberi contoh bagaimana iman tumbuh melalui penyimpanan perkataan Allah di dalam hati. Tidak semua wahyu perlu respons segera dalam bentuk tindakan luar; kadang-kadang kekuatan iman terwujud dalam diamnya hati yang merenungkan firman hingga waktunya tiba untuk menyatakan ketaatan.
Referensi singkat: Mengingat firman, seperti Maria, membantu kita menavigasi momen-momen penemuan ilahi dengan ketenangan, harapan, dan iman yang tumbuh.
Quotations (dari sumber umum berdomain publik jika ada): “Mary treasured up all these things and pondered them in her heart.”