Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiImamat 2:10 Tafsiran ayat Alkitab
Imamat 2:10 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka barang yang tinggal dari pada persembahan makanan itu akan menjadi bahagian Harun dan anak-anaknya, ia itulah kesucian segala kesucian dari pada segala persembahan api bagi Tuhan.
Imamat 2:10 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Imamat 2:10 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Imamat 2:3 (IDN) »
Maka barang yang tinggal dari pada persembahan makanan itu menjadi bahagian Harun dan anak-anaknya, ia itulah kesucian segala kesucian dari pada segala persembahan api kepada Tuhan.
Imamat 2:10 (IDN) — Konteks, Makna, dan Aplikasi
Pasal ini muncul dalam bagian hukum persembahan makanan bagi umat Israel, khususnya bagian persembahan api yang dipersembahkan kepada Tuhan. Ketetapan ini menyatakan bahwa sisa persembahan makanan yang teroleh dari persembahan itu menjadi milik Harun dan anak-anaknya, sebagai bagian dari darah kesucian dan bagian persembahan yang disediakan untuk pelayanan imam. Secara praktis, pembagian ini menegaskan struktur komunal: sebagian persembahan dipisahkan untuk korban bagi Tuhan, sebagian untuk pemeliharaan imam, dan bagian yang diringkas menjadi “bahagian kesucian dari pada segala persembahan api bagi Tuhan.”
Makna sentral
Inti ayat ini menegaskan bahwa bagian tertentu dari persembahan makanan dipisahkan sebagai bagian dari upah pelayanan imam. Persembahan tidak sekadar simbol ibadah; ia juga memelihara gudang pekerjaan para imam dalam memelihara tabut perjanjian dan melayani komunitas. “Kesucian segala kesucian” menunjukkan standar kekudusan yang melekat pada bagian tertentu persembahan, yang tidak boleh dipakai untuk tujuan lain selain untuk fungsi suci di hadapan Tuhan.
Tema-tema kunci
Cross-references (hubungan alkitabiah)
Refleksi praktis
Ayat ini mengajak kita melihat bagaimana pola pembagian dalam ibadah dapat mencerminkan keseimbangan antara pelayanan dan dukungan komunitas. Dalam konteks kekristenan kontemporer, kita bisa memaknai bahwa bagian-bagian ibadah yang memelihara pemimpin rohani tetap penting, sambil menjaga kemurnian tujuan ibadah. Keseluruhan persembahan adalah ibadah kepada Tuhan, dan bagian tertentu dikhususkan untuk kelangsungan pelayanan gereja. Keteladanan ini mengajak jemaat untuk menghormati struktur kepemimpinan rohani sambil menjaga kemurnian motivasi beribadah.
Gambaran ringkas
Bagian yang tinggal dari persembahan makanan dimaksudkan untuk Harun dan anak-anaknya sebagai bagian dari kesucian persembahan bagi Tuhan. Ayat ini menegaskan bahwa sebagian dari ibadah adalah pemeliharaan layanan imam, dilakukan dengan sikap kudus yang menjaga tujuan utama umat bersekutu dengan Allah.
Referensi singkat
Menimbang konteks hukum persembahan, bagian ini terkait erat dengan pembagian bagian bagi imam pada bagian-bagian tertentu dari persembahan; memperkuat gagasan bahwa penyembahan tidak hanya soal individu, melainkan penyelenggaraan pelayanan bagi komunitas umat.
Catatan para penafsir terdahulu menunjukkan bahwa bagian ini menekankan suci-bagi-para-imam, sebuah prinsip yang ia contekstualisasi dalam ritus dan pemeliharaan keimamatan. Sebagaimana dinuangkan para penafsir publik domain klasik, konsep “kesucian segala kesucian” dipandang sebagai standar pemakaian bagian persembahan bagi pelaksanaan tugas suci di hadapan Tuhan.