Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Imamat 18:1 Imamat 18:2 Imamat 18:3 Imamat 18:4 Imamat 18:5 Imamat 18:6 Imamat 18:7 Imamat 18:8 Imamat 18:9 Imamat 18:10 Imamat 18:11 Imamat 18:12 Imamat 18:13 Imamat 18:14 Imamat 18:15 Imamat 18:16 Imamat 18:17 Imamat 18:18 Imamat 18:19 Imamat 18:20 Imamat 18:21 Imamat 18:22 Imamat 18:23 Imamat 18:24 Imamat 18:25 Imamat 18:26 Imamat 18:27 Imamat 18:28 Imamat 18:29 Imamat 18:30



Imamat 18:15 (IDN)
Jangan kamu kawin dengan menantumu perempuan, karena ialah bini anakmu, jangan kamu kawin dengan dia.
Setting segera ayat
Ayat ini berada dalam bagian Imamat yang menata batasannya bagi umat Israel terkait hubungan- hubungan keluarga, pernikahan, dan kekudusan hidup di tengah komunitas. Allah menegaskan larangan-larangan perkawinan yang bisa menimbulkan konflik loyalitas, polarisasi nilai, atau kontaminasi budaya pagan yang berbahaya bagi bangsa pilihan-Nya. Dalam konteks ini, larangan mengenai menantu perempuan menyoroti pentingnya menjaga kemurnian garis keturunan dan kepatuhan pada perjanjian Allah.
Apa yang dinyatakan ayat ini tentang Allah dan iman
Ayat ini menekankan batasan yang diperlukan untuk mempertahankan kemurnian perjanjian Allah dengan umat-Nya. Allah bukan sekadar pengawas ritual, melainkan Tuhan yang memelihara identitas komunitas-Nya agar tetap hidup dalam ketaatan. Larangan ini juga mencerminkan hikmat moral: hubungan dekat dalam keluarga dapat menimbulkan konflik kepentingan, sehingga batasan pernikahan dipakai untuk menjaga kesetiaan kepada Allah.
Istilah dan gambaran kunci
- kawin dengan menantu perempuan: pernikahan lintas garis keluarga yang bisa menciptakan konflik aliansi keluarga antara anak dan orang tua, sehingga menantunya menjadi bagian dari garis keturunan yang berpotensi menjerat loyalitas ke dalam hubungan keluarga.
- bini anakmu: menekankan bahwa pernikahan dengan seorang menantu secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai bagian dari garis keturunan leluhur yang seharusnya tidak diikat secara eksklusif melalui kebiasaan lain yang bisa menyelewengkan kesetiaan pada Tuhan.
Hikmat lintas bagian Alkitab
Beberapa bagian lain dalam Imamat dan kitab-kitab Pentateukh menyoroti pentingnya menjaga garis apa yang dapat membangun hubungan yang sehat tanpa menimbulkan ketergantungan pada budaya asing yang membayangi iman. Perpindahan antara budaya bisa mengubah arah spiritual bangsa Israel jika tidak disertai ketaatan pada perintah Tuhan. Perbandingan dengan larangan serupa mengenai pernikahan dengan saudara dekat atau bangsawan asing memperlihatkan prinsip umum: menjaga kesetiaan kepada Tuhan melalui batas-batas relasi yang sehat.
Cross-references dan koneksi singkat
Penjelasan singkat: ayat-ayat penunjang menegaskan bahwa menjaga kesetiaan kepada Allah melalui pola pernikahan yang jelas adalah bagian dari hidup kudus yang memelihara komunitas umat-Nya dari pengaruh luar yang bisa merusak komitmen pada perjanjian Allah.
Aplikasi praktis bagi kehidupan sekarang
- Pertahankan kejelasan prioritas iman saat memilih pasangan hidup; hindari pernikahan yang bisa menimbulkan tekanan keluarga yang mengganggu hubungan dengan Tuhan. - Kenali pentingnya menjaga batasan budaya yang bisa membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan iman Kristen; doa dan hikmat rohani diperlukan dalam keputusan pernikahan. - Belajar menghargai struktur keluarga sambil tetap menempatkan kemuliaan Tuhan sebagai tujuan utama dalam hidup berkeluarga.
Catatan editorial terkait sumber patokan (kutipan singkat)
Beberapa pandangan klasik yang relevan dalam tafsiran bagian ini menekankan pentingnya menjaga keteladanan hidup berelasi dalam konteks perjanjian Allah. Logika umum yang muncul dalam karya-karya komentar ber-para seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menonjolkan tujuan kemurnian rohani di balik larangan pernikahan yang bisa merugikan ikatan dengan Tuhan. (Kutipan penuh tidak disertakan di sini, hanya referensi konteks.)