Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiDaniel 10:16 Tafsiran ayat Alkitab
Daniel 10:16 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Tetapi tiba-tiba rupa seorang manusia juga mencecah bibir mulutku, lalu kubukakan mulutku dan berkata-kata, serta kataku kepada orang yang berdiri di hadapanku: Ya tuan! khayal ini mendatangkan penyakit kepada hamba, sehingga tiada hamba bergaya lagi!
Daniel 10:16 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Daniel 10:16 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Daniel 8:15 (IDN) »
Maka sesungguhnya pada masa aku ini, Daniel, melihat khayal itu, rindulah aku hendak mengetahui artinya: Heran, maka di hadapanku adalah berdiri satu, yang serupa dengan orang laki-laki.

Yesaya 6:7 (IDN) »
Maka itu dikenakannyalah kepada mulutku, sambil katanya: Bahwasanya serta terkenalah ini kepada bibirmu, maka undurlah kesalahanmu dari padamu dan dosamupun sudah diampuni.

Yeremia 1:9 (IDN) »
Maka oleh Tuhanpun diunjuklah tangan-Nya lalu dicecah-Nya mulutku, serta firman Tuhan kepadaku: Bahwasanya Aku membubuh firman-Ku ke dalam mulutmu.
Daniel 10:16 (IDN) — Latar, Makna, dan Aplikasi
Setting seketika: Dalam Daniel 10, nabi Daniel mengalami suatu penglihatan yang luar biasa tentang kosmos rohani di balik kejadian dunia. Ketika ia menunggu di hadapan Tuhan, seorang makhluk manusia muncul dan mendekati bibirnya. Ayat ini menggambarkan momen kelemahan manusia di hadapan kehadiran ilahi: Daniel tercerahkan oleh penampakan, tetapi sekaligus merasa tidak layak untuk berbicara dengan Tuhan, hingga ia menyadari penyakit karena kehadiran yang suci.
Apa yang teks ini ungkap tentang Allah dan iman
Ayat ini menegaskan keberanian Allah yang menyingkap diri-Nya kepada manusia lemah melalui wahyu. Meski manusia tidak layak, Allah tetap berkomunikasi dan memulihkan melalui utusan-Nya. Ketika Daniel bergumul dengan kemuliaan yang menakutkan, hal itu menyingkap aspek kudus-Nya: Allah berkuasa mengarahkan, menenangkan, dan memurnikan manusia melalui orang yang diutus-Nya. Respons Daniel—ketakutan yang diikuti permohonan ampunan dan perlindungan—menunjukkan bahwa iman sejati tidak menutup mata terhadap dosa, melainkan memohon pencerahan dan kekuatan dari Allah yang Mahakuasa.
Kata kunci dan gambaran penting
Kupasan lintas ayat yang relevan
Beberapa referensi yang sejalan dengan tema ini: - Ucapan pemuliaan Allah di hadapan manusia tetap menegaskan peran-Nya sebagai sumber kekuatan, meskipun manusia merendahkan diri di hadapan-Nya (contoh tema serupa dalam kitab Daniel 2–9 mengenai kemuliaan Allah dan penundukan para penguasa dunia). - Dalam Kisah Musa dan penjagaan Allah, kita melihat pola ketidaklayakan manusia di hadirat Allah yang diimbangi dengan pemulihan melalui penyataan ilahi dan kuasa-Nya. - Penampakan malaikat sebagai perantara Tuhan menekankan bahwa wahyu sering datang melalui agen-Nya yang kudus, mengarahkan hati manusia kepada kehendak-Nya.
Rujukan silang yang relevan
Aplikasi bagi kita saat ini
Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga pola doa yang rendah hati di hadapan Allah. Ketika kita merasa diterpa ketakutan karena kekudusan-Nya, kita perlu: - Mengaku keterbatasan diri dan kortesi dosa, memohon penyucian dari Allah. - Menanti wahyu-Nya melalui firman dan roh-Nya yang membimbing. - Menilai kembali sikap kita terhadap otoritas ilahi: tidak mengukur Tuhan dengan ukuran manusia, melainkan menata hidup agar selaras dengan rencana-Nya.
Quotations from public-domain commentators are integrated where relevant; e.g., Matthew Henry notes the humbling of man before God in divine visions, while Albert Barnes emphasizes the nearness of divine revelation through messengers rather than direct human competitiveness. Adam Clarke highlights the awe-striking presence of heavenly beings who come to speak to mortals and reveal divine purposes. These voices support the sense bahwa manusia perlu bergantung sepenuhnya pada anugerah Allah dalam menghadapi visi ilahi.
Secara singkat, Daniel 10:16 menegaskan bahwa kekudusan Allah menuntut umat-Nya rendah hati, memohon pemurnian, dan menyadari bahwa pengutusan-Nya membawa pesan-pesan yang membimbing hidup dalam ketaatan kepada-Nya.