Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia Maleakhi2 Timotius 1:4 Tafsiran ayat Alkitab
2 Timotius 1:4 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
sebab mengenangi air matamu sehingga aku rindu hendak berjumpa dengan engkau, supaya penuh sukaku;
2 Timotius 1:4 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
2 Timotius 1:4 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

2 Timotius 4:21 (IDN) »
Usahakanlah dirimu datang ke mari sebelumnya musim dingin. Maka Eubulus dan Pudens dan Linus dan Kelaudia dan sekalian saudara berkirim salam kepadamu.

Filipi 1:8 (IDN) »
Sebab Allah menjadi saksiku betapa aku rindu akan kamu sekalian dengan pengasihan Kristus Yesus.

Mengapa ayat ini penting
2 Timotius 1:4 menyingkapkan kedalaman hubungan antara Rasul Paulus dengan timnya, Timotius. Ayat ini menampilkan kerinduan yang tulus, air mata yang mewakili kasih yang intens, dan harapan yang menguatkan dalam melanjutkan pelayanan. Dalam surat ini, Paulus menulis kepada muridnya yang muda untuk meneguhkan panggilan imannya, sambil mengingatkan bahwa kasih dan hubungan pribadi memegang peranan penting dalam menghadapi tantangan iman.
konteks asli dan pesan utama
Pada bagian awal surat kedua kepada Timotius, Rasul Paulus berhadapan dengan tekanan penganiayaan dan kemunduran moral di jemaat. Meskipun demikian, ia tidak mengandalkan kekuatan duniawi, melainkan mengarahkan Timotius pada iman yang tidak goyah. Frasa mengenangi air matamu menggambarkan kisah air mata yang lahir dari keprihatinan, doa, dan kasih orang tua rohani yang mendorong Timotius untuk tetap setia. Tujuan utama ayat ini adalah memperkokoh semangat Timotius, mengingatkan bahwa hubungan personal dan kasih yang tulus adalah sumber kekuatan bagi pemuridan yang berkelanjutan.
Ayat ini menekankan pentingnya hubungan rohani pribadi, kesetiaan dalam tugas panggilan, serta dorongan untuk tidak menyerah di tengah kesulitan. Ia juga menegaskan bahwa kasih dan doa komunitas gereja memainkan peran penting dalam mempertahankan iman generasi berikutnya.
Beberapa referensi yang relevan:
Penjelasan singkat: Di sini, hubungan pribadi, doa, dan harapan pertemuan kembali menjadi sumber kekuatan untuk tetap setia dalam tugas pewartaan Injil.
Renungkan bagaimana kita menjaga hubungan rohani dengan sesama pengikut Kristus. Siapa yang menjadi Timotius dalam hidup kita, dan bagaimana kita bisa mengekspresikan kasih dengan cara yang meneguhkan iman mereka? Doa syafaat dan kata-kata yang menguatkan bisa menjadi pengganda semangat bagi mereka yang sedang merintis pelayanan bagi Kerajaan Allah.
Para penafsir berbahasa Inggris dari abad sebelumnya menyoroti sisi emosional hubungan rohani ini, sebagaimana ditemui dalam karya-karya Abraham Barnes, Adam Clarke, dan Matthew Henry. Mereka sering menimbang bahwa kasih yang diwujudkan lewat air mata adalah bukti keotentikan iman dan komitmen terhadap panggilan gereja. Perlu dicatat bahwa kutipan langsung yang spesifik dari Henry, Barnes, atau Clarke jika ada, ditempatkan dalam konteks umum pemaparan tema kasih rohani, tanpa merujuk pada kutipan panjang tertentu untuk menjaga keaslian alur penulisan Indonesia ini.
2 Timotius 1:4 mengajak kita melihat iman sebagai perjalanan bersama—sebuah komunitas yang saling menguatkan. Semoga kita juga merindukan pertemuan dengan sesama orang percaya untuk memperbarui sukacita pelayanan, sambil menjaga hubungan yang dipenuhi kasih, doa, dan harapan akan pembaruan iman di tengah tantangan zaman.