Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiZakharia 1:14 Tafsiran ayat Alkitab
Zakharia 1:14 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Lalu kata malaekat yang berkata dengan aku itu: Berserulah engkau dan katakanlah: Demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam: Bahwa sangat berbangkitlah gairah-Ku akan Yeruzalem dan akan Sion.
Zakharia 1:14 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Zakharia 1:14 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yesaya 40:6 (IDN) »
Adalah bunyi suara mengatakan: Berserulah! Maka jawabnya: Apakah hendak kuserukan? Segala manusia seperti rumput jua adanya dan segala keelokannya seperti bunga di padang.


Zakharia 1:14 - Ringkasan Pembaca
Pada bagian ini, malaikat yang berbicara dengan Zakharia menegaskan kasih dan gairah Allah terhadap Yeruzalem dan Sion. Ayat ini menyoroti pembaruan ilahi yang didorong oleh belas kasihan-Nya, meskipun umat-Nya melalui masa-masa tantangan. Pesan utama adalah dorongan moral dan spiritual untuk berharap serta bertobat, karena Allah bertekad membentuk kembali kota-Nya sebagai pusat ibadah dan berkat.
Ayat dalam konteks pasal
Dalam Zakharia 1, nabi melihat penglihatan mengenai kemurnian kota dan kemuliaan ibadah di Yeruzalem. Ayat ini memperlihatkan “gairah” Allah yang membara atas kota-Nya, menegaskan bahwa murka sementara terhadap dosa akhirnya ditundukkan oleh kasih dan pemulihan. Gairah-Nya bukan kemarahan semata, melainkan motivasi untuk membawa umat-Nya kembali kepada Tuhan dan membangun kemuliaan-Nya di bumi.
Pelajaran rohani utama
Pelajaran sentral ayat ini adalah kasih setia Allah yang aktif membentuk masa depan umat-Nya. Allah tidak pasif memperhatikan penderitaan Yeruzalem, tetapi bertekad memperbarui kota-Nya dengan kepedulian yang sangat pribadi. Respons manusia yang relevan adalah iman, penyesalan, dan partisipasi dalam pekerjaan Tuhan untuk memulihkan ibadah yang murni.
Perbandingan Alkitabiah
Penemuan dan komentar historis yang relevan
Para penafsir Gereja lama menekankan bahwa “gairah” Allah adalah dorongan terakhir untuk membangkitkan umat-Nya agar hidup berkenan di hadapan-Nya. Ada keseimbangan antara keadilan-Nya yang benar dan kasih-Nya yang sungguh-sungguh, yang mendorong umat untuk bertobat dan ikut serta dalam pemulihan jemaat. Perhatian terhadap Yeruzalem di sini juga menegaskan bahwa pekerjaan Allah melahirkan pengharapan bagi generasi yang akan datang.
Aplikasi praktis
Doa singkat berdasarkan ayat ini
Ya Tuhan, Engkau menaruh gairah yang besar atas Yeruzalem dan Sion. Teguhkanlah hatiku untuk hidup setia kepada-Mu, memperbaharui ibadahku, dan berpartisipasi dalam pemulihan komunitas-Mu dengan kasih dan kesetiaan. Amin.
Rujukan Alkitab terkait
Gagasan tentang kasih Allah yang membara untuk membentuk umat-Nya juga ditemukan dalam: Keluaran 34:6-7, Yesaya 54:9-10, Yeremia 31:3-4. Ketiga bagian ini memberi konteks bahwa pemulihan Yeruzalem tidak semata soal politik, melainkan pemulihan relasi dengan Allah yang menuntun umat ke ibadah yang benar.
Cuplikan pernyataan relevan dari tokoh penafsir lamanya: “Gairah Allah terhadap Yeruzalem adalah sumber motivasi untuk pemulihan, bukan sekadar amukan yang bergulung.” (ringkasan interpretatif, merujuk pada pandangan umum para penafsir patokan seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke)