Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Matius 17:1 Matius 17:2 Matius 17:3 Matius 17:4 Matius 17:5 Matius 17:6 Matius 17:7 Matius 17:8 Matius 17:9 Matius 17:10 Matius 17:11 Matius 17:12 Matius 17:13 Matius 17:14 Matius 17:15 Matius 17:16 Matius 17:17 Matius 17:18 Matius 17:19 Matius 17:20 Matius 17:21 Matius 17:22 Matius 17:23 Matius 17:24 Matius 17:25 Matius 17:26 Matius 17:27



Matius 17:23 (IDN) — konteks dan makna inti
Dalam bagian pasal 16–17, kita melihat transisi penting dalam pelayanan Yesus: melalui pernyataan-Nya tentang penolakan, kemuliaan di Gunung Transfigurasi, dan akhirnya nubuat-Nya tentang sengsara dan kebangkitan. Ayat 23 ini terjadi setelah nubuat tentang kematian-Nya, ketika murid-murid sedang memahami konsekuensi dari kehadiran-Nya sebagai Mesias. “Maka mereka akan membunuh Dia; maka pada hari yang ketiga Ia akan bangkit pula.” Kalimat ini menyingkap kenyataan pahit bahwa penyangkalan dosa manusia dan rencana ilahi untuk menebusnya berjalan melalui jalan sengsara, tetapi dengan tujuan utama kebangkitan. Perkataan itu menimbulkan dukacita besar bagi murid-murid, karena mereka belum sepenuhnya memahami misteri penebusan yang sedang berlangsung melalui salib.
Inti pokok ayat
Ayat ini menegaskan dua hal pokok: (1) penolakan dan kematian Kristus sebagai bagian dari rencana ilahi untuk menebus umat-Nya, dan (2) kebangkitan-Nya pada hari ketiga sebagai puncak kemenangan atas dosa dan maut. Penekanan pada kebangkitan menggarisbawahi bahwa sengsara bukan akhir cerita; Allah bekerja melalui penderitaan untuk mencapai keselamatan.
Tema-tema utama
Cross-references terkait (singkat)
Pemantapan praktis
Ayat ini mengajak kita mengizinkan partisipasi dalam penderitaan yang dibawakannya, tetapi dengan pandangan yang teguh pada kebangkitan. Dalam praktik iman, kita diajak: - untuk menaruh pengharapan pada rencana Allah meskipun situasi terasa suram, - mengingat bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pembentukan iman dan pengenalan yang lebih dalam akan kuasa Allah, - memelihara kedalaman doa ketika kekecewaan melanda, sambil memegang janji Allah bahwa Ia bekerja untuk kebaikan bagi mereka yang mencintai-Nya.
Penutupan ringkas
Ayat ini menegaskan bahwa penderitaan Yesus bukan akhir cerita, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah yang berujung pada kebangkitan. Dukacita murid-murid pada masa itu menjadi langkah awal mereka memahami kemuliaan-Nya yang akhirnya dinyatakan dalam kebangkitan, pengampunan, dan hidup kekal bagi semua orang percaya.
Catatan editorial (referensi tokoh klasik)
Gagasan umum yang sejalan dengan gema penulisan para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa: penderitaan Yesus adalah bagian jalan penebusan yang diperlukan, dan kebangkitan-Nya merupakan pembalikan atas konsekuensi dosa. Ringkasnya, pernyataan kebangkitan di sini mengundang murid dan pembaca untuk percaya meskipun belum sepenuhnya memahami jalan-Nya. (Catatan: tidak ada kutipan panjang langsung dari karya-karya mereka yang digunakan pada bagian ini; jika ada bagian yang diambil, akan dicantumkan kutipan singkat yang relevan.)