Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Imamat 23:1 Imamat 23:2 Imamat 23:3 Imamat 23:4 Imamat 23:5 Imamat 23:6 Imamat 23:7 Imamat 23:8 Imamat 23:9 Imamat 23:10 Imamat 23:11 Imamat 23:12 Imamat 23:13 Imamat 23:14 Imamat 23:15 Imamat 23:16 Imamat 23:17 Imamat 23:18 Imamat 23:19 Imamat 23:20 Imamat 23:21 Imamat 23:22 Imamat 23:23 Imamat 23:24 Imamat 23:25 Imamat 23:26 Imamat 23:27 Imamat 23:28 Imamat 23:29 Imamat 23:30 Imamat 23:31 Imamat 23:32 Imamat 23:33 Imamat 23:34 Imamat 23:35 Imamat 23:36 Imamat 23:37 Imamat 23:38 Imamat 23:39 Imamat 23:40 Imamat 23:41 Imamat 23:42 Imamat 23:43 Imamat 23:44

Imamat 23:25 (IDN): Perayaan dengan Persembahan Bakaran di Hari-Hari Suci
Setting ayat ini menempatkan umat Israel pada saat perayaan hari-hari suci, khususnya ketika mereka dipanggil untuk berhenti bekerja dan mendatangkan korban bakaran kepada TUHAN. Ayat ini mengikuti bagian perayaan-pada-setiap-tahun yang menegaskan suasana ibadah yang berbeda dari aktivitas sehari-hari. Umat Allah dipanggil untuk menata waktu mereka dengan fokus pada persatuan dengan-Nya melalui persembahan dan doa di hadapan-Nya.
Makna teologis yang terkandung
Ayat ini menekankan bahwa ada momen-momen khusus ketika umat dipanggil meninggalkan pekerjaan biasa demi berelasi dengan Allah. Persembahan bakaran menandakan pengabdian total: sesuatu yang dipersembahkan seluruhnya kepada Tuhan. Dalam konteks hukum suci, ritual ini bukan sekadar tindakan ritual kosong, melainkan respon iman atas penyertaan dan pemeliharaan Allah. Pembebasan dari kerja biasa menyiapkan sikap hati yang tenang untuk mendengar arahan-Nya dan merespons kasih-Nya dengan ketaatan.
Penjelasan kata dan gambaran penting
Cross-references terkait makna ibadah dan hari kudus
Beberapa bagian lain memberi gambaran bagaimana hari-hari kudus dan persembahan membentuk hubungan dengan Tuhan:
Impak bagi iman dan ibadah umat sekarang
Ayam ini mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya soal tindakan ritual; tetapi juga penataan waktu, ketaatan, dan penyerahan diri kepada Allah. Dalam konteks iman Kristen, prinsip ini menggeser fokus dari sekadar pekerjaan manusia ke variasi pengabdian yang lebih mendalam: sebuah kepercayaan yang berusaha menoleh kepada Tuhan secara total pada saat-saat tertentu untuk memperbarui komitmen hidup kepada-Nya.
Aplikasi praktis untuk masa kini
Gagasan dari comentar publik domain terkait ayat ini
Catatan para penafsir klasik menekankan bahwa hari-hari kudus menunjuk pada respons iman umat kepada penyelenggaraan Allah. Dalam pandangan Matthew Henry, pergeseran fokus dari kerjaan manusia ke tindakan penyerahan memampukan umat mengenali kehadiran-Nya secara lebih nyata. Albert Barnes menekankan bahwa persembahan bakaran adalah ekspresi penyerahan total, bukan sekadar ritual lahiriah. Adam Clarke menegaskan bahwa suasana kudus menuntun umat untuk menjauh dari pekerjaan biasa dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan.
Selain tiga pandangan klasik tersebut, teks ini menggarisbawahi bahwa ibadah merupakan bagian mutlak dari hidup umat Allah, bukan sekadar bagian dari peristiwa tertentu. Ibadah yang benar menyentuh pola hidup secara keseluruhan, menggerakkan ketundukan, rasa syukur, dan komitmen untuk hidup sesuai arah ilahi.
Versi singkat inti: ada momen pembaharuan hidup di hadapan Tuhan melalui penyembahan yang total dan penghentian pekerjaan biasa sebagai bagian dari pengakuan atas kekuasaan-Nya.
Penanggalan referensi utama: Imamat 23:25