Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Imamat 22:1 Imamat 22:2 Imamat 22:3 Imamat 22:4 Imamat 22:5 Imamat 22:6 Imamat 22:7 Imamat 22:8 Imamat 22:9 Imamat 22:10 Imamat 22:11 Imamat 22:12 Imamat 22:13 Imamat 22:14 Imamat 22:15 Imamat 22:16 Imamat 22:17 Imamat 22:18 Imamat 22:19 Imamat 22:20 Imamat 22:21 Imamat 22:22 Imamat 22:23 Imamat 22:24 Imamat 22:25 Imamat 22:26 Imamat 22:27 Imamat 22:28 Imamat 22:29 Imamat 22:30 Imamat 22:31 Imamat 22:32 Imamat 22:33



Imamat 22:27 (IDN) – Ketetapan tentang hewan kurban yang baru lahir
Ayat ini berada dalam bagian Imamat yang mengatur peraturan persembahan bagi umat Israel, terutama tentang keadaan hewan yang dipersembahkan kepada TUHAN. Hewan baru lahir—lembu, domba, maupun kambing—diperlakukan dengan perhatian khusus sejak lahir hingga hari kedelapan. Setelah periode tersebut, hewan itu akhirnya boleh dipersembahkan sebagai kurban bakaran. Peraturan ini menekankan kesucian, pemeliharaan ritual, dan waktu yang tepat untuk mempersembahkan korban kepada Allah.
Makna pokok ayat
Ayat ini menegaskan bahwa hewan kurban yang masih muda melewati masa “kenyataan” sebagai bagian dari proses pemurnian dan penyerahan kepada Tuhan. Masa tinggal tujuh hari dengan induknya menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan hewan sekaligus ritus pemisahan yang diperlukan sebelum dipersembahkan. Pada hari kedelapan, hewan itu dianggap siap untuk dipersembahkan dalam bentuk korban bakaran, menandai serah terima hidup hewan kepada peribadatan Allah dan penerimaan persembahan umat-Nya.
Tema utama
Cross-references yang relevan
Penjelasan singkat: Ketiga rujukan itu memperlihatkan bahwa tata ibadah Israel mengutamakan ketepatan waktu, kemurnian persembahan, dan ketaatan kepada perintah Tuhan dalam setiap korban.
Refleksi praktis
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah tidak hanya soal tindakan lahiriah, tetapi juga ketaatan pada waktu dan tata cara yang ditetapkan Allah. Dalam konteks kekristenan, kita belajar untuk menghargai integritas spiritual—mewaspadai kapan dan bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, dengan kesadaran bahwa Allah menginginkan kemurnian hati dan ketaatan yang autentik.
Gambaran perspektif para penafsir terdahulu
Berbagai penafsir publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan hal-hal berikut secara ringkas dan relevan.
Matthew Henry menyoroti bahwa masa kedelapan hari menandai kematangan dalam persembahan, sebagai simbol dedikasi penuh kepada Tuhan. Albert Barnes menekankan pentingnya menjaga kekudusan korban sebelum dipersembahkan, agar ibadah tidak tercemar. Adam Clarke menekankan bahwa ketetapan ini mengajak umat menilai bahwa hidup di bawah pemerintahan Allah memerlukan hormat yang tulus melalui ritus yang benar.
Inti pesan untuk pembaca hari ini
Allah menghendaki integritas dalam penyembahan: menghargai proses, memelihara kesejahteraan makhluk ciptaan-Nya, dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya dengan penuh ketaatan. Meski kita hidup dalam konteks kekristenan, prinsip ketaatan pada waktu dan bentuk ibadah tetap relevan dalam menarik kita kepada Tuhan yang kudus.
"Apabila anak lembu atau anak domba atau anak kambing baharu jadi, maka hendaklah ia itu tinggal serta dengan emaknya tujuh hari lamanya, tetapi mulai dari pada hari yang kedelapan dan lebih tuapun bolehlah ia itu dipersebutahkan kepada Tuhan akan korban bakaran." (Imamat 22:27, terjemahan IDN)
Ringkasan: Ayat ini menegaskan prosedur kebersihan dan kesucian korban melalui masa kehidupan hewan yang baru lahir sebelum dipersembahkan kepada Tuhan. Prinsip ini mengajak umat untuk ibadah yang teratur, penuh tata, dan menghormati ciptaan Allah dalam proses persembahan-Nya.