Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiImamat 12:3 Tafsiran ayat Alkitab
Imamat 12:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka pada hari yang kedelapan hendaklah dikhatankan kulup daging anak-anak itu.
Imamat 12:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Imamat 12:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Lukas 2:21 (IDN) »
Apabila genap delapan hari Ia bersunat, lalu disebut namanya Yesus, seperti yang dikatakan oleh malaekat, sebelum Ia dikandungkan di dalam rahim.

Lukas 1:59 (IDN) »
Maka pada hari yang kedelapannya datanglah orang menyunatkan kanak-kanak itu, serta hendak menamakan dia Zakaria menurut nama bapanya.

Yohanes 7:22 (IDN) »
Maka Musa sudah memberi kamu hukum bersunat itu (bukan asalnya itu daripada Musa, melainkan daripada nenek moyangmu); maka kamu menyunatkan orang pada hari Sabbat.
Imamat 12:3 (IDN) — Konteks Khatanan Kulup pada Hari Kedelapan
Ayat ini muncul dalam rangkaian tanggapan hukum dan upacara pada masa setelah masa bersalin, khususnya mengenai peraturan status ritual laki-laki yang lahir dari seorang ibu Israel. Setelah masa bersalin selesai dan ritus penyucian dipenuhi, dikhendaki bahwa kulup daging bayi laki-laki dikhatankan pada hari kedelapan. Teks ini menegaskan identitas identitas bangsa melalui praktik sunat sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan, serta menggarisbawahi kedalaman ritus bersih yang terkait dengan kelahiran.
Makna pokok ayat
Ayat ini menyatakan tepatnya tindakan fisik yang harus dilakukan pada bayi laki-laki pada hari kedelapan setelah kelahiran. Khatam kulup menjadi simbol keikutsertaan dalam perjanjian Allah dengan bangsa Israel. Praktik ini menghubungkan kelahiran dengan tanggung jawab rohani dan komunitas: semua laki-laki bagian dari perjanjian, tidak hanya melalui kelahiran, tetapi melalui pengakuan dan komitmen ritual untuk menjaga kefanaan dan kekudusan komunitasnya.
Tema utama
Cross-reference & hubungannya
Beberapa ayat yang sejalan untuk memahami makna sunat dan identitas perjanjian antara Tuhan dan umat-Nya meliputi:
Hubungan-hubungan ini menunjukkan bahwa sunat bukan sekadar tindakan fisik, melainkan bagian dari pembentukan komunitas yang berelasi dengan Tuhan dalam perjalanan pembaruan dan kepatuhan.
Refleksi praktis
Bagi pembaca modern, ayat ini mengajak mempertimbangkan bagaimana identitas spiritual dibentuk bukan hanya melalui ritual lahiriah, melainkan melalui komitmen hidup sehari-hari yang menegaskan kefanaan, kesucian, dan tanggung jawab terhadap sesama. Sunat sebagai simbol masa lalu menggugah kita untuk merenungkan bagaimana Tuhan memanggil umat-Nya untuk hidup berbeda dan bertekun dalam kasih serta ketaatan.
Kaitan dengan penafsiran para komentator terdahulu
Para penafsir publik domain seperti Matthew Henry dan Adam Clarke menekankan bahwa Tuhan menuntut kemurnian dan ketaatan dari bangsa Israel melalui bentuk-bentuk simbolik yang membentuk identitas mereka. Mereka menyatakan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan komitmen, bukan sekadar tindakan fisik belaka. Ketetapan ini juga menegaskan bahwa persiapan untuk penyembahan dan kedudukan dalam persekutuan Tuhan dimulai sejak masa bayi dan keluarga.
Ringkasan singkat
Imamat 12:3 menegaskan kewajiban ritual sunat pada bayi laki-laki pada hari kedelapan, sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan dan bagian dari identitas komunitas Israel. Praktik ini menggabungkan waktu, kemurnian, dan komitmen, membentuk dasar bagi bagaimana umat Tuhan hidup dalam kefanaan menuju penyucian yang lebih luas dalam perjalanan iman mereka.