Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 2:1 Pengkhotbah 2:2 Pengkhotbah 2:3 Pengkhotbah 2:4 Pengkhotbah 2:5 Pengkhotbah 2:6 Pengkhotbah 2:7 Pengkhotbah 2:8 Pengkhotbah 2:9 Pengkhotbah 2:10 Pengkhotbah 2:11 Pengkhotbah 2:12 Pengkhotbah 2:13 Pengkhotbah 2:14 Pengkhotbah 2:15 Pengkhotbah 2:16 Pengkhotbah 2:17 Pengkhotbah 2:18 Pengkhotbah 2:19 Pengkhotbah 2:20 Pengkhotbah 2:21 Pengkhotbah 2:22 Pengkhotbah 2:23 Pengkhotbah 2:24 Pengkhotbah 2:25 Pengkhotbah 2:26



Pengkhotbah 2:6 (IDN) — Ringkasan dan Penjelasan
Ayat ini berada dalam bagian Pengkhotbah yang menggambarkan eksperimen penulis dengan kekayaan dan kemewahan untuk mencari arti hidup. Dalam konteks itu, ia membangun kebun, rumah, dan fasilitas mewah untuk memanjakan diri. Ayat 6 menyatakan bahwa ia membangun kolam-kolam dan saluran air untuk “mendiris dengan dia hutan, yang menumbuhkan pohon kayu yang hijau.” Gambaran ini menunjukkan upaya menata alam dan memanfaatkan sumber daya untuk kenyamanan pribadi, sebagai bagian dari pencarian makna yang akhirnya tidak memuaskan.
Makna utama
Pengkhotbah mencatat bahwa segala usaha manusia untuk memperoleh kepuasan melalui kemewahan duniawi sering kali berujung pada kesia-siaan jika tidak diselaraskan dengan tujuan utama hidup di hadapan Tuhan. Kolam, saluran air, dan hutan yang tumbuh pohon hijau melambangkan kekayaan, kontrol, dan keamanan material. Namun, kesannya bukan kepuasan abadi, melainkan kritik terhadap filsafat hidup yang hanya bergantung pada kenikmatan fana.
Tema-tema kunci
Perangkat tafsiran klasik (ringkas)
Para penafsir publik domain menekankan bahwa pengkhotbah menguji semua jalan untuk menemukan kepuasan: kenikmatan, kekayaan, pekerjaan, dan proyek besar. Ketika semua itu tidak memuaskan, ia mengajar agar manusia takut akan Tuhan dan memelihara hikmat hidup di bawah otoritas-Nya. Dalam konteks ayat ini, tindakan membangun kolam dan saluran air menggambarkan kecenderungan manusia mengerahkan sumber daya demi kenyamanan pribadi tanpa tujuan yang lebih besar di luar diri sendiri.
Cuplikan singkat dari pemikiran para komentator publik domain yang relev: - Andrew S. Yang, ringkasannya, menyoroti bahwa tindakan menata alam menyingkap kegigihan manusia dalam mencari stabilitas tanpa arah ilahi. (Ringkasan umum, tidak kutipan langsung panjang)
Ayat silang dan hubungan alkitabiah
Beberapa ayat terkait menaruh fokus pada arti hidup di hadapan Tuhan: - Pengkhotbah 1:2–3 menggarisbawahi kesia-siaan semua usaha manusia tanpa tujuan ilahi. - Amsal 3:5–6 mengajak manusia untuk mengandalkan Tuhan dan mengarahkan langkah-langkah hidup kepada-Nya. - Mazmur 127:1-2 menekankan perlunya Tuhan membangun rumah, karena upaya manusia tanpa berkat Tuhan berujung sia-sia.
Koneksi praktis
Ayat ini mengajak pembaca untuk refleksi pribadi: bagaimana kita membangun “kolam” dan “saluran air” dalam hidup kita—pada pekerjaan, harta, atau fasilitas—tanpa kehilangan landasan iman. Kualitas hidup tidak hanya diukur dari kekayaan materi, tetapi juga integritas, tujuan yang jelas, dan hubungan dengan Tuhan. Ketika kita terlalu fokus pada dompet dan fasilitas, kita perlu kembali pada rendah hati, mengingat Tuhan yang memberi semua kemampuan untuk bekerja dan menikmati ciptaan-Nya.
Refleksi praktis
Ringkasan singkat
Pengkhotbah 2:6 menyajikan gambaran kemewahan yang dibuat untuk kenyamanan pribadi. Namun, penulis menunjukkan bahwa usaha material tanpa hakekat rohani tidak memberi makna sejati. Tafsiran klasik mengarahkan kita untuk mengevaluasi hidup di bawah hikmat Tuhan, mengakui keterbatasan manusia, dan mencari arti hidup dalam hubungan dengan Allah yang hidup.