Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 2:1 Pengkhotbah 2:2 Pengkhotbah 2:3 Pengkhotbah 2:4 Pengkhotbah 2:5 Pengkhotbah 2:6 Pengkhotbah 2:7 Pengkhotbah 2:8 Pengkhotbah 2:9 Pengkhotbah 2:10 Pengkhotbah 2:11 Pengkhotbah 2:12 Pengkhotbah 2:13 Pengkhotbah 2:14 Pengkhotbah 2:15 Pengkhotbah 2:16 Pengkhotbah 2:17 Pengkhotbah 2:18 Pengkhotbah 2:19 Pengkhotbah 2:20 Pengkhotbah 2:21 Pengkhotbah 2:22 Pengkhotbah 2:23 Pengkhotbah 2:24 Pengkhotbah 2:25 Pengkhotbah 2:26



Pengkhotbah 2:17 (IDN)
Imam beralih di antara kesenangan yang sementara dan pekerjaan yang melelahkan, mengungkapkan perasaan putus asa terhadap apa yang terjadi di bawah langit. Ayat ini mengikuti pengalaman Penulis dengan segala pekerjaan, harta, dan kemewahan sebagai upaya mencari arti hidup. Pada akhirnya, ia menemukan bahwa semua itu sia-sia jika tujuannya adalah kepastian dan kepuasan yang permanen.
Setting segera ayat
Pengkhotbah 2 menggambarkan proses mencoba hidup secara penuh: pembangunan rumah, taman, karya seni, musik, dan hiburan—semua dilakukan dengan tujuan menemukan kegembiraan dan makna. Namun setelah semua usahanya, ia menyimpulkan bahwa kekayaan dan kenikmatan duniawi tidak membawa kepuasan abadi, karena mereka berakhir pada kefanaan dan perasaan hampa. Ayat 17 menyatakan kesimpulan pahitnya: hidup ini, beserta segala yang diperbuat di bawah langit, pada akhirnya sia-sia dan melelahkan hati.
Apa yang diungkap teks tentang Allah dan iman
Ayah naratif ini menantang ekspektasi bahwa makna berasal dari kemegahan dunia. Penulis menunjukkan bahwa kebijaksanaan (dan bahkan kenyataan kefanaan) mengarahkan manusia untuk menaruh harapan pada sesuatu yang lebih abadi. Dalam konteks keseluruhan Pengkhotbah, temuan ini menyiapkan jalan bagi pemahaman bahwa makna sejati datang dari hubungan hidup yang benar dengan Tuhan, meskipun di tengah keterbatasan duniawi.
Istilah dan gambaran penting
Rujukan lintas (cross-references)
Beberapa ayat terkait membantu menyoroti tema kefanaan dan panggilan hidup yang lebih dalam:
Refleksi praktis untuk sekarang
Ringkasan tematik
Ayat ini menempatkan kita di hadapan kenyataan: usaha manusia dapat mengisi waktu, tetapi tanpa tujuan ilahi, hasilnya tetap tidak memuaskan. Kesadaran ini menyiapkan kita untuk mencari arti dalam hubungan dengan Tuhan dan panggilan-Nya, bukan semata-mata dalam capaian duniawi. Dalam pandangan para komentator klasik yang berdiri di atas teks: karya dan harta perlu dinilai melalui lensa kekal; tanpa itu, semua menjadi sia-sia.
Quotations (singkat) dari sumber teolog publik domain: Matthew Henry menekankan bahwa kebingungan manusia terhadap kefanaan menuntun ke penilaian bahwa banyak hal duniawi adalah “vanity of vanities, all is vanity.” Albert Barnes menyoroti sebagai peringatan untuk tidak meletakkan kebahagiaan pada hal-hal yang fana. Adam Clarke menegaskan bahwa kata-kata pengakhiran mengajak pembaca untuk mencari tujuan yang lebih tinggi di dalam hubungan dengan Tuhan.