Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia Maleakhi1 Korintus 2:3 Tafsiran ayat Alkitab
1 Korintus 2:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Aku sudah ada di dalam kelemahan dan ketakutan dan geletar yang sangat di antara kamu.
1 Korintus 2:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
1 Korintus 2:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

2 Korintus 13:4 (IDN) »
Karena memang Ia disalibkan dari sebab kelemahan, tetapi Ia hidup dari sebab kuasa Allah. Karena kami ini pun lemah juga di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama Dia, dari sebab kuasa Allah atas kamu.

1 Korintus 4:10 (IDN) »
Kami ini menjadi bodoh oleh sebab Kristus; tetapi kamulah bijak di dalam Kristus; kami ini lemah, tetapi kamulah kuat, kamulah mulia, tetapi kami ini hina.

2 Korintus 12:5 (IDN) »
Maka bagi pihak orang yang tersebut itulah aku bermegah-megah, tetapi bagi pihak aku sendiri tiada aku memegahkan, kecuali akan segala kelemahanku.
Inti Makna Ayat
Rasul Paulus mengakui keadaan batin yang rapuh saat ia datang ke jemaat Korintus: kelemahan, ketakutan, dan gemetar. Ketiga unsur itu menunjukkan bahwa eksegesis umat Tuhan tidak bergantung pada kehebatan manusia, melainkan pada kekuatan Allah yang bekerja secara menyeluruh di dalam kelemahan manusia.
Latar Kontekstual
1 Korintus 2:3 muncul dalam konteks Paulus menjelaskan bagaimana pengajarannya tidak mengandalkan kepandaian manusia atau retorika mewah, melainkan kuasa Roh Allah. Di tengah jemaat yang beragam, termasuk pertentangan budaya dan masalah rohani, Paulus menempatkan dirinya sebagai contoh bahwa pelayanan yang otentik sering kali disertai kelemahan manusiawi. Ia tidak mengedepankan persiapan yang luar biasa secara manusia, melainkan ketergantungan penuh pada karya Allah yang bekerja dalam cara yang sering terlihat lemah di mata dunia.
Observasi Penafsiran
Pandangan Tema
Hubungan dengan Ayat Lain
2 Korintus 12:9-10 menegaskan bahwa kekuatan Allah dinyatakan dalam kelemahan, sehingga umat Tuhan tidak perlu menutupi kekurangan, melainkan bersandar pada kasih dan kuasa-Nya. Sesungguhnya aku telah menjadi lemah karena Kristus; sebab, ketika aku lemah, maka aku kuat.
2 Korintus 4:7 menggambarkan manusia sebagai bejana tanah liat yang menyimpan harta yang luar biasa—kekuatan ilahi yang tidak berasal dari diri sendiri. Ini sejalan dengan pesan Paulus bahwa kelemahan manusia dipakai untuk memuliakan Tuhan.
1 Korintus 1:27 menunjukkan bahwa Allah memilih apa yang dianggap bodoh oleh dunia untuk mempermalukan yang bijak, sehingga kepandaian manusia tidak menjadi dasar panggilan Allah.
Rangkuman Aplikasi Praktis
Pernyataan Singkat
Dalam kelemahan, Allah bekerja untuk meneguhkan iman jemaat. Ketakutan dan gemetar bukan tanda kegagalan, melainkan panggilan untuk hidup bergantung penuh pada Kristus.
Quotations (Ringkas, bila relevan)
Beberapa komentar klasik menonjolkan bahwa kemampuan manusia tidak cukup untuk menghadirkan kabar keselamatan; yang penting adalah pekerjaan Roh Allah yang menguatkan hati jemaat. (Catatan: tidak ada kutipan literal penuh dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke yang disertakan dalam teks ini; hanya rujukan umum.)
Penafsir Luar Sumber Klasik Terpilih
Penala hukum tafsiran lama menyoroti bahwa Paulus menempatkan jemaat pada ketergantungan kepada Allah daripada kekuatan intelektual atau retorika. Hal ini menjadi teladan bagi setiap pengkhotbah untuk mengutamakan kuasa Roh di atas kehebatan manusia.