Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiRut 1:20 Tafsiran ayat Alkitab
Rut 1:20 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka katanya kepada mereka itu: Jangan apalah kamu memanggil Naomi akan daku, melainkan si Mara, karena yang Mahakuasa itu sudah memberi mara akan daku sangat.
Rut 1:20 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Rut 1:20 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ayub 6:4 (IDN) »
karena anak panah Allah yang Mahakuasapun masuklah ke dalam aku, hatikupun minum bisanya; segala kegentaran dari pada Allah beratur-atur melawan aku.

Ibrani 12:11 (IDN) »
Adapun segala ajaran bagi sementara ini belum mendatangkan sukacita, melainkan duka cita; tetapi kemudian kelak dikeluarkannya kebenaran akan buahnya, yang mendatangkan sentosa kepada orang yang mahir dengan ajaran itu.

Ruth 1:20 (IDN) — “Mara yang Mahakuasa telah memberi mara kepadaku”
Inti interpretatif: Nabi-nabiud Roh tentang kehilangan harapan dan bagaimana penderitaan bisa membentuk persepsi manusia mengenai kasih Allah. Dalam konteks rutinitas perjalanan Naomi, kenyataan pahit yang ia sampaikan mencerminkan tekanan batin yang sering muncul saat keadaan tidak sesuai dengan harapan kita terhadap kebaikan Allah. Namun, di balik kenyataan itu, kitab Rut mengarahkan pembaca pada keteguhan Allah dalam menata nubuat-nubuat kecil yang akhirnya memimpin kepada datangnya pembebasan dan pemulihan bagi keturunan Israel.
Tinjauan konteks sastra
Ruth 1 menggambarkan migrasi keluarga Naomi ke tanah asing karena kelaparan, serta respons pahit Naomi terhadap nasibnya sendiri. Ungkapan “Mara” diucapkan sebagai tanda keperihan dan kehilangan kelegaan. Secara bahasa, kata itu mencerminkan keadaan yang penuh getir, bukan sekadar keluh kesah pribadi. Narasi ini menyiapkan latar bagi perjumpaan Naomi dengan Rut, yang kemudian menuntun pada perubahan tak terduga melalui loyalitas Rut dan tindakan kebaikan Boas.
Signifikansi teologis
Frasa “yang Mahakuasa itu sudah memberi mara” menekankan bahwa pengalaman pahit manusia pun berada dalam kendali Dialah yang berkuasa. Ini bukan menghapus penderitaan, melainkan menempatkan penderitaan di bawah rencana Allah. Dalam Alkitab, kekecewaan Naomi dicatat agar pembaca melihat bagaimana Allah bekerja melalui situasi-situasi getir untuk menyelamatkan umat-Nya dan membangun rencana penyelamatan yang lebih luas melalui garis keturunan Daud dan akhirnya kedatangan Mesias.
Hubungan dengan bagian lain Alkitab
Pertanyaan renungan
Penutup singkat
Rut 1:20 menampilkan bagaimana kegelapan sementara dapat menjadi pintu masuk bagi pemulihan yang lebih besar. Penderitaan Naomi tidak akhir cerita; itu adalah bagian dari cara Allah membangun rencana keselamatan melalui relasi yang setia dan tangguh. Dengan demikian, kita diajak melihat bahwa iman yang berpegang pada Allah tidak meniadakan penderitaan, melainkan menempatkannya dalam konteks penyertaan-Nya yang lebih besar.
Referensi silang
1) Keberanian Naomi dan Rut mengarah pada penemuan kembali harapan di Betlehem; 2) Janji Allah pada Daud melalui garis keturunan Ruth menunjukkan pemulihan bangsa; 3) Ratapan dalam kitab Mazmur sering menerima makna ketika iman menantang kenyataan pahit namun menegaskan kehadiran Allah di tengah penderitaan.
Catatan kutipan: Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke dikenal dengan komentar-komentar klasik tentang penderitaan manusia dan rencana ilahi. Ringkasan gagasan mereka menekankan bahwa kekecewaan bisa menjadi jalan bagi pemahaman yang lebih dalam tentang penyertaan Allah, meskipun tidak menghapus rasa getir pada saat itu.