Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Roma 9:1 Roma 9:2 Roma 9:3 Roma 9:4 Roma 9:5 Roma 9:6 Roma 9:7 Roma 9:8 Roma 9:9 Roma 9:10 Roma 9:11 Roma 9:12 Roma 9:13 Roma 9:14 Roma 9:15 Roma 9:16 Roma 9:17 Roma 9:18 Roma 9:19 Roma 9:20 Roma 9:21 Roma 9:22 Roma 9:23 Roma 9:24 Roma 9:25 Roma 9:26 Roma 9:27 Roma 9:28 Roma 9:29 Roma 9:30 Roma 9:31 Roma 9:32 Roma 9:33



Roma 9:14 (IDN): Apakah yang hendak kita katakan? Lalimkah Allah itu? Mustahil.
Setting segera: Dalam pasal ini Rasul Paulus membahas kedaulatan Allah dalam pemilihan umat, menjelaskan bagaimana Allah berhak menentukan kenyataan rohani manusia berdasarkan tujuan-Nya sendiri, bukan karena usaha atau pantasnya manusia. Ayat ini muncul sebagai respons retoris terhadap sanggahan bahwa jika Allah berkuasa memilih sebagian orang untuk mengalami kasih-Nya, maka adilkah jika Allah "menolak" sebagian lainnya. Paulus menegaskan bahwa Tuhan tidak bersalah karena kasih dan keadilan-Nya tidak tergantung pada standar manusia.
Makna utama tentang Allah dan iman
Ayat ini menantang pandangan bahwa keimanan adalah hasil kerja manusia semata. Paulus menekankan bahwa jika Allah menaruh kasih karunia pada sebagian, itu karena tujuan-Nya sendiri, bukan karena kontribusi manusia. Pertanyaan retoris “Lalimkah Allah itu?” mengarahkan pembaca untuk melihat bahwa keabsahan kemurahan-Nya tidak dapat diukur dari standar manusia, melainkan dari kehendak-Nya yang otonom. Dalam konteks pasal 9, ini menegaskan bahwa pemilihan Allah bersifat predestinasional demi kemuliaan-Nya dan pembenaran bagi mereka yang dipanggil-Nya.
Kata-kata penting dan gambaran
Pemahaman melalui pandangan tokoh teolog publik domain
Beberapa komentator kuno menekankan kedaulatan Tuhan dalam pembentukan umat-Nya. Mereka menyoroti bahwa belas kasihan Allah tidak mengikuti ukuran manusia, melainkan tujuan-Nya yang lebih besar untuk memajukan kemuliaan-Nya. Dalam kerangka ini, hukum kehendak manusia tidak bisa menuduh Allah karena kasih dan keadilan-Nya berakar pada kehendak-Nya sendiri.
Referensi silang yang relevan
• Roma 9:11-12, menunjukkan bahwa pemilihan Allah tidak bergantung pada keinginan manusia, melainkan pada panggilan-Nya. Keterangan singkat: seperti yang dijelaskan Paulus tentang bagaimana kasih karunia bekerja di luar kehendak manusia.
• Efesus 1:4-5, menekankan pemilihan Allah sebelum dunia diciptakan untuk menjadi kudus di hadapan-Nya, demi kasih karunia-Nya.
• Roma 11:33-36, menutup dengan pujian atas kebijaksanaan-Nya yang tak terbandingkan, menyiratkan bahwa kehendak-Nya mendahului dan menyertai segala tindakan-Nya.
Pendalaman kata historis dalam konteks ini
Para penerjemah menegaskan bahwa pertanyaan retoris Paulus menuntun pembaca untuk menilai kembali standar manusia terhadap keadilan Tuhan. Belas kasih Tuhan tidak dapat dipahami hanya melalui pengalaman manusia; ia bekerja sesuai tujuan-Nya yang lebih besar untuk kemuliaan-Nya dan pembenaran bagi yang dipanggil-Nya.
Aplikasi praktis untuk orang percaya hari ini
Ringkasnya, Roma 9:14 menegaskan kedaulatan Allah dalam pemilihan-Nya dan menantang kita untuk menerima bahwa kasih karunia-Nya melampaui ukuran manusia, sambil tetap memegang iman bahwa Allah adalah adil dan mulia dalam segala tindakan-Nya.
Kutipan singkat yang relevan (dari tokoh teolog publik domain, jika ada): “Allah tidak bersalah karena kasih-Nya; kehendak-Nya adil dan mulia.”