Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Matius 7:1 Matius 7:2 Matius 7:3 Matius 7:4 Matius 7:5 Matius 7:6 Matius 7:7 Matius 7:8 Matius 7:9 Matius 7:10 Matius 7:11 Matius 7:12 Matius 7:13 Matius 7:14 Matius 7:15 Matius 7:16 Matius 7:17 Matius 7:18 Matius 7:19 Matius 7:20 Matius 7:21 Matius 7:22 Matius 7:23 Matius 7:24 Matius 7:25 Matius 7:26 Matius 7:27 Matius 7:28 Matius 7:29

Matius 7:9 (IDN) – Pertanyaan tentang kebaikan Bapa
Ayat ini muncul dalam bagian pengajaran Yesus tentang doa dan hidup yang konsisten dengan iman. Dalam konteks Khutbah di bukit, frasa ini menanyakan afirmasi sederhana: jika seorang anak meminta roti, akankah ayahnya memberikan batu? Pertanyaan retoris ini menantang pandangan manusia tentang kebaikan, memperlihatkan bagaimana kasih ayah manusia berbeda dari kasih Allah yang sempurna. Ayat ini menyiapkan gambaran tentang bagaimana Allah mendengar permohonan umat-Nya dan mengarahkan mereka kepada doa yang penuh kepercayaan, sambil membangkitkan kebutuhan untuk memahami maksud ilahi di balik jawaban-Nya.
Makna utama
Pertanyaan ini menegaskan bahwa Allah, sebagai Bapa surgawi, tidak menaruh rintangan palsu di hadapan kita ketika kita meminta yang baik. Ia tahu bagaimana memberi yang terbaik pada waktunya. Ayat ini juga menantang pembaca untuk tidak menganggap doa sebagai ritual kosong, melainkan sebagai sarana hubungan dengan Bapa yang mengasihi. Dalam konteks keseluruhan khotbah, ayat ini menekankan iman, ketekunan dalam doa, dan kepercayaan bahwa Allah mengarahkan hidup kita dalam kasih-Nya yang bijaksana.
Tema utama
Referensi silang yang relevan
Beberapa bagian Alkitab yang menegaskan tema ini meliputi:
Refleksi praktis
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajak umat percaya untuk:
Ringkasan penutup
Ayat ini menyuguhkan gambaran sederhana namun dalam tentang kebaikan Allah sebagai Bapa. Ia memelihara, membimbing, dan memberikan yang terbaik bagi mereka yang dengan rendah hati datang kepada-Nya dalam doa. Ketika kita menatap permohonan kita kepada-Nya, kita diingatkan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada pertimbangan manusia.
Cuplikan dari para komentator PD lama (singkat)
Adam Clarke menekankan bahwa Allah bukan saja menyediakan apa yang kita minta, tetapi sering memberikan sesuatu yang lebih baik sesuai tujuan-Nya. Albert Barnes menambahkan bahwa perumpamaan ini menegaskan sifat-Nya yang tidak menipu atau menyepelekan praktik doa yang tulus. Matthew Henry menyoroti bahwa pertanyaan retoris menunjukkan kepedulian Allah pada kebutuhan manusia sebagai bukti kasih-Nya.
Ayat ini menggeser fokus kita dari kepentingan pribadi ke kepercayaan akan rencana Tuhan yang penuh kasih, sehingga doa menjadi dialog yang membentuk hidup kita sesuai kehendak-Nya.