Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Matius 20:1 Matius 20:2 Matius 20:3 Matius 20:4 Matius 20:5 Matius 20:6 Matius 20:7 Matius 20:8 Matius 20:9 Matius 20:10 Matius 20:11 Matius 20:12 Matius 20:13 Matius 20:14 Matius 20:15 Matius 20:16 Matius 20:17 Matius 20:18 Matius 20:19 Matius 20:20 Matius 20:21 Matius 20:22 Matius 20:23 Matius 20:24 Matius 20:25 Matius 20:26 Matius 20:27 Matius 20:28 Matius 20:29 Matius 20:30 Matius 20:31 Matius 20:32 Matius 20:33 Matius 20:34



Ringkasan Pembaca: Matius 20:18
Ayat ini menempatkan pengakuan Yesus tentang rencana-Nya yang telah ditetapkan, meskipun jalannya menuju kemuliaan melalui sengsara. Dalam konteks perjalanan-Nya menuju Yerusalem, Dia menjelaskan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke tangan pemimpin agama Yahudi, yang kemudian akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Ini menegaskan kedudukan-Nya sebagai Mesias yang bersembunyi dalam jalan salib, serta menyoroti kedaulatan Allah dalam rencana keselamatan meski manusia menolak-Nya.
Ayat dalam konteks pasal
Dalam Matius 20, murid-murid Allah sedang belajar tentang kerajaan-Nya yang tidak mengikuti pola dunia. Yesus menubuhkan gagasan bahwa pengikut-Nya sering dipanggil untuk menanggung salib dan mengikuti teladan-Nya—meski ini bertentangan dengan pengharapan dunia tentang kejayaan politik dan kekuasaan. Ayat 18–19 menyiapkan pembaca untuk memahami bagaimana kematian-Nya di salib adalah bagian penting dari rencana-Nya untuk menebus umat manusia.
Pelajaran rohaniah utama
Korespondensi dengan kitab suci lain
Beberapa rujukan silang yang relevan:
Aplikasi praktis
Pengikut Kristus dipanggil untuk mempercayai bahwa jalannya sering melibatkan pengorbanan dan taat meski menyediakan kemuliaan di masa depan. Dalam menghadapi kebingungan atau penolakan, kita diajak menaruh iman pada rencana Allah yang lebih besar daripada kenyamanan dunia saat ini. Ketahuilah bahwa penyerahan-Nya memberi kita contoh untuk setia dan berani dalam doa, pelayanan, dan kasih kepada sesama.
Penjelasan singkat dengan pandangan para komentator gereja lama
Beberapa pandangan klasik membantu menafsir ayat ini secara praktis:
Matthew Henry menekankan bahwa penyerahan Yesus ke tangan pemimpin agama menunjukkan bahwa penghiburan dan keselamatan umat manusia datang melalui ketaatan-Nya secara sempurna. Albert Barnes menyoroti bahwa “Anak manusia itu” merujuk pada Kristus sebagai raja yang juga menjadi korban, menunjukkan kedalaman kasih Allah. Adam Clarke menambahkan bahwa rencana ini menegaskan identitas-Nya sebagai Mesias yang telah dinubuatkan, meskipun manusia akan menolaknya.
Cross-references dan kaitannya
Beberapa referensi silang penting:
Akhir rangkuman
Ayat ini menampilkan keseimbangan antara manusia yang menolak dan rencana Allah yang menebus. Yesus dengan tegas mengungkap bahwa jalan keselamatan datang melalui penyerahan diri-Nya ke tangan pemimpin dunia saat itu, untuk menebus banyak orang. Bagi pembaca Indonesia yang percaya, ayat ini menantang untuk percaya di tengah penantian akan kemuliaan akhir, sambil tetap taat menjalani hidup yang berpusat pada kasih Kristus.