Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Matius 18:1 Matius 18:2 Matius 18:3 Matius 18:4 Matius 18:5 Matius 18:6 Matius 18:7 Matius 18:8 Matius 18:9 Matius 18:10 Matius 18:11 Matius 18:12 Matius 18:13 Matius 18:14 Matius 18:15 Matius 18:16 Matius 18:17 Matius 18:18 Matius 18:19 Matius 18:20 Matius 18:21 Matius 18:22 Matius 18:23 Matius 18:24 Matius 18:25 Matius 18:26 Matius 18:27 Matius 18:28 Matius 18:29 Matius 18:30 Matius 18:31 Matius 18:32 Matius 18:33 Matius 18:34 Matius 18:35



Matius 18:27 (IDN)
Gambaran singkat: Ayat ini menampilkan belas kasihan tuan kepada hamba yang terbelit utang, menggeser fokus dari hukum ke kasih. Dalam konteks pasal 18, kebenaran tentang pengampunan dan hubungan sesama ditata melalui perumpamaan tentang utang-piutang, pengakuan kesalahan, dan pengampunan tanpa batas jika kita menerima belas kasih Allah. Ayat ini menampilkan momen perlakuan welas asih yang membebaskan, meski sebelumnya hamba itu tidak berbuat demikian kepada sesamanya.
Ayat dalam konteks pasal 18
Pasal ini menyoroti bagaimana Tuhan mengajar murid-murid tentang sikap terhadap sesama, terutama dalam hal pengampunan. Perumpamaan tentang hamba yang berutang ratusan dinar menegaskan bahwa bila Allah telah mengampuni kita secara besar, kita pun dipanggil untuk mengampuni orang lain. Ayat 27 menekankan tindakan nyata belas kasihan: tujuan hukum tidak semata-mata menegakkan utang, melainkan memulihkan hubungan melalui pengampunan.
Inti rohani: belas kasih yang membebaskan
Kekuatan utama ayat ini adalah penggambaran bahwa belas kasihan Allah menggerakkan kita untuk melepaskan beban sesama. Jangan sampai pengampunan yang telah kita terima menjadi alasan bagi kita untuk menahan pengampunan terhadap orang lain. Pengampunan adalah cara Allah bekerja melalui umat-Nya untuk mengubah hubungan manusia menjadi lebih manusiawi, adil, dan penuh kasih.
Pandangan tokoh-tokoh publik domain (singkat, relevan)
Beberapa komentator publik domain menekankan bahwa kisah ini menampilkan pola: kita menerima pengampunan yang besar dari Tuhan, lalu kita diperhadapkan pada kewajiban memberi pengampunan pula. Pengalaman belas kasih Allah menjadi dasar etika hubungan antar-manusia. Perhatikan bagaimana Henry, Barnes, dan Clarke melihat hubungan antara pengampunan ilahi dan pengampunan antarmanusia.
Catatan singkat: kutipan langsung singkat dari sumber tua tidak disediakan di sini kecuali ada bagian yang secara eksplisit disebutkan. (Kutipan langsung singkat dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke akan dicantumkan jika tersedia.)
Ayat terkait (cross-references) dan maknanya
Penjelasan singkat: Ketiga silang-pemahaman menekankan bahwa pengampunan bukan sekadar sikap batin, tetapi tindakan yang membentuk relasi gereja dan keluarga manusia yang saling berhubungan.
Penerapan praktis
Ringkasan
Ayat 27 menegaskan bahwa belas kasih Allah menuntun kita untuk melepaskan utang sesama. Pengampunan tidak hanya memulihkan hubungan pribadi tetapi juga menjadi sarana nyata bagi kehidupan komunitas yang merefleksikan kasih Allah. Menghayati pengampunan yang telah kita terima, kita dipanggil mengampuni dengan tulus, sehingga relasi kita diwarnai belas kasihan yang memperbarui diri dan lingkungan kita.