Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiRatapan 2:19 Tafsiran ayat Alkitab
Ratapan 2:19 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bangunlah, tangislah sepanjang malam mulai dari pada waktu jaga yang pertama! Curahkanlah hatimu seperti air di hadapan hadirat Tuhan; tadahkanlah tanganmu kepadanya, pohonkanlah akan jiwa anak-anakmu yang terhantar dengan pingsan pada siku segala lorong-lorong sebab lapar!
Ratapan 2:19 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ratapan 2:19 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Mazmur 62:8 (IDN) »
(62-9) Haraplah akan Dia, hai segala umat! pada sediakala; curahkanlah isi hatimu di hadapan hadirat-Nya; bahwa Allah itulah perlindungan bagi kami. -- Selah.

Mazmur 119:147 (IDN) »
Maka dengan tangisku aku mendahului waktu rembang fajar merekah, dan aku harap akan firman-Mu.

Mazmur 142:2 (IDN) »
(142-3) Bahwa aku mencurahkan pengaduhanku di hadapan hadirat-Nya, dan aku memaklumkam kepada-Nya kepicikanku.
Renyah Ratapan 2:19 – Bangunlah, tangislah sepanjang malam
Ratapan pasal 2 menggambarkan kemarahan dan kehancuran Yerusalem akibat kemarahan Tuhan. Ayat 19 memanggil umat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dalam situasi kelaparan dan keputusasaan, menaruh hati di hadapan Tuhan, dan memohon pembebasan serta pemeliharaan anak-anak mereka. Dalam konteks kebangunan hati, ayat ini menekankan iman yang berani menembus penderitaan, sambil menyerahkan diri pada sutra kasih Tuhan yang penuh belas kasihan.
Ayat dalam konteks pasal
Pada bagian ini, ratapan berujung pada seruan doa yang intens. Kota yang telah diratapi menumpahkan kedukaan secara terbuka: tangisan larut malam, air mata yang mengalir sebagai ekspresi kehilangan, dan doa yang curam untuk pemulihan. Ayat 19 menempatkan doa sebagai respon terkuat terhadap krisis: Bangunlah, tangislah, curahkan hati, angkatlah tangan, dan tinjau keadaan dengan iman akan janji Tuhan. Seruan ini tidak sekadar kelegaan emosional, melainkan tindakan rohani yang bersandar pada kedaulatan Tuhan atas kelaparan dan kehancuran.
Pelajaran rohani utama
Penafsiran dengan rujukan tokoh bersejarah
Para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menegaskan bahwa seruan pada ayat ini menekankan kesungguhan doa saat sengsara, bukan doa yang dangkal. Henry menyoroti dorongan untuk berdoa dengan tekun hingga larut malam sebagai wujud iman yang tidak menyerah. Barnes menekankan bahwa curah hati di hadirat Tuhan adalah inti hubungan dengan-Nya, sementara Clarke menekankan aspek tindakan—tangan terangkat dan hati yang dibawa ke hadapan Tuhan sebagai simbol penyerahan penuh.
Variasi interpretasi singkat (tanpa menyalin teks penuh)
Ada kualitas drama prayerful di ayat ini: bangun, tangis, curahkan hati, angkat tangan—semua itu menunjukkan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan respons iman terhadap keadaan manusiawi yang getir. Doa di hadapan Tuhan menjadi saluran bagi belas kasihan-Nya untuk bekerja kembali di tengah kehancuran.
Cross-references dan keterkaitan rohani
Aplikasi praktis untuk pembaca masa kini
Ringkasan singkat
Ayat ini menuntun umat untuk bangkit dari kejatuhan dengan doa yang jujur dan penuh harap di hadapan Tuhan. Ia menekankan tindakan iman: membawa keluh kesah ke hadapan Tuhan, mengangkat hati dan tangan, sambil percaya bahwa Tuhan sanggup memberi pemulihan meski keadaan tampak kelam.