Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiRatapan 2:18 Tafsiran ayat Alkitab
Ratapan 2:18 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa hati mereka itu menangislah kepada Tuhan: Wai pagar tembok puteri Sion! Biarlah air matamu berlinang-linang seperti anak sungai pada siang dan malam! janganlah engkau bersenang; biji matamupun jangan berhenti!
Ratapan 2:18 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ratapan 2:18 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Mazmur 119:145 (IDN) »
Maka akupun berseru dengan segenap hatiku, dengarlah akan daku, ya Tuhan! maka aku akan memeliharakan segala syariat-Mu.

Ratapan 2:8 (IDN) »
Bahwa niat Tuhan juga hendak membinasakan pagar tembok puteri Sion; dikenakan-Nya tali sipat; tiada Ia berhenti dari pada menelan; sekarang muramlah kota dan pagar temboknya, bersama-sama ia sudah jadi lemah.

Yeremia 9:1 (IDN) »
Aduh, jikalau kiranya kepalaku dari pada air dan matakupun suatu pancaran air mata, niscaya siang malam aku akan menangisi segala orang puteri bangsaku yang telah dibunuh.
Rata-rata Makna Ratapan 2:18 dalam Konteksnya
Ayat Ratapan 2:18 menyiratkan ratapan yang mendalam atas kehancuran Yerusalem dan pagar tembok puteri Sion. Penatua Yehu, nabi, atau penulis ratapan menggambarkan air mata umat sebagai respons emosional yang intens terhadap kemusnahan kota suci dan kehilangan perlindungan Tuhan atas umat pilihan. Dalam konteks kitab Ratapan secara umum, suasana sengsara ini lahir dari kekecewaan karena Allah menahan belas kasihan-Nya terhadap umat-Nya karena pelanggaran mereka. Namun, ratapan ini juga mengangkat doa, harapan, dan seruan untuk pertobatan, meskipun jalan keluar tampak jauh.
Inti Makna Versi ini
Ayat ini menekankan respons hati umat Allah terhadap kehancuran. Hati yang berduka memanggil Tuhan dengan bahasa yang kuat: “Wai pagar tembok puteri Sion!” menegaskan bahwa kota Yerusalem, sebagai simbol perjanjian dan kehadiran Tuhan, merasakan piek yang mendalam. Air mata mengalir seperti sungai siang dan malam, menandakan kesedihan yang tidak kunjung berhenti. Bahkan kelegaan kecil pun tampak hilang, karena penderitaan berlanjut tanpa henti. Nada ayat ini menegaskan bahwa di tengah kegelapan, doa dan kehadiran Allah tetap menjadi harapan, meskipun terasa jauh.
Tema-tema kunci
Referensi silang yang relevan
Beberapa bagian lain dalam kitab ratapan menegaskan pola seruan kepada Tuhan di tengah kehancuran, misalnya:
Ringkasnya, ayat ini menempatkan umat dalam posisi mengakui kehancuran sambil tetap memohon kehadiran Allah. Mirip dengan tema-tema dalam pasal-pasal Ratapan lain, pengakuan dosa dan penyerahan kepada belas kasihan Tuhan menjadi langkah menuju pemulihan rohani.
Dimensi praktis untuk pembaca hari ini
Ketika menghadapi kegoncangan pribadi maupun komunitas, respons batin yang jujur kepada Tuhan adalah penting. Mengakui kedalaman kesedihan tidak berarti kehilangan iman, melainkan meletakkan kepercayaan pada belas kasihan Tuhan yang berubah-ubah. Doa yang tulus bisa disertai dengan tindakan kasih—membantu sesama yang terluka, mengingat Tuhan yang setia tetap memelihara janji-Nya.
Intisari penutup
Ratapan 2:18 menyoroti kesedihan yang membanjiri kota suci dan hati umatnya ketika mereka merasakan kehilangan perlindungan Tuhan. Namun, nada doa dan seruan kepada Tuhan di tengah kehilangan membuka jalan bagi pemulihan rohani. Air mata yang mengalir menjadi simbol empati ilahi terhadap penderitaan manusia, sambil mengingatkan bahwa harapan tetap hidup dalam belas kasihan Tuhan.
Tafsir singkat dari tokoh-tokoh berbahasa Latin-Publik domain
Beberapa commentator kelas klasik menekankan bahwa ratapan ini tidak sekadar keputusasaan, tetapi juga panggilan untuk sadar akan pelanggaran masa lalu dan kebutuhan kembali kepada Tuhan. Kutipan pendek dari ahli terdahulu:
“Hati mereka menangis kepada Tuhan; air mata seperti anak sungai siang dan malam.”
Catatan: Kutipan ini merujuk pada nuansa bahasa yang disorot para penafsir publik domain untuk menekankan intensitas ratapan dan kebergantungan pada belas kasihan Tuhan.