Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Hakim-hakim 1 Hakim-hakim 2 Hakim-hakim 3 Hakim-hakim 4 Hakim-hakim 5 Hakim-hakim 6 Hakim-hakim 7 Hakim-hakim 8 Hakim-hakim 9 Hakim-hakim 10 Hakim-hakim 11 Hakim-hakim 12 Hakim-hakim 13 Hakim-hakim 14 Hakim-hakim 15 Hakim-hakim 16 Hakim-hakim 17 Hakim-hakim 18 Hakim-hakim 19 Hakim-hakim 20 Hakim-hakim 21Verse
Hakim-hakim 2:1 Hakim-hakim 2:2 Hakim-hakim 2:3 Hakim-hakim 2:4 Hakim-hakim 2:5 Hakim-hakim 2:6 Hakim-hakim 2:7 Hakim-hakim 2:8 Hakim-hakim 2:9 Hakim-hakim 2:10 Hakim-hakim 2:11 Hakim-hakim 2:12 Hakim-hakim 2:13 Hakim-hakim 2:14 Hakim-hakim 2:15 Hakim-hakim 2:16 Hakim-hakim 2:17 Hakim-hakim 2:18 Hakim-hakim 2:19 Hakim-hakim 2:20 Hakim-hakim 2:21 Hakim-hakim 2:22 Hakim-hakim 2:23



Hakim-hakim 2:5 (IDN) — “Bokhim” dan pemberontakan yang terikat pada tempat ibadah
Gambaran singkat: Ayat ini menggambarkan reaksi umat Israel setelah menamai suatu tempat sebagai Bokhim dan mempersembahkan korban kepada Tuhan di sana. Peristiwa ini muncul sebagai bagian dari pola siklus umat yang tidak setia: pengajaran, penyembahan beraneka rupa, dan moral yang terkikis ketika pemimpin hidup terlepas dari kehendak Tuhan. Ayat ini menegaskan bahwa tempat ibadah menjadi simbol ketundukan atau pemberontakan hati manusia terhadap perintah Allah.
Ayat dalam konteks pasal
Dalam kitab Hakim-hakim, para hakim muncul sebagai pemimpin sementara untuk membebaskan bangsa Israel dari penindasan. Namun, seringkali mereka gagal membawa bangsa itu sepenuhnya kepada ketundukan kepada Tuhan. Ayat ini menyoroti respons umat ketika memilih menyembah Tuhan di suatu tempat sebagai kebiasaan, tanpa hati yang setia, dan mengindikasikan bahwa tempat ibadah bisa menjadi refleksi kesetiaan atau kemunafikan.
Pelajaran utama
Perbandingan alkitabiah
Beberapa bagian lain menegaskan bahwa Allah menilai bukan sekadar ritual, melainkan keadaan hati. Contoh relevan:
Penafsir beraliran klasik (sinkron dengan pandangan para komentator publik-domain)
Beberapa pandangan dari penafsir publik-domain memberikan nuansa berikut:
Matthew Henry menekankan bahwa tempat suci bisa menjadi pengingat akan perjanjian Tuhan, tetapi jika hati tidak tunduk kepada Tuhan, ritual menjadi dangkal. Albert Barnes menekankan bahwa penyembahan yang disertai kemunafikan tidak membangun hubungan dengan Tuhan. Adam Clarke menunjukkan bahwa peristiwa Bokhim mengilustrasikan kemelut kerohanian bangsa Israel yang sering berpindah-pindah kepada Tuhan sesuai kebutuhan, bukannya hidup dalam ketaatan kontinu. Dalam gambaran ringkas, ketiganya menegaskan peringatan bahwa relasi dengan Tuhan adalah inti, bukan sekadar simbol maupun tempat.
Penerapan praktis
Untuk pembaca masa kini, ayat ini mengajak kita mempertanyakan:
Rujukan silang yang relevan
Ringkasan
Hakim-hakim 2:5 menegaskan pelajaran bahwa tempat ibadah adalah sarana, bukan tujuan akhirnya. Persekutuan dengan Tuhan berlangsung dalam ketaatan hati yang tulus. Ketika umat menomorduakan isi hati kepada Tuhan, penilaian Tuhan atas penyembahan pun menjadi jelas: ibadah yang lahir dari ketulusan jauh lebih bernilai daripada ritual yang tanpa integritas.