Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Hakim-hakim 1 Hakim-hakim 2 Hakim-hakim 3 Hakim-hakim 4 Hakim-hakim 5 Hakim-hakim 6 Hakim-hakim 7 Hakim-hakim 8 Hakim-hakim 9 Hakim-hakim 10 Hakim-hakim 11 Hakim-hakim 12 Hakim-hakim 13 Hakim-hakim 14 Hakim-hakim 15 Hakim-hakim 16 Hakim-hakim 17 Hakim-hakim 18 Hakim-hakim 19 Hakim-hakim 20 Hakim-hakim 21Verse
Hakim-hakim 15:1 Hakim-hakim 15:2 Hakim-hakim 15:3 Hakim-hakim 15:4 Hakim-hakim 15:5 Hakim-hakim 15:6 Hakim-hakim 15:7 Hakim-hakim 15:8 Hakim-hakim 15:9 Hakim-hakim 15:10 Hakim-hakim 15:11 Hakim-hakim 15:12 Hakim-hakim 15:13 Hakim-hakim 15:14 Hakim-hakim 15:15 Hakim-hakim 15:16 Hakim-hakim 15:17 Hakim-hakim 15:18 Hakim-hakim 15:19 Hakim-hakim 15:20



Hakim-hakim 15:1 dalam konteks cerita Simson
Ayat ini berada setelah Simson kembali dari pertempuran dengan orang Filistin. Ia melanjutkan perjalanan ke kota keluarganya selama masa panen, membawa seekor anak kambing sebagai persembahan salam. Permintaan Simson untuk masuk ke kamar bekas istrinya menyingkap dinamika hubungan antara Simson, keluarganya, dan perempuan yang menjadi bagian dari kisah hidupnya. Penghalangan oleh ayah perempuan itu menegaskan adanya batas budaya dan konflik batin yang melingkupi pilihan pribadi Simson.
Makna inti ayat
Ayat ini menyoroti kombinasi antara keinginan pribadi Simson untuk menjalin hubungan dengan orang yang pernah ia miliki, dan ketegangan yang timbul karena ikatan antara isu pribadi dengan kewajiban/hak keluarga serta norma sosial pada masa itu. Simson menggunakan tindakan menyertakan kambing sebagai tanda keramahan dan niat baik, namun respons keluarga perempuan menampilkan kendala nyata atas aksesnya ke istri lamanya.
Tema-tema utama
Rangkaian silangnya (cross-references)
Bagian-bagian terkait yang relevan secara tema atau situasi hubungan pribadi antara tokoh dan istri/keluarga dapat membantu memperjelas konteks:
Refleksi praktis
Ayat ini mengingatkan kita bahwa meskipun niat seseorang tulus, akses dan hubungan tidak hanya bergantung pada perasaan pribadi. Kita perlu menghormati batas-batas keluarga, budaya, serta kehendak ilahi yang mengarahkan jalan hidup. Dalam hidup iman, kita diajak untuk berpegang pada hikmat ketika menghadapi keinginan pribadi yang mungkin bertentangan dengan tanggung jawab terhadap orang lain.
Ringkasan penutup
Hakim-hakim 15:1 menampilkan momen singkat yang menyingkap interaksi antara dorongan pribadi, batasan keluarga, dan tantangan sosial pada masa itu. Narasi ini mengarahkan perhatian kepada bagaimana hubungan manusia beroperasi di bawah batas-batas budaya dan bagaimana Allah tetap bekerja di balik ketidakpastian manusia. Dalam kanal tafsiran klasik, seperti yang disarankan oleh penafsir terdahulu, suasana ini memotret perlunya kebijaksanaan dalam mengambil langkah yang melibatkan orang lain dan bagaimana komunikasi serta kerjasama keluarga dapat mempengaruhi arah kehidupan seseorang.