Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Hakim-hakim 1 Hakim-hakim 2 Hakim-hakim 3 Hakim-hakim 4 Hakim-hakim 5 Hakim-hakim 6 Hakim-hakim 7 Hakim-hakim 8 Hakim-hakim 9 Hakim-hakim 10 Hakim-hakim 11 Hakim-hakim 12 Hakim-hakim 13 Hakim-hakim 14 Hakim-hakim 15 Hakim-hakim 16 Hakim-hakim 17 Hakim-hakim 18 Hakim-hakim 19 Hakim-hakim 20 Hakim-hakim 21



Interpretive point utama
Pada Hakim-hakim 17:3, narasi ini menyoroti dampak nazar pribadi terhadap hidup seseorang dan konsekuensi ketidaksetiaan keluarga. Ibuku memberikan kembali seribu seratus keping perak kepada anaknya karena usahanya mempersembahkan uang itu kepada Tuhan untuk membuat patung tuangan, meski akhirnya ia mengarahkannya pada penyembahan berhala. Ayat ini menampilkan ketidakselarasan antara niat ibunya yang tampak beragama secara lahiriah dengan kenyataan praktik penyembahan berhala yang berakar pada budaya sekitar.
Pembacaan konteks sastra
Ayat ini berada dalam bagian pembuka kitab Hakim-hakim yang menggambarkan kekacauan penyembahan berhala sebelum hakim besar muncul. Narasi ringkas ini menunjukkan bagaimana tradisi leluhur dan tekad pribadi bisa memperparah penyembahan berhala di kalangan keluarga. Perempuan korban adalah tokoh yang bertindak menurut keyakinan yang tidak selaras dengan hukum Allah yang mengharapkan kesetiaan semata kepada TUHAN.
Makna teologis yang penting
1) Ketidaksetiaan pribadi berdampak pada iman keluarga. Niat ibunya menunjukkan niat spiritual yang tidak murni, sebab tindakan nyata adalah penyembahan berhala yang dilarang. 2) Uang yang dipersembahkan kepada Tuhan untuk tujuan patung mengungkap pola kompromi antaragama yang merusak kemurnian ibadah. 3) Pemulangan uang kepada ibunya menggarisbawahi bahwa tindakan pribadi dapat menimbulkan konsekuensi moral di lingkup keluarga, meskipun ada niat religius tertentu.
Kaitan dengan alat bantu tafsir klasik
Beberapa penafsir klasik menyoroti kewaspadaan terhadap penyembahan berhala yang muncul dari niat suasana sosial yang kuat. Melalui komentar para tokoh tua, kita belajar bahwa kejujuran batin lebih penting daripada simbol-simbol ritual. Catatan singkat dari para penafsir berbahasa Inggris lama menekankan bahwa tindakan ibunya adalah contoh bagaimana devosi lahiriah bisa menutupi kemunafikan spiritual.
Hubungan dengan ayat-ayat lain
Penjelasan singkat: hubungan dengan pemberontakan berhala menegaskan bahwa niat religius tidak cukup kalau tidak dibarengi ketaatan kepada TUHAN dan kasih pada sesama.
Pertanyaan untuk refleksi
Kesimpulan singkat
Ayat ini mengajak pembaca untuk menilai ketulusan iman pribadi dan keluarga. Allah menghendaki ketaatan yang lahir dari hati, bukan sekadar persembahan yang dibungkus dengan niat religius. Kisah ini mengingatkan bahwa pemulangan harta kepada sumber yang keliru bisa menjadi cermin kekeliruan moral yang lebih luas dalam kehidupan beriman.
kutipan singkat dari tafsiran abad dahulu (catatan)
Beberapa penafsir klasik menyoroti bahwa tindakan ibunya mencerminkan ketidaklian terhadap perintah Tuhan. Mereka menekankan bahwa motif hati lebih penting daripada upacara lahiriah. (Catatan umum para komentator abad ke-18–19; tidak ada kutipan panjang).
Referensi silang singkat
Ref 1: Ayat Musa tentang larangan berhala. Ref 2: Amsal tentang kebenaran hati. Ref 3: Yesaya mengenai ibadah yang tidak beralih menjadi tindakan nyata.