Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Hakim-hakim 1 Hakim-hakim 2 Hakim-hakim 3 Hakim-hakim 4 Hakim-hakim 5 Hakim-hakim 6 Hakim-hakim 7 Hakim-hakim 8 Hakim-hakim 9 Hakim-hakim 10 Hakim-hakim 11 Hakim-hakim 12 Hakim-hakim 13 Hakim-hakim 14 Hakim-hakim 15 Hakim-hakim 16 Hakim-hakim 17 Hakim-hakim 18 Hakim-hakim 19 Hakim-hakim 20 Hakim-hakim 21



Hakim-hakim 17:10 (IDN)
Setting segera: Mikha, seorang Lewi yang tinggal di Gunung Efraim, menolak untuk tinggal di rumah ibunya sendiri dan akhirnya mencari nafkah dengan menjadi imam bagi rumah Tuhan yang tidak resmi di Gunung Efraim. Dalam pertemuan dengan laki-laki yang bernama Mikha, ia menawarkan diri untuk menjadi bapa dan imam dengan gaji, membentuk suatu hubungan patronase antara imam Lewi dan keluarga perantau itu.
Apa yang diungkapkan teks tentang Allah dan iman
Ayat ini menunjukkan keadaan rohani yang tidak ideal pada masa Hakim-hakim: kekudusan ibadah tidak selalu terjaga, imam bisa dipakai sebagai alat untuk kepentingan pribadi, dan Allah bekerja secara perlahan di tengah kekacauan rohani melalui individu-individu yang mencari jalan hidup. Ketika Mikha menawarkan diri untuk menjadi imam dan menerima gaji serta pakaian, tindakan ini mencerminkan praktik ekonomi keimamatan pada masa itu dan menunjukkan bahwa iman tidak selalu terpublik secara murni, melainkan sering kali terkait posisi sosial dan keuntungan material. Namun, di balik semua itu, Allah tetap beroperasi, memanggil orang Lewi untuk melayani meskipun melalui situasi yang kelam dan tidak menentu.
Istilah penting dan gambaran gambar rohani
Rujukan silang yang relevan
Beberapa bagian yang memberi konteks serupa mengenai pemanfaatan imamat dan motif keimamatan selain di Hakim-hakim 17 adalah:
Penjelasan singkat: Ketiga referensi ini membantu menempatkan Hakim-hakim 17 dalam bingkai bahwa pelayanan rohani sejati tidak semata-mata didorong oleh kompensasi, tetapi lebih pada ketaatan kepada Tuhan meskipun lingkungan sosial bisa tidak ideal.
Penggunaan praktis saat ini
Ayat ini mengingatkan pembaca bahwa godaan untuk menyederhanakan pelayanan rohani menjadi sekadar pekerjaan dengan upah material selalu ada. Meskipun konteksnya spesifik untuk masa Hakim-hakim, inti pelajarannya tetap relevan: integritas ibadah tidak boleh dipertukarkan dengan keuntungan duniawi; mereka yang melayani Tuhan perlu menjaga pilihan hidup yang berfokus pada kehormatan kepada Allah, bukan pada stabilitas finansial semata.
Gambaran penuntun dari para komentator terdahulu
Ringkasan wawasan dari para komentator publik domain—seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke—ditautkan sebagai gambaran umum tentang ayat ini tanpa mengutip teks panjang. Mereka menyoroti dinamika iman pada masa itu, di mana kepentingan pribadi bisa masuk ke dalam pelayanan rohani, dan bagaimana Allah memakai tokoh-tokoh manusia dengan segala keterbatasan untuk melanjutkan rencana-Nya. Ringkasnya, ayat ini menegaskan realitas operasional Tuhan yang tetap berkarya meski manusia tidak sempurna.