Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Yesaya 1 Yesaya 2 Yesaya 3 Yesaya 4 Yesaya 5 Yesaya 6 Yesaya 7 Yesaya 8 Yesaya 9 Yesaya 10 Yesaya 11 Yesaya 12 Yesaya 13 Yesaya 14 Yesaya 15 Yesaya 16 Yesaya 17 Yesaya 18 Yesaya 19 Yesaya 20 Yesaya 21 Yesaya 22 Yesaya 23 Yesaya 24 Yesaya 25 Yesaya 26 Yesaya 27 Yesaya 28 Yesaya 29 Yesaya 30 Yesaya 31 Yesaya 32 Yesaya 33 Yesaya 34 Yesaya 35 Yesaya 36 Yesaya 37 Yesaya 38 Yesaya 39 Yesaya 40 Yesaya 41 Yesaya 42 Yesaya 43 Yesaya 44 Yesaya 45 Yesaya 46 Yesaya 47 Yesaya 48 Yesaya 49 Yesaya 50 Yesaya 51 Yesaya 52 Yesaya 53 Yesaya 54 Yesaya 55 Yesaya 56 Yesaya 57 Yesaya 58 Yesaya 59 Yesaya 60 Yesaya 61 Yesaya 62 Yesaya 63 Yesaya 64 Yesaya 65 Yesaya 66



Yesaya 23:15 (IDN) — Ringkasan dalam Konteks Nabi Yesaya
Dalam konteks nubuat gemuruh kehancuran Tirus, pasal ini menyoroti bagaimana kota pelabuhan yang makmur itu akan mengalami masa-masa yang tampak terbalik: dari pesta kejayaan menuju kepalsuan dan kehilangan. Ayat ini menyiapkan gambaran ironis: setelah tujuh puluh tahun—cukup lama untuk mengalami pergantian generasi—pemerintahan, kemewahan, dan roh kecongkakan Tirus akan mereda, sehingga masa itu menjadi seperti perumpamaan atau pantun yang mengekspresikan kembali keadaan yang telah lewat. Fokusnya adalah pada Allah yang mengatur waktu dan mengubah keadaan manusia sesuai rencana-Nya.
Makna pokok
Ayat ini menunjukkan bahwa masa kejayaan suatu bangsa atau kota bisa mengalami pembalikan total. Tirus, yang dulu bersinar karena perdagangan dan kebejaksanaan duniawi, akan memasuki masa ketidakberdayaan hingga tiba saatnya Allah mengubah keadaan itu. Frasa “seperti hari kerajaan seorang raja” menandai bahwa masa puncak baru akan datang, tetapi tidak karena upaya manusia, melainkan sebagai bagian rencana Allah yang akhirnya membawa pantun kebijakan-Nya.
Tema utama
Ayat-ayat terkait
Kaitkan dengan gambaran pengukuran waktu ilahi dalam nubuat-nubuat nabi lain tentang penghakiman dan pemulihan, misalnya: - nubuat tentang masa-masa penuh penantian dan pemulihan bagi bangsa-bangsa, - gambaran bahwa rencana Allah melampaui kehendak manusia dan mempertemukan kehancuran dengan pemulihan.
Refleksi praktikal
Doa dan belajar dari ayat ini mengundang kita untuk sadar bahwa tidak ada kekuatan dunia yang abadi. Kedaulatan Allah menanggung waktu dan keadaan hidup manusia, termasuk situasi sulit yang tampaknya tak berujung. Ketika kita menghadapi masa “tujuh puluh tahun” pribadi—masa kehilangan, kegagalan, atau penundaan janji—kita dapat percaya bahwa Allah tetap berdaulat, menyiapkan pemulihan pada waktunya, dan mengajak kita menyeimbangkan pengharapan dengan ketaatan.
Panduan penggenapan secara teologis
Beberapa penafsiran klasik melihat bagian ini sebagai contoh bagaimana Allah mengatur sejarah bangsa melalui peristiwa-peristiwa duniawi. Dalam konteks gereja, kita diingatkan bahwa waktu Allah mengandung harapan, sekaligus peringatan tentang kemegahan yang bisa menipu bila tidak berpegang pada rencana-Nya.
Cross-references (singkat)
Catatan: tidak semua kutipan teks lengkap disertakan demi menjaga keutuhan konteks ayat-ayat lintas tanpa menyalin isi lengkapnya.
Ungkapan singkat dari para penafsir terdahulu
Beberapa komentar klasik menyoroti bahwa Yesaya mengajarkan soal realitas dunia yang fana dan janji Allah yang memulihkan pada waktunya. Dalam karya-karya para penafsir lama, terdapat penekanan pada kesetiaan Allah di tengah pergantian sejarah, meskipun keramahan duniawi bisa hilang seiring berjalannya waktu.
Ringkasnya, Yesaya 23:15 menghadirkan gambaran bahwa masa kejayaan bisa berakhir dan tujuan Allah mengatur waktu akan membawa pemulihan yang baru. Pelajaran utama bagi pembaca hari ini adalah menjaga harapan dalam ketaatan kepada Allah yang berdaulat atas segala keadaan.