Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiHosea 2:5 Tafsiran ayat Alkitab
Hosea 2:5 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
(2-4) Sungguh ibu mereka itu orang sundal juga dan yang memperanakkan mereka itu amat jahatlah kelakuannya; karena katanya demikian: Aku hendak mengikut segala kendakku! mereka itu juga yang memberi akan daku roti dan air dan bulu kambing dan kain khasah dan minyak dan penawar.
Hosea 2:5 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Hosea 2:5 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Hosea 2:8 (IDN) »
(2-7) Tetapi sekarang tiada diketahuinya bahwa dahulu Aku juga yang memberi akan dia gandum dan air anggur baharu dan minyak dan lagi Aku yang memperbanyakkan emas peraknya yang sudah dipersembahkannya kepada Baal.

Yeremia 44:17 (IDN) »
Melainkan tak dapat tiada kami berbuat juga setuju dengan kata yang telah keluar dari pada mulut kami, yaitu kami hendak membakar dupa dan mempersembahkan minuman bagi Permaisuri di langit, seperti sudah biasa kami perbuat, baik kami baik segala nenek moyang kami, dan segala raja kami dan segala penghulu kami dalam segala negeri Yehuda dan dalam segala lorong-lorong Yeruzalem; bahwa pada masa itu kami lagi makan roti sampai kenyang, dan pada masa itu senanglah kami, tiada tahu merasai jahat.

Yesaya 1:21 (IDN) »
Aduh! bagaimana negeri yang setiawan itu sudah berubah menjadi sundal? bahwa dahulu ia penuh dengan perkara yang benar dan keadilan selalu menumpang di dalamnya, maka sekarang ia itu sarang pembunuh juga adanya.
Makna singkat Hosea 2:5
Ayat ini menampilkan pengakuan Tuhan bahwa umat yang seharusnya menjadi istri-Nya telah menyalahi perjanjian, berpaling dari kesetiaan, dan mencari kepuasan sendiri. Secara singkat, pernyataan ini menggambarkan konsekuensi dari tindakan mengejar kemewahan dan kenyamanan duniawi tanpa mempedulikan hubungan dengan Allah.
Latar konteks
Hosea menulis pada masa umat Israel Utara yang menolak perjanjian Allah. Metafora pernikahan dipakai untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya. Umat dipaksa memilih antara kesetiaan kepada Tuhan atau mengikuti keinginan sendiri yang membawa kemewahan dunia. Ayat 5 termasuk bagian di mana keluaran nasib buruk dibahas karena ketidaksetiaan dan penyembahan berhala yang merebut harta, kenyamanan, dan keamanan yang awalnya diberikan Allah.
Observasi ekspositori
Perikop terkait dan makna singkatnya
Beberapa bagian terkait membantu memahami pola ini dalam kitab Hosea:
Pembacaaan tematik
Renungan praktis
Bagikan prioritas hidup: apakah kita mencari kenyamanan atau ketaatan kepada Tuhan? Ketergantungan pada Tuhan memberi kedamaian batin yang tidak tergoyahkan oleh keadaan material. Jadikan Allah pusat kehidupan, bukan hanya alat untuk memenuhi kebutuhan materi.
Rujukan silang singkat
Beberapa arah pandang lintas kitab untuk penguatan makna:
Catatan penafsir klasik (ringkas)
Para penafsir publik domain sering menekankan bahwa Hosea menggunakan bahasa pernikahan untuk menggambarkan ikatan umat dengan Tuhan. Mereka menyoroti bahwa bagian ini menantang umat untuk menyadari konsekuensi mengutamakan kepentingan pribadi di atas perjanjian Tuhan. Kutipan singkat dari para komentator publik domain:
Matthew Henry menyatakan bahwa “kepura-puraan dan kepuasan diri” membawa umat jauh dari Tuhan. Albert Barnes menekankan bahwa Tuhan mengizinkan konsekuensi untuk menarik umat kembali kepada-Nya. Adam Clarke menambahkan bahwa kemewahan duniawi sering menjadi halangan terbesar bagi iman yang teguh.
Penafsiran kontemporer sejenis menyarankan agar pembaca melihat bagian ini sebagai panggilan untuk mengutamakan ketaatan, karena pemerataan kasih Tuhan menuntut respons hidup yang setia.