Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Keluaran 1 Keluaran 2 Keluaran 3 Keluaran 4 Keluaran 5 Keluaran 6 Keluaran 7 Keluaran 8 Keluaran 9 Keluaran 10 Keluaran 11 Keluaran 12 Keluaran 13 Keluaran 14 Keluaran 15 Keluaran 16 Keluaran 17 Keluaran 18 Keluaran 19 Keluaran 20 Keluaran 21 Keluaran 22 Keluaran 23 Keluaran 24 Keluaran 25 Keluaran 26 Keluaran 27 Keluaran 28 Keluaran 29 Keluaran 30 Keluaran 31 Keluaran 32 Keluaran 33 Keluaran 34 Keluaran 35 Keluaran 36 Keluaran 37 Keluaran 38 Keluaran 39 Keluaran 40Verse
Keluaran 20:1 Keluaran 20:2 Keluaran 20:3 Keluaran 20:4 Keluaran 20:5 Keluaran 20:6 Keluaran 20:7 Keluaran 20:8 Keluaran 20:9 Keluaran 20:10 Keluaran 20:11 Keluaran 20:12 Keluaran 20:13 Keluaran 20:14 Keluaran 20:15 Keluaran 20:16 Keluaran 20:17 Keluaran 20:18 Keluaran 20:19 Keluaran 20:20 Keluaran 20:21 Keluaran 20:22 Keluaran 20:23 Keluaran 20:24 Keluaran 20:25 Keluaran 20:26



Keluaran 20:14 — "Jangan kamu berbuat zinah."
Ayat singkat ini merupakan bagian dari Deklarasi Hukum Allah di atas Gunung Sinai, di mana Allah menuntun bangsa Israel kepada hidup yang kudus di dalam perjanjian-Nya. Maknanya jauh lebih dari larangan moral pribadi; ia menandai komitmen umat kepada kesetiaan pernikahan, kehormatan tubuh sebagai milik Allah, dan keadilan sosial yang tumbuh dari integritas relasi manusia dengan Allah.
Makna asli dan konteksnya
Seiring dengan perintah-perintah lain dalam enam larangan pertama, seruan untuk tidak berzinah menegaskan bahwa hubungan seksual berada dalam bingkai periklanan kasih Allah dan kemerdekaan moral. Dalam budaya kuno, zina sering terjadi karena ketidakpedulian terhadap hukum keluarga dan komunitas; Allah menegaskan bahwa hubungan suami-istri adalah ikatan suci yang dipelihara oleh-Nya. Larangan ini mengajak umat Israel untuk menjaga kesetiaan, menjaga martabat pasangan hidup, serta mengutamakan keaslian kasih di dalam pernikahan.
Pesan utama dan tema pendukung
Inti dari ayat ini adalah kesetiaan seksual sebagai bagian dari hidup berhubungan dengan Allah. Sebagai bagian dari hukum moral, larangan ini mengingatkan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus (dalam konteks keseluruhan Alkitab) dan bahwa tindakan seksual yang tidak berkenan pada Allah merusak tujuan-Nya bagi kemitraan manusia. Tema pendukungnya meliputi kerendahan hati, kendali diri, dan tanggung jawab terhadap pasangan, keluarga, serta komunitas yang lebih luas.
Gema dari tokoh komentar klasik
Para penafsir publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa larangan ini menegaskan pentingnya kesetiaan pernikahan sebagai dasar harmoni sosial dan rohani. Henry menyoroti bahwa perzinahan merusak ikatan suci yang Allah tetapkan, Barnes menekankan aspek martabat manusia dan perlindungan terhadap keluarga, sedangkan Clarke mengingatkan bahwa setiap tindakan seksual berada di bawah pemerintahan hukum-Nya dan membutuhkan kendali batin. Ringkasnya, perintah ini menuntun umat untuk hidup dengan integritas yang membentuk komunitas yang setia kepada Allah.
Cross-references (hubungan Alkitabiah)
Penjelasan singkat: ketiga referensi menekankan kesetiaan, kemurnian, dan integritas hubungan perkawinan sebagai batas yang dihormati dalam kehidupan jemaat, konsisten dengan arah Deklarasi Hukum Sinai.
Refleksi Devos
Bayangkan kesetiaan sebagai pondasi rumah yang kokoh. Ketika kita menjaga komitmen pernikahan, kita tidak hanya melindungi kebahagiaan pribadi, tetapi juga menjaga kesetiaan komunitas kepada Allah. Mintalah bimbingan Roh Kudus untuk menguatkan pengendalian diri, memelihara kepekaan terhadap godaan, dan memantapkan komunikasi yang penuh kasih dengan pasangan. Dalam setiap langkah, biarkan kasih Allah membentuk kita menjadi pribadi yang setia dan bertanggung jawab.
Quotable note: Ayat ini sejalan dengan pandangan klasik para komentator bahwa menjaga kemurnian hidup adalah bagian integral dari hidup beriman, yang mempraktikkan hormat kepada Allah melalui relasi yang kudus.