Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiEster 6:6 Tafsiran ayat Alkitab
Ester 6:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Setelah Haman sudah masuk, titah baginda kepadanya: Dipengapakan kiranya akan orang yang patut tersangat dipermuliakan oleh raja? Maka kata Haman dalam hatinya: Siapa lagi hendak dipermuliakan oleh baginda terlebih dari pada aku?
Ester 6:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ester 6:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Obaja 1:3 (IDN) »
Bahwa sombong hatimu sudah menipukan dikau, hai engkau yang duduk di bukit batu yang tiada terhampiri, yang bersemayam begitu tinggi dan yang berkata dalam hatimu: Siapa gerangan dapat menolak aku turun ke bumi?

Amsal 16:18 (IDN) »
Congkak itu dahulu dari pada kebinasaan, dan kebesaran hati dahulu dari pada jatuh.

Yohanes 5:23 (IDN) »
supaya sekalian orang menghormatkan Anak itu sama seperti Ia juga menghormatkan Bapa juga. Siapa yang tiada menghormatkan Anak itu, samalah juga tiada menghormatkan Bapa yang menyuruhkan Dia.
Ester 6:6 (IDN) - Konteks dan Makna Utama
Ayat ini muncul sesudah berita bahawa Mordekhai tidak sujud kepada Haman, sehingga Haman sangat marah dan ia direncanakan untuk membinasakan semua orang Yahudi. Rencana itu diubah ketika raja Ahasywerosh tidak menyadari niat jahat Haman. Pada saat baginda memanggil Haman, ayat ini menunjukkan bagaimana Haman membayangkan pemuliaan yang akan ia terima sebagai orang yang patut diberi hadiah tertinggi oleh raja. Namun Hal ini menggambarkan ketamakan dan kesombongan yang berbahaya, sekaligus mempersiapkan puncak rencana Tuhan yang membalikkan keadaan.
Ayat ini menampilkan kontras antara kebanggaan manusia dan kendali Tuhan atas jalannya peristiwa. Haman secara sembrono meramalkan pemuliaan yang akan diterimanya sendiri, tanpa menyadari bahwa Allah yang berdaulat bisa membalikkan situasi. Bagian ini menegaskan tema utama kitab Ester: Tuhan bekerja di balik layar melalui rencana manusia untuk mencapai tujuan-Nya, meski manusia tidak menyadarinya.
Beberapa pasal yang relevan untuk memahami pola ini antara lain:
Ayat ini mengingatkan kita untuk waspada terhadap kesombongan pribadi ketika kita menerima pujian atau gaji kehormatan. Ketika kita merasa diri dianggap lebih penting dari orang lain, kita perlu mengingat bahwa Allah berdaulat atas jalan hidup kita. Ketekunan dalam doa dan rendah hati membantu kita menyelaraskan tujuan pribadi dengan rencana-Nya yang lebih besar.
Haman melihat dirinya sebagai pusat kemuliaan. Namun, kitab Ester mengajarkan bahwa kemuliaan sejati datang dari ketaatan kepada Tuhan dan keadilan-Nya. Dalam kejutaan yang tampak, Allah mengatur pergantian nasib umat-Nya melalui tokoh-tokoh manusia, sehingga rencana-Nya yang penuh kasih akhirnya dinyatakan.
Esther 6:6 menandai kedalaman konflik antara kesombongan manusia dan kendali ilahi. Meski Haman mengira dirinya paling utama, kitab Ester menegaskan bahwa kemuliaan sejati berada di bawah pengaturan Tuhan. Puji-puji kepada manusia tetap timpang jika tidak diselaraskan dengan tujuan Allah yang tengah membangun penyelamatan bagi umat-Nya.
Quotations from Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke tidak diperlukan secara langsung, namun inti pendekatan klasik mereka membantu menyiapkan pemahaman tentang bagaimana teks ini menonjolkan konsekuensi kesombongan dan pembalikan nasib melalui rencana ilahi. Contoh refleksi mereka menekankan bahwa kejahatan sering dipakai Tuhan untuk membangun kebenaran yang lebih besar.