Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Ulangan 4 Ulangan 5 Ulangan 6 Ulangan 7 Ulangan 8 Ulangan 9 Ulangan 10 Ulangan 11 Ulangan 12 Ulangan 13 Ulangan 14 Ulangan 15 Ulangan 16 Ulangan 17 Ulangan 18 Ulangan 19 Ulangan 20 Ulangan 21 Ulangan 22 Ulangan 23 Ulangan 24 Ulangan 25 Ulangan 26 Ulangan 27 Ulangan 28 Ulangan 29 Ulangan 30 Ulangan 31 Ulangan 32 Ulangan 33 Ulangan 34Verse
Ulangan 5:1 Ulangan 5:2 Ulangan 5:3 Ulangan 5:4 Ulangan 5:5 Ulangan 5:6 Ulangan 5:7 Ulangan 5:8 Ulangan 5:9 Ulangan 5:10 Ulangan 5:11 Ulangan 5:12 Ulangan 5:13 Ulangan 5:14 Ulangan 5:15 Ulangan 5:16 Ulangan 5:17 Ulangan 5:18 Ulangan 5:19 Ulangan 5:20 Ulangan 5:21 Ulangan 5:22 Ulangan 5:23 Ulangan 5:24 Ulangan 5:25 Ulangan 5:26 Ulangan 5:27 Ulangan 5:28 Ulangan 5:29 Ulangan 5:30 Ulangan 5:31 Ulangan 5:32 Ulangan 5:33



Ulangan 5:14 (IDN) – Sabat Tuhan
Gagasan utama pasal ini adalah perintah menjaga hari istirahat sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan. Ulangan 5:14 menekankan bahwa hari ketujuh adalah sabat bagi Tuhan, dan semua lapisan masyarakat—dirimu, keluargamu, budakmu, hewanmu—diundang untuk berhenti bekerja. Ini bukan sekadar larangan kerja, melainkan pengakuan bahwa ketenangan dan ibadah kepada Tuhan menjadi pusat kehidupan bangsa Israel.
Pembacaan pasal dalam konteksnya
Di tengah rangkaian hukum yang disampaikan Musa, perintah sabat menegaskan bahwa peribadatan kepada Allah menjiwai setiap aspek hidup. Larangan bekerja pada hari ketujuh menegaskan martabat semua orang dan makhluk hidup di komunitas itu, termasuk budak, hewan, dan pedagang yang masuk dari luar pintu gerbang. Keberlangsungan sabat menunjukkan keadilan sosial: rasa hormat kepada pekerjaan dan keletihan sesama manusia serta kesejahteraan makhluk hidup.
Inti rohani yang bisa dipetik
Perbandingan dengan bagian lain
Dari Keluaran 20:10 dan Keluaran 31:15, kita melihat konsistensi pengajaran sabat sebagai bagian dari hukum moral dan tata negara umat Israel. Dalam Markus 2:27–28, Yesus menegaskan prinsip sabat sebagai “hari untuk manusia, bukan manusia untuk sabat,” menegaskan bahwa perintah sabat bertujuan memberi kehidupan dan pemulihan, bukan hanya kepatuhan hukum belaka. Ketiga bagian ini memandu bagaimana umat memahami sabat sebagai kasih Tuhan yang membentuk komunitas yang adil.
Penafsiran praktis yang sehat
Untuk konteks pembelajaran hari ini, intinya adalah membangun pola istirahat yang menghormati Tuhan dan memperlakukan sesama dengan keadilan. Dalam praktiknya, sabat bisa berarti beristirahat dari pekerjaan rutin, meluangkan waktu untuk ibadah, keluarga, dan penyebaran damai. Upaya memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita—termasuk pekerja lembaga, tamu, dan hewan—mendapat istirahat layak adalah refleksi kasih Tuhan.
Rujukan silang yang relevan
- Keluaran 20:10: Sabat sebagai bagian inti hukum yang menegaskan istirahat dan ibadah pada hari ketujuh. - Ulangan 5:15: Mengingat Allah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan, sabat menjadi ingatan pembebasan dan kasih-Nya. - Markus 2:27–28: Prinsip sabat yang menekankan manusia sebagai pusat tujuan niat hukum.
Penjelasan singkat hubungan: Sabat tidak hanya soal larangan bekerja, tetapi juga memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, keluarga, pekerja, dan makhluk hidup lain, sebagai bentuk keadilan sosial.
Ringkasan
Ulangan 5:14 menguatkan bahwa sabat adalah bagian integral dari perjanjian dengan Tuhan, mencakup perlindungan terhadap semua lapisan masyarakat, termasuk budak dan hewan. Prinsipnya adalah istirahat yang memuliakan Tuhan dan merawat sesama dalam komunitas. Praktiknya mengajak kita menilai bagaimana kita menghormati waktu istirahat, memajukan keadilan sosial, dan memelihara hubungan yang diberkati Tuhan.
Renungan akhir
Ketika kita menghormati sabat dengan sungguh, kita tidak sekadar berhenti bekerja, melainkan membiarkan diri dibawa ke dalam damai Allah. Dalam konteks modern, sabat bisa menjadi ritus istirahat komunal yang mempererat keluarga, komunitas, dan tanggung jawab terhadap pekerja yang membutuhkan istirahat layak.