Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiZefanya 2:15 Tafsiran ayat Alkitab
Zefanya 2:15 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Inikah negeri yang amat ramai dan yang duduk dengan sentosa, dan yang berkata dalam hatinya: Akulah dia dan lain dari padaku satupun tiada! Bagaimana ia sudah jadi suatu kerobohan, suatu tempat perhentian binatang yang ganas; barangsiapa yang berjalan melalui dia itu akan menyindirkan dia dan menunjuk dengan tangannya kepadanya.
Zefanya 2:15 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Zefanya 2:15 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yehezkiel 28:2 (IDN) »
Hai anak Adam! katakanlah olehmu kepada raja Tsur: Demikianlah firman Tuhan Hua: Tegal hatimu sudah membesarkan dirinya begitu serta katamu: Aku ini ilah serta duduk di arasy Allah di tengah-tengah laut! meskipun engkau manusia dan bukan ilah adamu, maka engkau juga sangkakan budimu seperti budi Allah.

Yesaya 22:2 (IDN) »
Hai negeri yang penuh dengan gempita yang ramai dan tamasya! Adapun segala orangmu yang mati itu, ia itu tiada mati dimakan pedang dan tiada mereka itu mati di dalam perang.

Yesaya 47:7 (IDN) »
Maka katamu: Bahwa aku akan jadi permaisuri sampai selama-lamanya; tetapi tiada engkau memperhatikan perkara ini, dan tiada juga engkau sangka akan kesudahan yang begitu.
Zefanya 2:15 (IDN)
Inikah negeri yang amat ramai dan yang duduk dengan sentosa, dan yang berkata dalam hatinya: Akulah dia dan lain dari padaku satupun tiada! Bagaimana ia sudah jadi suatu kerobohan, suatu tempat perhentian binatang yang ganas; barangsiapa yang berjalan melalui dia itu akan menyindirkan dia dan menunjuk dengan tangannya kepadanya.
Setting segera teks
Dalam Zefanya pasal 2, nabi menyampaikan kecaman atas bangsa-bangsa non-Yahudi yang menempati tanah Israel yang dahulu. Ayat 15 menggambarkan kota saingan—kebodohan kesombongan yang dulu dinyatakan sebagai “negeri yang amat ramai”—yang kini berubah menjadi reruntuhan. Suasana kebingungan dan penghakiman ini dipakai untuk menunjukkan bahwa kedudukan manusia rapuh bila tidak berpusat pada kehendak Allah.
Pelajaran tentang Allah dan iman
Ayat ini menegaskan bahwa kemegahan manusia adalah rapuh jika bukan di bawah otoritas Allah. Allah yang berkuasa mematahkan keangkuhan dengan cara yang jelas: kota itu kehilangan perlindungan, merasa aman pada diri sendiri, lalu menerima kehancuran sebagai akibat kelaluan spiritualnya.
Penjelasan kata dan gambaran penting
Rujukan lintas yang relevan
Beberapa bagian Alkitab yang menegaskan tema audisi hati terhadap kesombongan dan kepercayaan pada kekuasaan manusia:
Penjelasan singkat: ayat-ayat lintas ini menguatkan gambaran bahwa keamanan sejati tidak ditemukan pada kemegahan kota atau identitas manusia, melainkan pada taat kepada Allah dan pengharapan kepada-Nya.
Hubungan dengan teks lain dalam kitab
Di tengah penghukuman pada bangsa-bangsa, Zefanya mengingatkan umat Tuhan akan konsistensi Allah dalam membela kedamaian bagi mereka yang menaruh percaya bukan pada kekuatan sendiri. Ini sejalan dengan pesan para nabi yang menekankan pertobatan, penyerahan hidup, dan pembaruan komitmen kepada Tuhan di tengah ancaman luar.
Aplikasi praktis untuk masa kini
Intisari akhir
Ayat ini menggugah kesadaran bahwa keamanan duniawi bersifat sementara. Panggilan Allah adalah hidup dalam ketergantungan kepada-Nya, menolak topangan ego, dan mempercayakan semua rancangan pada-Nya. Dalam konteks ini, pembaca diajak melihat keadaan sekitar dengan mata iman: siap bertobat, siap menyerahkan diri, dan hidup sebagai warga kerajaan Allah yang rendah hati.
Catatan editorial karya para penafsir terdahulu
Gagasan mengenai kehancuran akibat kesombongan manusia sejalan dengan pandangan klasik Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke yang menekankan bahwa kemegahan manusia runtuh ketika Allah bertindak. Frasa Frasa seperti “Akulah dia” sering dipakai untuk menggambarkan penyebab utama kejatuhan: keangkuhan. (Kutipan langsung singkat yang relevan dapat ditemukan dalam karya mereka terkait tema kesombongan dan hukuman ilahi.)