Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiZakharia 4:7 Tafsiran ayat Alkitab
Zakharia 4:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Siapakah engkau, hai gunung yang tinggi? Di hadapan Zerubbabil engkau akan jadi padang rata, pada masa dikeluarkannya batu yang kepala itu, sambil bersorak-sorak: Selamatlah, selamatlah atasnya!
Zakharia 4:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Zakharia 4:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yeremia 51:25 (IDN) »
Bahwasanya Aku juga lawanmu, hai gunung yang membinasakan semuanya, dan yang sudah merusakkan seluruh muka bumi, demikianlah firman Tuhan; sekarang ini Aku hendak mengedangkan tangan-Ku kepadamu dan menggulingkan dikau dari atas gunung batu dan menjadikan dikau akan bukit api yang sudah padam,

Mikha 4:1 (IDN) »
Tetapi pada hari yang terkemudian akan jadi bahwa bukit rumah Tuhan akan ditetapkan di atas kemuncak segala gunung, dan iapun akan ditinggikan dari pada segala bukit, dan segala bangsapun akan berkerumun kepadanya.

Mazmur 118:22 (IDN) »
Adapun batu yang telah dibuang oleh segala tukang itu, ia itu telah menjadi hulu penjuru adanya.
Zakharia 4:7 (IDN) — “Siapakah engkau, hai gunung yang tinggi? Di hadapan Zerubbabil engkau akan jadi padang rata, pada masa dikeluarkannya batu yang kepala itu, sambil bersorak-sorak: Selamatlah, selamatlah atasnya!”
Gambar besar nubuat ini ditempatkan dalam kitab Zakharia pada periode pemugaran Bait Allah di Yerusalem setelah pembuangan. Tuhan menegaskan bahwa kemuliaan pekerjaan-Nya tidak bergantung pada kekuatan manusia, melainkan pada keterlibatan-Nya dalam membangun kembali iman umat-Nya. Gunung yang tinggi di hadapan Zerubbabel menjadi padang rata karena Tuhan yang menyertai: pekerjaan besar dilakukan langkah demi langkah, bukan lewat kekuatan militer maupun organisasi manusia semata.
Pembacaan ayat dalam konteks pasal
Pasal 4 memperlihatkan visi tentang menorahkan pekerjaan raja-raja dan pemimpin kafarnaum perbaikan kota. Zerubbabel, sebagai pemimpin zuriat Daud, diangkat untuk memegang tongkat kepemimpinan rohani dan kedaulatan semu, tetapi realitas kekuatan sejati adalah karya Allah. Ungkapan “batu yang kepala” merujuk pada batu fondasi atau batu penjuru yang menjadi simbol penyelesaiannya rencana Tuhan, membawa keselamatan bagi umat melalui penyataan kemuliaan Allah.
Pelajaran rohani utama
Inti nubuat ini adalah penekanan pada ketaatan kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya yang menyelamatkan melalui langkah-langkah yang tampak kecil. Gunung tinggi simbolik bagi hambatan besar; Tuhan menjanjikan bahwa dengan ketaatan umat dan kedudukan pemimpin yang dipakai-Nya, hambatan itu akan diratakan. Keyakinan ini menggugah umat percaya untuk melihat tidak pada ukuran rencana manusia, tetapi pada karya Allah yang mengangkat umat-Nya menuju pemulihan dan kemuliaan rohani.
Refleksi dari penafsir terdahulu
Para penafsir klasik menekankan bahwa nubuat ini menekankan karya Allah yang mengubah rintangan menjadi jalan. Penekanan Henry, Barnes, dan Clarke menyoroti kekuatan ilahi lebih dari sekadar rencana manusia. Mereka menafsirkan batu yang kepala sebagai simbol penyatuan visi rohani yang memusat pada Kristus sebagai pusat keselamatan, meskipun konteksnya sebelum kedatangan Mesias secara penuh.
Cross-references singkat
Aplikasi praktis
Ringkasan
Nubuat ini menegaskan bahwa Tuhan sanggup melipatgandakan usaha umat melalui kekuatan-Nya sendiri. Gunung-gunung hambatan akan diratakan di hadapan Zerubbabel bukan karena kemampuan manusia, melainkan karena pekerjaan Allah dalam mengangkat rencana-Nya melalui batu penjuru, yakni karya-Nya yang membawa keselamatan dan pemulihan bagi umat-Nya.
Catatan singkat sumber: pewahyuan klasik menekankan bahwa kekuatan Allah, bukan kekuatan manusia, menjadi inti pemulihan rohani. Cuplikan umum para penafsir menguatkan fokus pada Kristus sebagai pusat penyelamatan, meski konteks historisnya lebih dekat pada perjuangan pascabanak dengan pembangunan Bait Allah.