Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 9:11 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 9:11 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka ia berajakan malaekat lubang yang tiada terduga dalamnya, namanya di dalam bahasa Ibrani Abbaddon, dan di dalam bahasa Gerika Apollion namanya.
Wahyu 9:11 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 9:11 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ayub 26:6 (IDN) »
Bahwa alam barzakh adalah seperti telanjang di hadapan-Nya dan tubirpun tiada berketudungan.

Wahyu 9:1 (IDN) »
Maka malaekat yang kelima itu pun meniup sangkakalanya, lalu aku tampak sebuah bintang yang sudah gugur dari langit ke bumi; maka dikaruniakanlah kepadanya anak kunci pintu lubang yang tiada terduga dalamnya.

Yohanes 14:30 (IDN) »
Tiada banyak lagi Aku akan bertutur dengan kamu, karena penghulu dunia ini datang, dan sekali-kali tiada ia berhak atas Aku;
Inti Interpretatif: Abaddon/Apollyon sebagai simbol kehancuran yang menakutkan dalam Wahyu 9:11
Pada Wahyu 9:11, gambaran malaikat yang memegang “lubang” yang tiada terduga menggambarkan pelaksanaan hukuman ilahi yang menimbulkan rasa gentar. Nama malaikat itu, Abbaddon (Ibrani) atau Apollion (Yunani), menegaskan identitasnya sebagai agen kehancuran dan pembagian diri antara kengerian dan kehendak Allah. Penafsiran ini menekankan bahwa kemusnahan di Wahyu dipakai untuk membangkitkan kesadaran manusia akan pertobatan dan ketidakberdayaan dalam menghadapi murka ilahi yang telah dip/we in.
Perkembangan konteks sastra (literary context)
Bagian Wahyu ini berada dalam seri serangan laknat bagi mereka yang menolak panggilan Allah. Dibuka dengan penglihatan langit dan petunjuk tentang tujuh segel, kemudian masuk ke deretan malapetaka yang menuntun umat manusia pada pilihan: pertobatan atau penghukuman. Penggunaan nama Abbaddon/Apollion berfungsi sebagai simbol eskatologis: kehancuran yang diizinkan Tuhan untuk menunjuk kepada realitas rohani yang lebih besar—kebejatan manusia dan keadilan Allah yang tidak dapat diabaikan.
Signifikansi teologis
Nama ganda itu menekankan konsekuensi kekalahan manusia di hadapan kekuatan rohani yang melampaui kekuatan manusia. Abbaddon/Apollion melambangkan “pemusnah yang mematikan,” sebuah otoritas ilahi yang memperlihatkan bahwa dosa memiliki akibat serius. Namun, dalam konteks Wahyu, kemunculan kekuatan ini juga mengingatkan pembaca tentang kehadiran Allah yang berdaulat, yang mengizinkan masa-masa pengujian sebagai cara memurnikan iman dan mengarahkan umat kepada pertobatan sejati.
Cross-references (hubungan dengan bagian lain Alkitab)
Pertanyaan reflektif
Intisari penutupan
Wahyu 9:11 menegaskan bahwa ada kekuatan kehancuran yang diizinkan Allah dalam rencana-Nya untuk menyatakan keadilan-Nya dan mendorong umat manusia kepada pertobatan. Nama Abbaddon/Apollion menguatkan ukuran rasa takut yang menjadi bagian dari realitas eskatologis, tetapi konteks keseluruhan kitab menuntun pembaca untuk melihat bahwa tujuan utama Allah adalah membimbing umat menuju iman yang hidup dan penyerahan kepada Pemerintah-Nya.
Cuplikan otoritatif (kutipan singkat dari tokoh commentary PD)
“Nama itu menandai kekuasaan pembinasaan yang diizinkan Allah untuk memperlihatkan kehendak-Nya…” (parafrase dari efek umum tafsiran klasik yang menghubungkan Abbaddon/Apollion dengan konsekuensi ilahi).
Catatan silang tafsiran
Beberapa penafsir mengajak pembaca melihat Wahyu sebagai kitab yang menuntun ke arah pertobatan meskipun dikisahkan dengan simbol-simbol keras. Makna kemusnahan tidak sekadar ketakutan, melainkan janji Allah yang menuntun manusia kepada pilihan yang benar di hadapan wajah-Nya.