Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Lukas 6:1 Lukas 6:2 Lukas 6:3 Lukas 6:4 Lukas 6:5 Lukas 6:6 Lukas 6:7 Lukas 6:8 Lukas 6:9 Lukas 6:10 Lukas 6:11 Lukas 6:12 Lukas 6:13 Lukas 6:14 Lukas 6:15 Lukas 6:16 Lukas 6:17 Lukas 6:18 Lukas 6:19 Lukas 6:20 Lukas 6:21 Lukas 6:22 Lukas 6:23 Lukas 6:24 Lukas 6:25 Lukas 6:26 Lukas 6:27 Lukas 6:28 Lukas 6:29 Lukas 6:30 Lukas 6:31 Lukas 6:32 Lukas 6:33 Lukas 6:34 Lukas 6:35 Lukas 6:36 Lukas 6:37 Lukas 6:38 Lukas 6:39 Lukas 6:40 Lukas 6:41 Lukas 6:42 Lukas 6:43 Lukas 6:44 Lukas 6:45 Lukas 6:46 Lukas 6:47 Lukas 6:48 Lukas 6:49



Lukas 6:3 (IDN) - Konteks dan Makna
Dalam konteks khotbah di Padang Dataran, Yohanes dan murid-murid Yesus menghadapi kritik tentang peraturan sabat. Mereka melintasi ladang gandum pada hari Sabat dan memetik daun gandum untuk mengisi perut karena lapar. Yesus menanggapi dengan mengarahkan perhatian pada inti hukum: kasih, empati, dan hidup manusia di atas ketatnya ritual. Ia menegaskan bahwa hukum memberi ruang untuk kebaikan manusia, bahkan dalam situasi lapar. Ayat ini merujuk pada peristiwa Daud yang melanggar hukum tertentu saat dia lapar bersama dengan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan darurat.
Makna sentral
Inti ajaran dalam Lukas 6:3 adalah bahwa keperluan hidup manusia kadang memerlukan penafsiran lunak terhadap aturan, terutama ketika keselamatan dan kesejahteraan manusia dipertaruhkan. Yesus mengarahkan para pendengar untuk melihat hukum melalui kacamata kasih Allah—bukan hanya ketaatan ritual belaka. Ini menekankan bahwa kasih yang benar melahirkan tindakan yang memelihara hidup, terutama bagi mereka yang lapar dan membutuhkan.
Tema-tema utama
Rujukan lintas ayat (singkat, tanpa kutipan utuh)
Refleksi praktis
Pagi kita sering dihadapkan pada pilihan sulit antara mengikuti aturan yang ketat dan kebutuhan nyata sesama. Ayat ini mengundang kita berhitung: bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari dengan lembut namun tegas dalam kasih? Seperti Daud, kita bisa memilih untuk menempatkan kebutuhan manusia di depan formalisme ketika ada situasi mendesak. Namun, kita juga diingatkan untuk menjaga integritas hati—bukan memanfaatkan kelonggaran untuk mengabaikan tanggung jawab spiritual yang lebih luas.
Ringkasan penutup
Yesus mengajar bahwa hari Sabat menegaskan kasih Allah, dan kepastian hidup manusia melampaui sekadar tata kelola ritual. Dalam fokus pada lapar Daud dan orang-orang yang bersamanya, kita diajak memprioritaskan belas kasihan, sambil tetap menghormati tujuan luhur hukum Allah.
Quotable notes from classic commentators (singkat)
Tidak ada kutipan panjang penuh yang disertakan, namun catatan para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa kasih dan kelapangan hati dalam menilai hukum lebih penting daripada kepatuhan kaku pada ritus. Ayat ini dipakai untuk menegaskan bahwa tindakan yang memelihara hidup manusia adalah bagian dari kehendak Allah.