Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiRatapan 5:19 Tafsiran ayat Alkitab
Ratapan 5:19 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Ya Tuhan! Engkau bersemayamlah sampai selama-lamanya; arasy-Mu itu kekal turun-temurun!
Ratapan 5:19 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ratapan 5:19 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Mazmur 102:12 (IDN) »
(102-13) Tetapi Engkau, ya Tuhan! kekal pada selama-lamanya, dan peringatan akan Dikau tinggal turun-temurun.

Ibrani 1:8 (IDN) »
tetapi akan hal Anak itu firman-Nya: Arasy-Mu, ya Allah, ada selama-lamanya; dan tongkat keadilan yaitulah tongkat kerajaan-Mu.

Mazmur 45:6 (IDN) »
(45-7) Bahwa arasymu, ya Allah! kekal selama-lamanya, dan tongkat kebenaran itulah tongkat kerajaanmu.
Ratapan 5:19 (IDN)
Impresi cepat dari ayat ini adalah sebuah pengakuan kepada kekuasaan kekal Tuhan atas tahta-Nya dan hal-hal yang berhubungan dengan akses publik terhadap keperkasaan-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan bersemayam tidak hanya dalam waktu singkat, tetapi untuk selama-lamanya; arasy-Nya adalah kekal, turun-temurun sebagai pegangan bagi umat-Nya yang lelah dan tertekan.
Setting segera ayat
Dalam Ratapan, penulis menghadapi kehancuran Yerusalem dan rasa duka mendalam. Namun, meskipun keadaan kota hancur dan bangsa terpuruk, ingatan akan pemerintahan Tuhan yang kekal menjadi sumber pengharapan. Ayat ini menampilkan kontras antara kestabilan kekuatan ilahi dan ketidakstabilan dunia manusia.
Apa yang diajarkan tentang Allah dan iman
Tuhan digambarkan sebagai yang bersemayam abadi, tidak tergoyahkan oleh perubahan zaman atau bencana. Keberadaan-Nya yang kekal memberi umat-Nya landasan tidak goyah dalam doa, puasa, dan penyerahan diri. Keberadaan-Nya yang turun-temurun menekankan bahwa kerajaan-Nya tidak dibuat oleh manusia, melampaui sejarawan dan reformasi manusia. Iman berbasis pada kedaulatan-Nya: meski keadaan tampak kacau, kekuasaan-Nya tetap terpelihara, dan janji-Nya tetap berlaku bagi mereka yang setia.
Istilah penting dan gambaran simbolik
Hubungan dengan bagian lain Alkitab
Beberapa bagian lain menyoroti tema ketetapan ilahi dan kemuliaan pemerintahan Tuhan, misalnya:
Pemakaian praktis untuk masa kini
Ketika hidup mengalami krisis, ayat ini mengundang orang percaya untuk menoleh kepada Tuhan yang bersemayam selama-lamanya. Kepercayaan pada kekal-Nya memberi stabilitas ketika segala hal di sekitar berubah. Kita diajak: - untuk menaruh harapan pada pemerintahan Tuhan, bukan pada kekuatan dunia. - untuk berdoa dengan keyakinan bahwa rencana-Nya tetap berjalan melalui kerapuhan saat ini. - untuk mengingat bahwa iman tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada pribadi-Nya yang kekal.
Cross-references singkat
Penjelasan singkat hubungan: Mazmur 103:17 dan Yesaya 9:7 menegaskan kestabilan kasih dan pemerintahan Tuhan seperti yang Ratapan 5:19 gambarkan. Ibrani 13:8 menguatkan gagasan bahwa Allah tidak berubah meskipun umat-Nya menghadapi pergumulan.
Catatan editorial ringkas
Ayat ini menekankan bahwa kehadiran Allah adalah sumber pengharapan dalam situasi yang tampak putus asa. Pemahaman ini menyatu dengan tradisi tafsir publik domain yang menonjolkan kedaulatan dan keseutamaan Allah dalam menghadapi krisis, tanpa mengabaikan tanggung jawab manusia untuk tetap setia kepada-Nya.
Quotations notable from classical commentaries (ringkas): Ada bagian dalam karya Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke yang menekankan kestabilan kerajaan Allah dan kekekalan arasy-Nya; referensi langsung diperlukan untuk kutipan lengkap jika diperlukan. Namun, tema utama mereka adalah kepercayaan pada pemerintahan Tuhan yang kekal meskipun keadaan dunia berubah.