Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Hakim-hakim 1 Hakim-hakim 2 Hakim-hakim 3 Hakim-hakim 4 Hakim-hakim 5 Hakim-hakim 6 Hakim-hakim 7 Hakim-hakim 8 Hakim-hakim 9 Hakim-hakim 10 Hakim-hakim 11 Hakim-hakim 12 Hakim-hakim 13 Hakim-hakim 14 Hakim-hakim 15 Hakim-hakim 16 Hakim-hakim 17 Hakim-hakim 18 Hakim-hakim 19 Hakim-hakim 20 Hakim-hakim 21Verse
Hakim-hakim 14:1 Hakim-hakim 14:2 Hakim-hakim 14:3 Hakim-hakim 14:4 Hakim-hakim 14:5 Hakim-hakim 14:6 Hakim-hakim 14:7 Hakim-hakim 14:8 Hakim-hakim 14:9 Hakim-hakim 14:10 Hakim-hakim 14:11 Hakim-hakim 14:12 Hakim-hakim 14:13 Hakim-hakim 14:14 Hakim-hakim 14:15 Hakim-hakim 14:16 Hakim-hakim 14:17 Hakim-hakim 14:18 Hakim-hakim 14:19 Hakim-hakim 14:20



Inti Makna Ayat Hakim-hakim 14:3 (IDN)
Ayat ini menampilkan konflik batin Simson terhadap perintah orang tuanya mengenai pilihan isterinya. Ibu bapanya menasihatinya agar tidak mengambil istri dari kalangan bangsa Filistin, karena sifat kebiasaan dan status mereka sebagai bangsa yang bukan bagian daripada umat Israel. Namun Simson menegaskan keinginannya sendiri: ia ingin gadis Filistin itu sebagai isterinya meskipun ibu bapanya menganggapnya tidak pantas. Ayat ini menyingkapkan dua dinamika utama: pelaksanaan kehendak manusia versus kehendak ilahi, dan ketidaktaatan Simson terhadap norma keluarga serta identitas umat Allah pada masa itu.
Latar Kontekstual
Pada zaman hakim-hakim, umat Israel sering berada di bawah tekanan persekutuan dengan bangsa-bangsa sekitar. Simson adalah seorang nabi-nabi peminjam kekuatan ilahi yang diangkat untuk membebaskan Israel dari penindasan Filistin. Namun perjalanan hidupnya sering ditandai oleh nafsu pribadi dan pilihan yang melanggar norma komunitas. Dalam konteks ini, ayat 3 menyoroti perbedaan perspektif antara tradisi keluarga Israel (yang menyerukan pernikahan dalam komunitas sendiri) dan keinginan Simson untuk istri dari bangsa yang memberontak terhadap Allah.
Observasi Penafsiran
Gaya Penelaahan
Sebagaimana biasanya dalam karya-karya penafsir publik domain lama seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, ayat ini dipakai untuk menunjukkan betapa berbahayanya mengambil istri di luar umat Allah tanpa pertimbangan ketaatan kepada Tuhan dan identitas umat. Mereka menekankan bahwa pilihan pribadi sering membawa konsekuensi bagi panggilan Allah pada hidup seseorang dan bagi komunitas di sekitarnya.
Ayat Terkait (Cross-References) dan Maknanya
Beberapa ayat yang berhubungan menyiratkan tema ketaatan terhadap Allah dalam pernikahan dan pilihan pasangan:
Pemahaman Praktis
Meskipun kisah Simson berakhir dengan serangkaian kegagalan pribadi, ayat ini mengajarkan pentingnya menimbang pilihan hidup melalui lensa ketaatan kepada Allah dan identitas komunitas iman. Dalam konteks pernikahan, ada dorongan agar kita menghargai keutuhan komunitas iman, melewati godaan untuk memilih berdasarkan kenyamanan pribadi semata tanpa mempertimbangkan konsekuensi rohani bagi diri sendiri dan bagi orang lain di sekitar kita.
Inti Penutup
Ayat ini menampilkan benturan antara keinginan pribadi dan tanggung jawab kepada Allah serta komunitas-Nya. Simson meminta istri dari bangsa Filistin, sedangkan orang tuanya menekankan pentingnya memilih dari antara anak-anak Israel. Pelajaran utama adalah bagaimana ketaatan kepada Tuhan dan integritas komunitas berperan penting dalam setiap keputusan hidup, terutama dalam hal pernikahan dan hubungan yang membentuk identitas umat-Nya.
Catatan tentang kutipan: Beberapa ide yang serupa muncul dalam karya Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke dalam cara mereka menekankan tema pilihan hidup yang sejalan dengan kehendak ilahi; tidak ada kutipan eksplisit lengkap yang disalin di sini, tetapi arah pandang mereka dipakai sebagai kerangka penafsiran umum.