Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiChapter
Keluaran 1 Keluaran 2 Keluaran 3 Keluaran 4 Keluaran 5 Keluaran 6 Keluaran 7 Keluaran 8 Keluaran 9 Keluaran 10 Keluaran 11 Keluaran 12 Keluaran 13 Keluaran 14 Keluaran 15 Keluaran 16 Keluaran 17 Keluaran 18 Keluaran 19 Keluaran 20 Keluaran 21 Keluaran 22 Keluaran 23 Keluaran 24 Keluaran 25 Keluaran 26 Keluaran 27 Keluaran 28 Keluaran 29 Keluaran 30 Keluaran 31 Keluaran 32 Keluaran 33 Keluaran 34 Keluaran 35 Keluaran 36 Keluaran 37 Keluaran 38 Keluaran 39 Keluaran 40



Keluaran 17:15 — "Tuhanlah alamatku!"
Poin interpretatif utama: Setelah kemenangan di Refidim, Musa memaknai pertempuran iman Israel dengan mendirikan mezbah dan menamai-Nya sebagai “Tuhanlah alamatku.” Perayaan ini menegaskan perlindungan dan kepemimpinan ilahi atas umat-Nya di tengah pergumulan, sekaligus menegaskan identitas Tuhan sebagai IAQ yang aktif membela umat-Nya.
Konteks sastra dan alur naratif
Kisah air mengalir di Refidim (Kel. 17:1-7) memperlihatkan bangsa Israel menghadapi kekurangan air, lalu Tuhan menyediakan air dari batu melalui Musa. Setelah itu, kemenangan atas Amalek terjadi berkat intervensi Tuhan melalui tangan Musa. Dalam kaitan ini, Musa mendirikan mezbah dan menamai-Nya sebagai Tuhan yang menjadi alamat (pusat) perlindungan umat-Nya. Mezbah tersebut berfungsi sebagai monument teologis: Allah hadir, memedulikan, dan memanggul umat-Nya dalam perjalanan panjang di padang gurun.
Penafsiran teologis dan makna doa syukur
Nama yang dipakai—“Tuhanlah alamatku” (YHWH nissi dalam beberapa versi bahasa Ibrani)—menyiratkan bahwa Allah adalah panji perlindungan, pegangan kontak, dan tujuan keselamatan bagi umat-Nya. Dalam konteks peperangan rohani maupun fisik, Tuhan bukan sekadar penyedia kebutuhan, melainkan pusat identitas komunitas.Israel tidak mengandalkan strategi manusia, melainkan kehadiran Allah yang mengatur jalan ke depan. Gagasan ini juga menegaskan bahwa perjumpaan dengan ilahiyah tidak hanya momen penyelamatan, tetapi sebuah lokasi tetap bagi iman umat-Nya.
Cuplikan pandangan tokoh teologi publik domain lama (tanpa kutipan panjang)
Para komentator Purba seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa mezbah ini adalah tanda syukur sekaligus deklarasi iman. Mereka menyoroti bahwa keselamatan tidak semata-mata peristiwa, melainkan relasi yang berlanjut dengan Allah yang memimpin dan membela.
Hubungan dengan bagian Alkitab lainnya
Pertanyaan refleksi
Kesimpulan singkat
Kelanjutan perjumpaan Israel dengan Tuhan di padang gurun difokuskan pada penyataan identitas Allah sebagai sumber perlindungan dan arah hidup. Dengan mendirikan mezbah dan menamai-Nya sebagai alamat umat, Musa menegaskan keyakinan bahwa Allah menghadirkan keselamatan dan memimpin langkah bangsa-Nya. Dalam iman kita, pesan ini menguatkan bahwa penyataan Tuhan sebagai pusat hidup tidak hanya merayakan kemenangan masa lalu, tetapi membentuk pola hubungan yang berkelanjutan dengan Allah yang setia.
Catatan singkat historis-teologis: Pernyataan ini mempresentasikan sikap syukur dan pemeliharaan ilahi, sesuai pemahaman para komentator publik domain lama. Potongan pandangan Henry, Barnes, dan Clarke menekankan arti mezbah sebagai pengakuan iman, bukan sekadar upaya ritus.