Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiEster 5:14 Tafsiran ayat Alkitab
Ester 5:14 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka kata Zeresy, bininya, dan segala sahabatnyapun kepadanya: Baiklah diperbuatkan sebatang tiang kayu, lima puluh hasta tingginya, dan persembahkanlah kepada baginda pada esok hari, bahwa Mordekhai akan digantungkan padanya, lalu pergilah serta baginda kepada perjamuan itu dengan sukacita hatimu. Maka baiklah bicara ini kepada pemandangan Haman, lalu disuruhnya perbuatkan kayu pegantungan itu.
Ester 5:14 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ester 5:14 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ester 6:4 (IDN) »
Lalu titah baginda: Siapakah di penghadapan itu? Adapun Haman itu sudah datang ke penghadapan yang di luar istana baginda, hendak mempersembahkan kepada baginda hal Mordekhai akan digantungkan kelak pada batang kayu yang telah diperbuatnya akan dia.

Ester 7:9 (IDN) »
Maka sembah Kharbona, seorang sida-sida di hadapan baginda: Bahwasanya tiang kayu perbuatan Haman akan Mordekhai, yang sudah mengatakan selamat duli tuanku, ia itu terdiri dekat dengan rumah Haman, tingginya lima puluh hasta. Maka titah baginda: Gantungkanlah dia pada kayu itu.

1 Raja-raja 21:7 (IDN) »
Maka kata Izebel, isterinya, kepadanya: Sekarangpun hendaklah kakanda menyatakan kerajaan kakanda atas orang Israel. Bangkitlah berdiri, santaplah roti dan senangkanlah hati kakanda; bahwa adinda juga memberikan kepada kakanda kelak kebun anggur Nabot, orang Yizrieli itu.
Inti Interpretasi: Rencana Haman dan Tekad untuk Menghukum Mordekhai
Pada Ester 5:14, kita melihat puncak konfrontasi batin antara kebijaksanaan raja, tipu daya Haman, dan iman Mordekhai yang terus tegar. Ketika Ester menghadapi pilihan sulit—mengundang raja dan Haman ke jamuan serta mengungkap identitas Mordekhai—Raja Ahasyerus cenderung menuruti kehendak hati sendiri. Namun pernyataan Zeresy, istri Haman, dan para sahabatnya menegaskan bahwa reaksi emosional yang berlebihan dapat mengantar umat Allah pada hukum balas dendam duniawi, daripada keadilan ilahi. Mereka merencanakan sebuah tebang pilih yang kelak akan membinasakan Mordekhai, dengan memohonkan tiang gantungan yang tinggi bagi orang yang menentang sang raja. Ayat ini menandakan bagaimana godaan balas dendam bisa menjerat bahkan orang-orang dekat raja, sementara Mordekhai yang setia akan dipanggil untuk menghadapi konsekuensi yang lebih besar di hadapan Tuhan.
1) Latar sastra dan konteks naratif
Sejak awal pasal ini, suasana tegang antara Mordekhai dan Haman meningkat. Ester telah menanggung ketakutan dan harapan bangsa Israel sambil menyeimbangkan hubungan dengan raja. Ayat 14 menunjukkan nasihat para penasihat Haman yang mendorong tekad untuk menghukum Mordekhai secara publik. Mereka memoptimalkan kebencian pribadi menjadi makna politik, sebuah pola yang sering dikenali dalam kisah perlawanan terhadap umat Tuhan: keinginan untuk membungkam penasehat yang menuntun keadilan, bukan sekadar memenangkan perang duniawi.
2) Signifikansi teologis
Secara teologis, bagian ini menggambarkan bagaimana niat jahat bisa dibetot ke dalam takdir yang lebih besar di tangan Allah. Ayat-ayat berikutnya memperlihatkan bahwa Tuhan menggunakan rencana jahat untuk menyusun pembukaan pemeliharaan-Nya atas umat-Nya melalui Ester dan Mordekhai. Walau jarak antara rencana manusia dan rencana Tuhan tampak nyata, Tuhan bekerja diam-diam di balik layar untuk meluruskan keyakinan umat-Nya dan mengecoh rencana kejahatan dengan cara-Nya yang benar.
3) Perbandingan dengan sumber-sumber komentar publik domaine (tanpa kutipan panjang)
Beberapa penafsir publik domain menyoroti bahwa tindakan Haman dan pihak-pihaknya adalah contoh dari tipu daya manusia yang menggandeng kekuasaan untuk membungkam kebenaran. Mereka menekankan bahwa keadilan ilahi sering berjalan di jalur yang berbeda dari keinginan manusia, menantang pembaca untuk tidak mengandalkan kekuatan duniawi saat menghadapi ancaman terhadap iman. Ringkasnya, penekanan karakter Mordekhai yang menolak tunduk pada tekanan sosial dan ketekunan Ester menjadi teladan bagi orang percaya ketika dihadapkan pada tekanan untuk menyerah pada cara-cara duniawi.
4) Tahap penghubung Alkitab (cross-references)
- Ayub 1:21-22: Ketika kehilangan menimpa, keyakinan pada kedaulatan Tuhan tidak luntur. Dalam Ester 5:14, kita melihat bagaimana tekad iman Mordekhai dan penundukan Ester pada kehendak Tuhan mengungkap kebenaran bahwa Allah memberi arti lebih besar pada penderitaan.
- Roma 8:28: Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Ayat-ayat Ester menunjukkan bagaimana rencana manusia yang kelihatan jahat dapat diubah menjadi karya keselamatan bagi bangsanya.
- Amsal 21:30-31: "Biarlah rencana manusia gagal, tetapi Tuhan yang menggenapkan." Ayat ini menegaskan bahwa meskipun manusia merencanakan tindakan kejam, Tuhan memiliki kendali akhir atas jalan cerita umat-Nya.
5) Pertanyaan refleksi
6) Kesimpulan
Ester 5:14 menampilkan bahaya rencana balas dendam yang dipromosikan oleh sekutu duniawi. Dalam tengah-tengah kekuasaan dan intrik, Tuhan mempersiapkan jalannya pembebasan melalui keberanian Ester dan kesetiaan Mordekhai. Kisah ini mendorong pembaca untuk bersandar pada hikmat Tuhan, menolak godaan untuk menyelesaikan perkara dengan kekerasan, dan percaya bahwa Allah bekerja melalui rencana-Nya yang lebih besar untuk memelihara umat-Nya.